17 Ribu Hektare Sawah di Jateng Terdampak Banjir, Terparah di Pati

17 Ribu Hektare Sawah di Jateng Terdampak Banjir, Terparah di Pati

Arina Zulfa Ul Haq - detikJateng
Minggu, 01 Feb 2026 17:01 WIB
Petani memanen padi yang terendam banjir di Desa Nusadadi, Sumpiuh, Banyumas, Jateng, Jumat (18/22/2022). Ratusan hektar padi siap panen rusak terendam banjir yang kembali menggenangi rumah warga dan area persawahan, akibat hujan deras pada Jumat (18/3/2022) dini hari. ANTARA FOTO/Idhad Zakaria/rwa.
Ilustrasi sawah terendam banjir. (Foto: ANTARA FOTO/IDHAD ZAKARIA)
Semarang -

Bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Jawa Tengah (Jateng) berdampak pada sektor pertanian. Tercatat, ada 17 ribu hektare (ha) lahan sawah terendam banjir.

Hal itu dikatakan Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Provinsi Jateng, Defrancisco Dasilva Tavares. Ia menyebut, dari 17 ribu ha sawah terdampak, mayoritas mengalami puso atau gagal panen.

"Untuk lahan pertanian, khususnya padi, yang terdampak sekitar 17 ribu hektare. Dari jumlah itu, ribuan hektare mengalami puso," kata Frans saat dihubungi detikJateng, Minggu (1/2/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menyebut, lahan sawah terdampak bencana tersebar di sejumlah kabupaten, antara lain Pati, Kudus, Jepara, Demak, Pemalang, hingga Purbalingga.

ADVERTISEMENT

"Paling banyak di Pati, karena ada 6.726 ha dan yang pusp 5.764 ha. Terus yang Kudus ada 2.110 ha yang terdampak tapi yang puso atau rusak itu 1.282 ha, Jepara 4.166 ha lahan," ungkapnya.

Menurut Frans, meski bencana menyebabkan kerusakan lahan, dampaknya terhadap total produksi padi Jateng relatif kecil, hanya sekitar 4 persen.

"Kalau dilihat dari total produksi, kehilangan produksi maksimal sekitar 4 persen. Itu sudah termasuk dampak banjir, kekeringan, sampai serangan organisme pengganggu tanaman," ungkapnya.

Frans menjelaskan Pemprov Jateng telah menyiapkan skema perlindungan melalui asuransi usaha tani padi (AUTP). Pada 2026, luas lahan yang diasuransikan mencapai 10.130 ha dengan premi ditanggung penuh melalui APBD Provinsi Jateng.

"Petani tidak menanggung premi. Berbeda dengan sebelumnya yang masih ada porsi petani, dulu hanya 80 persen, sekarang 100 persen ditanggung APBD," katanya.

Distanbun menjelaskan lahan yang belum termasuk asuransi bakal mendapatkan bantuan penggantian berupa benih, pupuk, dan sarana produksi lainnya. Khususnya bagi petani yang tanamannya rusak di masa awal tanam.

"Tapi kalau yang barusan tanam terus kena banjir itu kita lakukan penggantian dengan bantuan benih, pupuk, untuk menggantikan yang misalnya baru 2 minggu tanam dan sebagainya," jelasnya.

"Jadi mereka bisa mempersiapkan kembali bibitnya, nanti mudah-mudahan di akhir atau di pertengahan bulan Februari mungkin hujan sudah mereda, bisa dilakukan transplant untuk tanam penggantinya lagi," sambungnya.

Ia pun mengimbau petani untuk aktif melaporkan dampak bencana melalui penyuluh pertanian lapangan agar pemerintah bisa segera melakukan pendataan dan tindak lanjut.

"Intinya dinas pasti hadir. Yang penting dilaporkan agar bisa segera kami koordinasikan dan ditangani," pungkasnya.



(azu/ams)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads