Silsilah Adipati Mangkunegara dari Awal Berdiri hingga Sekarang dan Profilnya

Silsilah Adipati Mangkunegara dari Awal Berdiri hingga Sekarang dan Profilnya

Nur Umar Akashi - detikJateng
Selasa, 27 Jan 2026 17:49 WIB
Silsilah Adipati Mangkunegara dari Awal Berdiri hingga Sekarang dan Profilnya
Pura Mangkunegaran. (Foto: Crisco 1492/Wikimedia Commons/CC BY-SA 3.0)
Solo -

Dalam sejarahnya, Kadipaten Mangkunegaran didirikan oleh Raden Mas Said pada tahun 1757. Ia naik tahta sebagai adipati Mangkunegara dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara I.

Dirujuk dari laman resminya, pendirian kadipaten ini tidak terlepas dari Perjanjian Salatiga pada 17 Maret 1757. Kesepakatan itu memberi hak KGPAA Mangkunegara I untuk memerintah wilayah Kaduang, Nglaroh, Matesih, Wiroko, Haribaya, Honggobayan, hingga Pajang.

Sepeninggal Raden Mas Said, berturut-turut sejumlah adipati naik ke kursi kepemimpinan Kadipaten Mangkunegaran. Ada siapa saja? Berikut silsilah ringkasnya dari awal berdiri sampai sekarang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Profil Adipati Mangkunegara dari Awal Berdiri hingga Sekarang

1. Raden Mas Said (1757-1795)

Menurut informasi dari buku Ensiklopedi Raja-Raja dan Istri-Istri Raja di Tanah Jawa oleh Krisna Bayu Adji, Raden Mas Said adalah putra dari Pangeran Arya Mangkunagara dan Raden Ajeng Wulan. Pendiri Kadipaten Mangkunegaran ini juga dikenal dengan nama Pangeran Sambernyawa.

ADVERTISEMENT

Sepak terjangnya dimulai saat bergabung dengan pasukan Sunan Kuning dalam peristiwa pemberontakan orang-orang China tahun 1740-an. Ia sempat didapuk menjadi panglima dengan Pangeran Perang Wedana Pamot Busur.

Dalam perkembangan selanjutnya, Raden Mas Said bekerja sama dengan Pangeran Mangkubumi untuk menghadapi VOC dan Paku Buwono II. Merasa dikhianati akibat Perjanjian Giyanti, Pangeran Sambernyawa berbalik memusuhi bekas rekan sekaligus kakak iparnya itu.

Perlawanannya yang merepotkan 3 pihak, yakni VOC, Kasultanan Ngayogyakarta, dan Kasunanan Surakarta, berujung Perjanjian Salatiga. Perjanjian itu mengukuhkannya sebagai penguasa pertama Mangkunegaran.

Raden Mas Said meninggal dunia pada 28 Desember 1795. Di antara warisannya adalah gubahan seni tari yang elok, seperti tari Bedhaya Mataram Senapaten Anglir mendung dan Bedhaya Mataram Senapaten Diradameta.

2. Raden Mas Sulomo (1796-1835)

KGPAA Mangkunegara II yang bernama asli Raden Mas Sulomo adalah cucu dari KGPAA Mangkunegara I. Penguasa kedua Mangkunegaran ini adalah putra dari Kanjeng Pangeran Arya Prabuwijoyo dan Kanjeng Ratu Alit.

Dilansir dokumen unggahan Digilib Universitas Lampung, masa pemerintahan KGPAA Mangkunegara II disibukkan dengan perang dan perluasan wilayah. Tercatat, wilayah Mangkunegaran bertambah dari 4.000 menjadi 5.500 cacah.

Sebagai penguasa visioner, Mangkunegara II membentuk Legiun Mangkunegaran yang legendaris dengan mengadopsi konsep Grande Armee Prancis-nya Napoleon Bonaparte. Legiun Mangkunegaran diketahui ambil aksi dalam menghadapi perlawanan Pangeran Diponegoro.

3. Raden Mas Sarengat (1835-1853)

Pengganti Raden Mas Sulomo adalah Raden Mas Sarengat. Adipati ketiga Mangkunegaran yang bergelar KGPAA Mangkunegara III ini memerintah selama 18 tahun, dari 29 Januari 1835 hingga 6 Januari 1853.

