Kisah Jalur Alas Roban Batang yang Angker, Apa Saja Mitosnya?

Kisah Jalur Alas Roban Batang yang Angker, Apa Saja Mitosnya?

Nur Umar Akashi - detikJateng
Senin, 12 Jan 2026 14:59 WIB
Jalur Alas Roban
Jalur Alas Roban. (Foto: wowo_s/Wikimedia Commons/CC BY 3.0)
Solo -

Menghubungkan Kota Batang dengan Semarang, Jalur Alas Roban sudah lama terkenal akan keangkerannya. Tak heran, berbagai macam mitos berkembang, diikuti adab-adab yang harus 'dipatuhi' para pengemudi yang melintas.

Dikutip dari buku Pesona 1000 Bulan tulisan Titing Kartika dkk, jalan di Alas Roban memang ekstrem berkat adanya tanjakan, turunan, dan tikungan. Bentuk berkelok-kelok ini disebabkan pembangunan jalan yang mengikuti lanskap hutan satu ini.

Tidak heran, banyak kecelakaan terjadi di Alas Roban selama bertahun-tahun. Belum lagi adanya teror dari kawanan Bajing Loncat yang kerap membegal kendaraan lewat, membuat para supir dihantui selama menempuh perjalanan. Korban terus berjatuhan hingga akhirnya pemerintah membangun jalur alternatif.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berdasar catatan detikJateng, pada era 1990 sampai 2000-an, pemerintah membangun dua jalur baru untuk mengurangi arus lalu lintas padat di Jalan Poncowati, jalan utama Alas Roban. Keduanya adalah Jalan Lingkar Selatan dan Jalan Pantura.

Keangkeran Jalur Alas Roban tidak lenyap begitu saja. Sampai sekarang, mitos-mitos mengenainya masih terus bertahan di pikiran masyarakat. Apa saja? Simak kisah Jalur Alas Roban di bawah ini, yuk!

ADVERTISEMENT

Poin Utamanya:

  • Yang pertama membuka Alas Roban adalah Sultan Agung Hanyakrakusuma. Alas Roban dibabat untuk dijadikan lahan pertanian.
  • Jalur Poncowati di Alas Roban dibangun pada masa Gubernur Jenderal Willem Daendels. Pada median 1990 sampai 2000-an, pemerintah membangun jalur alternatif lain di Alas Roban.
  • Di antara mitos Jalur Alas Roban adalah 'kewajiban' membunyikan klakson. Kemunculan monyet putih dan warung ghaib merupakan hal mistis di jalur ini.

Pembangunan Jalur Alas Roban yang Menelan Korban Jawa

Disadur dari buku Jalan Pos Daendels yang terbit tahun 2021, Jalur Alas Roban merupakan bagian proyek Jalan Raya Pos Gubernur Jenderal Willem Daendels. Pembangunan jalan ini melibatkan pekerja dari golongan pribumi.

Proses pengerjaan yang tidak manusiawi menyebabkan korban jiwa. Sistem kerja rodi alias kerja paksa membuat nyawa para pekerja melayang begitu saja, yang diyakini masyarakat berkontribusi atas keangkeran Jalur Alas Roban.

"Daendels membangun jalan di Alas Roban dengan mempekerjakan rakyat Indonesia melalui kerja rodi atau kerja paksa. Karena sistem kerja yang tidak manusiawi, banyak korban jiwa berjatuhan saat pembangunan jalur ini," tulis BPNB DI Yogyakarta di akun X-nya, @bpnbdiy.

Menurut informasi dari buku Angker: dari Lawang Sewu sampai Lubang Buaya yang terbit tahun 2014, jenazah para pekerja dikubur begitu saja di Jalur Alas Roban, tepat di bagian bawah jalan itu. Alhasil, Jalan Poncowati diyakini merupakan kuburan massal yang angker.

Jauh sebelum pembangunan jalan di Alas Roban era Daendels dimulai, konon, Sultan Agung Hanyakrakusuma telah terlebih dahulu membabat alias membuka Alas Roban. Disadur dari Studi Identifikasi Kearifan Lokal dalam Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana di Eks Karesidenan Pekalongan yang diunggah BPBD Provinsi Jateng, tugas itu diserahkan kepada Bahurekso.

Kala menjalankan tugas, Bahurekso dan para pekerjanya sering diganggu. Jin, setan, peri kayangan, dan siluman penjaga Alas Roban adalah biang kerok gangguan itu. Kabarnya, para makhluk halus tersebut menyebabkan anak buah Bahurekso banyak yang sakit dan meninggal dunia.

Namun, setelah Bahurekso mengalahkan para raja siluman Alas Roban, gangguan-gangguan itu berakhir. Berakhirnya penentangan ini diraih dengan satu syarat, yakni para raja siluman mendapat bagian panen. Sebagaimana diketahui, tujuan awal pembabatan Alas Roban adalah menjadikannya areal persawahan.

Asal-Muasal Julukan Jalur Tengkorak

Jalanan yang membelah Alas Roban dijuluki Jalur Tengkorak oleh masyarakat. Alasannya tidak lain tidak bukan adalah tingginya angka kecelakaan di jalan itu.

Contohnya, kecelakaan beruntun sederet truk di Jalan Lingkar Alas Roban pada 2022 lalu. Penyebabnya adalah rem blong yang dialami sebuah truk trailer. Truk tersebut hilang kendali dan menubruk truk boks di depannya, memicu rentetan tabrakan yang berujung meninggalnya seorang kernet.

Kurang lebih 6 tahun sebelumnya, ada juga kecelakaan bus penumpang yang bertabrakan dengan truk trailer. Dikutip dari detikNews, kecelakaan itu menyebabkan 6 orang meninggal dunia dan 42 lainnya luka-luka.

Selain medan berkelok-kelok dan turunan panjang yang berpotensi membuat sistem pengereman gagal berfungsi, Alas Roban juga minim penerangan. Kondisi ini membuat jarak pandang terbatas sehingga kemungkinan kecelakaan meningkat.

Membunyikan Klakson di Jalur Alas Roban

Berdasar penjelasan Putri Ayu Anggraeni dan Nasywa Hamidah di jurnal Qanuniya berjudul 'Pembentukan Norma Hukum Adat Melalui Transformasi Mitos Membunyikan Klakson di Jalan Alas Roban', salah satu mitos terkenal di jalur ini adalah aturan tak tertulis untuk membunyikan klakson. Apa alasannya?

Kebiasaan ini berakar dari mitos bahwasanya Alas Roban dihuni makhluk penjaga. Di antaranya adalah Ki Janggut Putih dan Nyi Putih. Demi menghormati keduanya, masyarakat yang melintas bakal menekan klakson kendaraannya.

Bukan hanya penghormatan, tradisi ini diyakini sekaligus mencegah datangnya gangguan. Apa lagi, Jalur Alas Roban terkenal dengan tingkat kecelakaan tinggi. Membunyikan klakson dianggap menjadi salah satu solusi atas masalah itu.

'Norma' membunyikan klakson ini tidak terbatas untuk warga setempat saja. Para pengemudi dari luar daerah pun melakukannya. Apabila lupa, mereka bakal ditegur, tentu secara informal, oleh masyarakat sekitar. Hal ini menunjukkan bahwasanya mitos membunyikan klakson telah bertransformasi menjadi norma adat yang mengikat.

Mitos lain yang tak kalah terkenal adalah warung ghaib. Kabarnya, warung tersebut muncul pada malam hari dan tampak normal. Para pengendara yang melintas dan mampir untuk makan baru menyadari keanehan setelah selesai, mulai dari harga yang tidak normal hingga penjual misterius.

Demikian sekilas kisah mengenai Jalur Alas Roban di Batang yang terkenal angker. Semoga bermanfaat!




(sto/apl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads