Enam buruh tani tersambar petir saat berteduh di gubuk Desa Gandatapa, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas. Dalam peristiwa tersebut, satu orang dinyatakan meninggal dunia, sedangkan lima korban lainnya masih menjalani perawatan.
Peristiwa itu terjadi pada Minggu (1/2/2026) pukul 14.30 WIB di kebun cabai milik Sugiyanto, tepatnya di RT 006 RW 006 Desa Gandatapa. Kala itu terjadi hujan deras disertai petir, sehingga para buruh kebun cabai itu berteduh.
"Pada saat hujan deras disertai petir, enam orang buruh tani berteduh di gubuk kebun cabai. Tiba-tiba petir menyambar lokasi tersebut dan mengenai seluruh korban yang sedang berteduh," kata Kapolsek Sumbang AKP Basuki dalam keterangan tertulisnya, Minggu (1/2/2026) malam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menjelaskan akibat sambaran petir tersebut, satu korban atas nama Tutur Tinarso (47), warga Desa Gandatapa, meninggal dunia. Korban ditemukan dalam kondisi terkapar dengan luka bakar di bagian dada.
"Korban atas nama Tutur Tinarso dinyatakan meninggal dunia sebelum tiba di RSUD Margono Soekarjo Purwokerto dengan luka bakar pada area dada," jelasnya.
Sementara lima korban lainnya masing-masing bernama Kartum (49), Sulam (41), Misrun (57), Komari (51), dan Roni Ahmadi (33). Seluruh korban sempat terkapar di dalam gubuk kebun setelah petir menyambar.
Menurut Basuki, peristiwa itu pertama kali diketahui oleh warga sekitar yang kemudian berteriak meminta pertolongan. Sejumlah warga bersama Babinsa setempat langsung mendatangi lokasi dan melakukan evakuasi menggunakan tandu.
"Empat korban sempat dibawa ke Puskesmas II Sumbang untuk mendapatkan penanganan awal. Karena keterbatasan peralatan, seluruh korban kemudian dirujuk ke RSUD Margono Soekarjo Purwokerto, termasuk dua korban yang langsung dibawa menggunakan ambulans karena mengalami luka bakar," ungkapnya.
Berdasarkan hasil pemeriksaan medis di RSUD Margono Soekarjo, kata Basuki, kondisi para korban mengalami sejumlah luka. Mulai dari luka bakar ringan, keluhan sakit kepala, mual, menggigil, hingga kelemahan pada anggota gerak.
"Untuk korban Sulam mengalami kelemahan pada anggota gerak bawah dan tangan kanan. Korban Komari mengalami kelemahan pada anggota gerak bawah tanpa luka bakar. Korban Roni sempat pingsan, mengeluh sakit kepala, menggigil dan mual," terangnya.
"Kartum mengalami luka bakar ringan di siku kanan dan pergelangan tangan kanan. Sedangkan Misrun dalam kondisi sadar dengan keluhan sakit kepala dan menggigil," lanjut dia.
Selain korban jiwa, dalam kejadian tersebut juga terdapat kerugian materi berupa satu unit telepon genggam milik korban Tutur Tinarso yang dilaporkan rusak dan gosong akibat sambaran petir.
Basuki menambahkan pihak keluarga korban telah menerima peristiwa tersebut sebagai musibah dan menola autopsi terhadap korban meninggal.
"Keluarga korban sudah membuat surat pernyataan menerima kejadian ini sebagai musibah dan tidak menghendaki dilakukan autopsi," ujarnya.
Terkait penyebab sambaran petir, Basuki menyebutkan kejadian tersebut murni akibat faktor cuaca saat hujan lebat disertai petir.
"Peristiwa terjadi saat hujan deras dan petir menyambar secara tiba-tiba. Ada dugaan sambaran dipicu oleh sinyal handphone yang dibawa salah satu korban," pungkasnya.
(ams/ams)
