Mendengar tentang pohon randu alas, beberapa orang mungkin bakal bergidik ngeri mengingat mitos-mitos yang ada di balik itu semua. Terlebih lagi mitos pohon randu alas juga agaknya berkembang secara turun-temurun yang membuatnya mengakar dengan kuat di tengah-tengah kalangan masyarakat, termasuk di Jawa. Lantas, bagaimana kisahnya?
Sebelumnya, mari mengenal terlebih dahulu tentang pohon randu alas. Nama pohon yang satu ini bukan hanya sebuah perumpamaan, tapi benar-benar ada. Mengutip dari 'Buletin Kebun Raya Indrokilo Volume 4 Edisi Agustus 2022' yang diterbitkan oleh Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Boyolali, pohon randu alas memiliki nama Latin Bombax ceiba.
Pohon randu alas terkenal akan ukurannya yang begitu besar. Diperkirakan pohon randu alas bisa mencapai tinggi 25 meter atau bahkan lebih. Ada juga keunikan dari pohon randu alas dengan adanya bunga yang saat mekar berwarna merah dan buah warna hijau muda sampai cokelat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di balik keunikannya ini, tersimpan mitos-mitos yang berkembang di masyarakat. Apa sajakah itu? Mari simak ulasan informasinya.
Poin Utamanya:
- Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, pohon randu alas diyakini memiliki unsur sakral, sering dianggap sebagai tempat bersemayam makhluk halus, sehingga enggan ditebang dan dibiarkan tumbuh begitu saja.
- Mitos randu alas berkembang dari kisah sejarah dan cerita rakyat, mulai dari penanda batas desa pada masa Kerajaan Mataram Islam hingga legenda dari Bugis tentang jelmaan seorang gadis, yang memperkuat anggapan bahwa pohon ini pantang ditebang sembarangan.
- Di balik mitosnya, randu alas memiliki manfaat, seperti berfungsi sebagai peneduh, penghasil kayu, dan bahan obat tradisional, terutama bunganya yang dalam pengobatan herbal digunakan untuk membantu meredakan demam, diare, dan sebagai diuretik alami.
Kepercayaan Masyarakat Jawa soal Randu Alas
Terdapat kepercayaan yang sudah turun-temurun diyakini oleh sebagian kalangan masyarakat di Jawa. Terutama soal keberadaan pohon randu alas ini.
Menurut buku 'Tanaman Kultural dalam Perspektif Adat Jawa: Kajian Aspek Filosofi, Konservasi dan Pemanfaatan Tanaman dalam Kultur dan Tradisi Jawa' tulisan Purnomo, konon, randu alas disebut sebagai tempat bersarangnya makhluk halus. Beberapa masyarakat sejak dulu menganggap pohon randu alas sebagai rumah bagi makhluk-makhluk ghaib.
Inilah yang menjadi alasan beberapa pemilik pohon randu alas tidak memiliki keberanian yang cukup dalam menebangnya. Saat ada pohon randu alas yang tumbuh di pekarangan rumah, mereka akan membiarkannya begitu saja.
Lebih lanjut, randu alas juga termasuk dalam pepatah Jawa yang memiliki filosofi mendalam. Seperti halnya dijelaskan dalam buku 'Karya Lengkap Driyarkara' oleh A Sudiarja, SJ, yang menyebut ada sebuah rumusan dalam kepercayaan Jawa mengenai hubungan antara jiwa dan badan.
Rumusan tersebut melibatkan 'randu alas' atau badan dan 'mrambat witing kesimbukan' atau jiwa. Dengan begitu, rumusan tersebut memiliki filosofi tentang badan yang tidak berdiri sendiri, melainkan berada dalam adanya jiwa itu sendiri.
Bagaimana Kisah Mitos Pohon Randu Alas Bermula?
Masih mengacu dari buku yang sama, yaitu 'Tanaman Kultural dalam Perspektif Adat Jawa: Kajian Aspek Filosofi, Konservasi dan Pemanfaatan Tanaman dalam Kultur dan Tradisi Jawa', salah satu kisah yang membuat mitos-mitos mengenai randu alas muncul berasal dari kerajaan kuno yang pernah menguasai Pulau Jawa. Salah satunya kisah tentang Kerajaan Mataram Islam.
Konon, di zaman Kerajaan Mataram Islam masih berjaya di Pulau Jawa, pohon randu alas adalah tanaman yang cukup dijaga dengan begitu baiknya. Sebab, pada saat itu, pohon randu alas dijadikan sebagai penanda batas desa yang satu dengan yang lainnya.
Kemudian sejak zaman dahulu, buah yang dihasilkan oleh pohon randu alas juga sebenarnya bisa dimanfaatkan oleh masyarakat. Salah satunya dijadikan sebagai isian bantal atau kasur mereka. Mengapa? Alasannya karena buah pohon randu alas ini berfungsi serupa tanaman kapuk, yang mana menghasilkan bulu-bulu halus.
Kendati begitu, karena adanya kepercayaan yang cukup sakral soal pohon randu alas, maka hal tersebut tidak dilakukan oleh masyarakat. Ada juga kisah mitos pohon randu alas yang berasal dari kepercayaan yang berasal dari masyarakat Bugis.
Berdasarkan kisah yang berkembang di masyarakat sekitar, dulunya pohon randu termasuk jenis tanaman yang pantang untuk ditebang. Ini dikarenakan kepercayaan mereka tentang pohon randu yang merupakan titisan sosok di masa lalu.
Kabarnya, dahulu kala terdapat seorang dara yang memiliki paras cantik dan jelita. Kecantikannya ini tersebar di seluruh wilayah Tanah Bugis, sehingga membuat ada begitu banyak pria datang mendekati.
Berbondong-bondong pria yang gagah hingga para pangeran sengaja datang untuk mempersuntingnya. Bahkan mereka rela mempertaruhkan nyawa demi merebut hati sang gadis. Hingga suatu ketika, di tengah usaha para pria mencoba menculik gadis tersebut, secara tiba-tiba sang gadis justru hilang.
Keanehan terjadi lantaran tempat hilangnya gadis tersebut justru muncul pohon randu. Sejak saat itulah pohon randu termasuk tanaman yang termasuk dalam pantangan untuk ditebang dengan sembarangan.
Manfaat Pohon Randu Alas
Terlepas dari mitos-mitos yang mengiringinya, pohon randu alas ternyata bermanfaat bagi manusia. Disebutkan dalam buku karya Deniek G Sukarya yang bertajuk 'Panduan Praktis Mengenal Tumbuhan di Sekitar Kita', pohon randu alas dikenal tumbuh secara optimal di lokasi yang beriklim kering dan terbuka.
Kemudian pohon randu alas juga dapat dijadikan sebagai pohon peneduh hingga penghasil kayu. Dengan cara tertentu, bagian dari pohon ini juga dapat dijadikan sebagai tanaman obat tradisional. Misalnya saja pada bagian bunganya.
Menurut 'Kitab Obat Tradisional Cina' tulisan Ajeng Wind, dalam pengobatan herbal Cina pohon randu alas disebut sebagai 'mu mian hua'. Bagian yang kerap dimanfaatkan adalah bunganya.
Saat diolah sedemikian rupa, bunga dari pohon ini memberikan sensasi yang hambar, sedikit manis, dan dingin. Ada berbagai kandungan yang dapat ditemukan di dalamnya. Sebut saja saponin, flavonoid, polifenol, sampai hidrat arang.
Biasanya 'mu mian hua' ini akan dimanfaatkan untuk meredakan demam, meringankan diare atau disentri, hingga berperan sebagai diuretik alami. Cara mengolahnya dengan menggunakan bunga pohon randu alas yang sudah dikeringkan terlebih dahulu. Kemudian ambil 6-9 gram yang direbus di dalam air mendidih. Setelah 20 menit berlalu, air rebusan ini bisa dikonsumsi.
Namun, penelitian lebih lanjut diperlukan guna memastikan manfaat bunga pohon randu alas beserta efek sampingnya bagi kesehatan. Informasi tadi dapat dijadikan sebagai referensi bacaan.
Dengan mengetahui mitos pohon randu alas dapat memberikan gambaran tentang budaya yang mengakar kuat di tengah-tengah masyarakat. Semoga informasi tadi dapat menambah wawasan baru, ya.
(sto/ahr)











