Diringkas dari buku Budaya Komunikasi dalam Pura Mangkunegaran oleh Basuki Agus Suparno dkk, sejak kecil, Raden Mas Sarengat yang juga dikenal dengan nama Raden Mas Galemboh punya minat di bidang keprajuritan. Karenanya, tidak mengherankan jika ia membantu Mangkunegara II memimpin Legiun Mangkunegaran menghadapi pasukan Pangeran Diponegoro.

Selain mendampingi ayah sambungnya, Raden Mas Sarengat juga pernah bekerja sama dengan Jenderal Van Geen untuk menumpas pemberontakan di Jatinom dan Kapurun. Sosoknya diketahui memperoleh penghargaan Belanda berupa bintang militer pangkat 4.

Raden Mas Sarengat mangkat pada 16 Januari 1853 dalam usia 50 tahun. Di antara peninggalannya adalah penataan bidang kepolisian dan pengadilan sehingga berfungsi optimal serta pembangunan pesanggrahan di Wanagiri.

4. Raden Mas Sudira (1853-1881)

Pemimpin keempat Kadipaten Mangkunegaran adalah Raden Mas Sudira, putra dari KPH Adiwijaya I dan Raden Ajeng Sekeli. Diketahui, Raden Mas Sudira lahir pada 3 Maret 1811. Sejak kecil, ia diasuh Mangkunegara II, kemudian dilanjutkan Mangkunegara III.

Sama seperti pendahulunya, adipati bergelar KGPAA Mangkunegara IV ini mencatatkan nama di bidang militer. Diketahui, ia mengikuti Mangkunegara II saat berkonfrontasi melawan Pangeran Diponegoro.

Mangkunegara IV meninggalkan sejumlah bangunan yang sampai sekarang masih bisa dilihat arsitekturnya. Sebut saja Pabrik Gula Colomadu dan Tasikmadu. Raden Mas Sudira juga memprakarsai berdirinya Stasiun Solo Balapan.

Keberhasilan itu tidak terlepas dari fokusnya untuk memperbaiki keadaan ekonomi kadipaten. Rakyatnya makmur, tercukupi semua kebutuhan-kebutuhan pokoknya. Kondisi positif sedemikian rupa memampukan seni budaya berkembang pesat.

Sang adipati terjun langsung dalam penciptaan karya-karya seni itu. Contohnya, ia menciptakan wayang Kyai Sebet dan Kyai Kadung. Pemimpin yang memerintah lebih dari 25 tahun ini juga menelurkan tari Wireng.

5. Raden Mas Samekto (1881-1896)

Pria bergelar KGPAA Mangkunegara V ini merupakan putra kedua Raden Mas Sudira. Ia dinobatkan menjadi adipati Mangkunegara pada 3 September 1881 oleh Residen Surakarta bernama PA Mates.

Selama memerintah, Mangkunegara V memberi perhatian penuh pada urusan kesenian alih-alih urusan ekonomi. Karenanya, kondisi perekonomian sempat bermasalah akibat persaingan dagang dengan kompeni. Hasilnya, para pegawai tidak bisa digaji. Belum lagi pabrik gula mengalami defisit anggaran akibat kesalahan manajemen.

KGPAA Mangkunegara V wafat pada 1 Oktober atau 2 Oktober 1896 ketika berkuda di Hutan Kutu di daerah Wonogiri. Sebelum menghembuskan napas terakhir, ia berjuang keras menghadapi penyakit usus buntu.

6. Raden Mas Suyitno (1896-1916)

Di bawah visi dan pengarahan Raden Mas Suyitno yang bergelar KGPAA Mangkunegara VI, masalah-masalah ekonomi membaik. Kas kerajaan yang kosong akibat utang ke Belanda dan sederet faktor lain mulai terisi kembali.

Perbaikan ini bisa dicapai berkat pengelolaan keuangan yang hati-hati dan serba hemat. Mangkunegara VI juga menggenjot perekonomian di desa-desa tradisional dengan membangun perkebunan kopi, nila, maupun tebu.

Raden Mas Suyitno diketahui mempelopori kebijakan model rambut pendek. Ia melarang rakyat dan pejabatnya berambut panjang. Mangkunegara VI juga mengubah sistem tata krama, terlihat dengan kewajiban penghormatan kepada raja yang dibatasi sebanyak 3 kali saja. Ia pun mengganti kebiasaan duduk di lantai dengan duduk di atas kursi.

Pada akhir masa pemerintahannya, Mangkunegara V ingin putranya menjadi penerus. Namun, keinginan itu diveto oleh Belanda dan kerabat. Alhasil, adipati keenam Mangkunegaran ini mengundurkan diri dan bermukim bersama keluarganya di Surabaya hingga maut menjemput tanggal 24 Juni 1928.

7. Raden Mas Surya Suparta (1916-1944)

Selepas Mangkunegara V meninggalkan tahta pada tahun 1916, Kadipaten Mangkunegaran mengangkat Raden Mas Surya Suparta sebagai adipati baru. Ia merupakan putra Mangkunegara V yang lahir pada 12 Desember 1885.

Semasa memegang tongkat pemerintahan, Raden Mas Surya Suparta membangun sarana prasarana perhubungan dengan menambah jumlah jalan dan jembatan. Kebijakan ini memampukan sektor perdagangan berkembang pesat.

Raden Mas Surya Suparta yang bergelar KGPAA Mangkunegara VII juga mengatur irigasi pertanian dengan apik. Ia mengatasi masalah kekurangan air dengan membuat bendungan dan waduk besar, antara lain Waduk Kedungulingan, Waduk Tirtamarta, dan Waduk Tengklik.

Di bidang pendidikan, Raden Mas Surya Suparta menambah jumlah sekolah desa dari 19 menjadi 127 buah. Mangkunegara VII diketahui membuka pula kursus guru desa dan sekolah putri Kopschool serta Siswarini.

8. Raden Mas Sarosa (1944-1987)

Penguasa Kadipaten Mangkunegaran kedelapan adalah Raden Mas Sarosa. Ia lahir pada 1 Januari 1920. Selang 55 tahun kemudian, tepatnya pada 19 Juli 1975, Raden Mas Sarosa dinobatkan sebagai KGPAA Mangkunegara VIII.

Pemerintahan Raden Mas Sarosa beririsan dengan zaman kolonial Belanda dan kemerdekaan Republik Indonesia. Kadipaten Mangkunegaran menghadapi perubahan arus politik yang hebat sehingga sulit memosisikan diri. Terhitung mulai 1950, kadipaten ini dimasukkan ke dalam Provinsi Jawa Tengah.

9. Gusti Pangeran Haryo Sudjiwo Kusumo (1987-2021)

Ia merupakan putra kedua dari Mangkunegara VIII. Kembali dilihat di situs resmi Mangkunegaran, Pangeran Sudjiwo Kusumo merupakan pemimpin pertama Mangkunegaran yang diangkat pasca-Indonesia merdeka.

Pengukuhannya digelar pada 24 Januari 1988. Dengannya, Pangeran Kusumo resmi menyandang gelar KGPAA Mangkunegara IX. Sedari awal, putra Mangkunegara VIII ini sudah berambisi untuk membangkitkan perekonomian Mangkunegaran melalui skema bisnis.

Di samping perekonomian, Mangkunegara IX berkeinginan kuat memperkenalkan seni ke dunia luar. Hal tersebut diwujudkannya dengan menjalankan Lawatan Misi Kesenian Mangkunegaran ke Prancis, Inggris, dan Jepang. Ia berangkat sendiri ke Jepang untuk memimpin rombongan.

Sebagai seorang pencinta seni, Mangkunegara IX menghasilkan sejumlah karya. Beberapa di antaranya adalah tari Bedhaya Surya Sumirat, tari Kontemporer Krisis, tari Harjuna Sasrabahu, dan tari Puspita Ratna.

Pemilik nama kecil Pangeran Sudjiwo Kusumo ini meninggal dunia pada 13 Agustus 2021 lalu. Jenazahnya dikebumikan di Astana Girilayu, Matesih, Karanganyar.

10. Gusti Pangeran Haryo Bhre Cakrahutomo Wira Sudjiwo (2022-Sekarang)

Saat ini, penguasa Kadipaten Mangkunegaran adalah Gusti Pangeran Haryo Bhre Cakrahutomo Wira Sudjiwo. Ia lahir pada 29 Maret 1997 dan dinobatkan menjadi KGPAA Mangkunegara X pada 12 Maret 2022.

Menurut informasi dari laman Mangkunegaran, Mangkunegara X mengusung visi 'Culture-Future' dalam memimpin. Visi ini berfokus pada pengembangan budaya yang berakar pada sejarah sehingga tetap relevan untuk masa sekarang sekaligus bermanfaat untuk masa depan.

Demikian pembahasan ringkas mengenai silsilah adipati Mangkunegara dan profil ringkasnya. Semoga menambah wawasan detikers, ya!




(sto/aku)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads