Kawasan Dieng sudah lama dikenal akan keindahan alamnya yang begitu memukau. Hamparan perkebunan teh hijau dengan latar belakang Gunung Sindoro di kejauhan benar-benar memanjakan mata siapa saja yang datang.
Di balik keindahan alam dan sejuta cerita kenangan wisatawan, Dieng menyimpan tragedi menyeramkan pada pertengahan abad ke-19. Sebut saja Legetang, sebuah dusun yang hilang tanpa jejak hanya dalam waktu semalam.
Dilansir situs resmi Kalurahan Karangmojo, Dusun Legetang berada di Desa Pekasiran, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara. Para penduduknya hidup makmur berkat kondisi tanah yang subur sehingga cocok dipakai bertani.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Semua berubah ketika alam melepaskan kendalinya pada suatu malam dan membuat Dusun Legetang, beserta seluruh warganya, lenyap seketika. Sebenarnya, apa yang terjadi? Simak kisah lengkap tragedi Dusun Legetang berikut ini.
Poin Utamanya:
- Dusun Legetang di Desa Pekasiran, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara hilang dalam semalam pada 17 April 1955.
- Dusun ini lenyap setelah dikubur tanah longsoran Gunung Pengamun-amun. Tidak ada warganya yang selamat.
- Peristiwa nahas di Dusun Legetang sering dikaitkan dengan narasi azab berbalut keagamaan. Beberapa orang menyandingkannya dengan azab Kaum Sodom dan bencana di Kota Pompeii.
Kronologi Tragedi Bencana di Dusun Legetang
Diringkas dari Portal Literasi Sejarah Bencana yang dikelola Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), kawasan Dieng memang memiliki potensi bencana relatif tinggi. Mengingat, daerahnya termasuk kawasan vulkanik dengan sejarah panjang erupsi dahsyat.
Sudah disebut di atas bahwasanya para petani Legetang hidup berkecukupan. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari kondisi tanah dusun yang berasal dari material longsoran Gunung Pengamun-amun dan Gunung Jimat selama ribuan tahun. Nyatanya, kesuburan itu bak pedang bermata dua yang tiba-tiba 'menusuk' pada April 1955.
Sekitar 70 hari sebelum bencana, sudah ada tanda-tanda yang muncul. Para pencari rumput dan kayu menemukan retakan panjang dan dalam di lereng Gunung Pengamun-amun. Namun, tanda-tanda itu tak ditanggapi serius, melainkan sebatas obrolan biasa saja.
Selanjutnya, hujan lebat turun berhari-hari, membuat tanah di lereng Gunung Pengamun-amun rentan dan tak lagi kuat menjalankan tugasnya. Tepat pada 16 April 1955 pukul 23.00, massa tanah ambles dengan mekanisme longsor rotasional.
Massa tanah setinggi 200 meter itu menekan tanah bercampur air di bagian bawah. Hasilnya, material lumpur 'meloncat' puluhan meter. Formasi lumpur ini 'terbang', lalu membentur kaki Gunung Jimat, menyebabkan pergantian arah.
Usai membentur Gunung Jimat, lumpur yang terlempar 'banting setir' berbelok ke arah Selatan, tepat menuju Dusun Legetang. Diperkirakan, material longsor itu bergerak sejauh 500 meter dari titik tempatnya berbelok.
Tak ada waktu bagi warga Legetang untuk menyelamatkan diri. Meski mendengar suara tanah yang mendadak runtuh ke bawah, gerakan cepatnya memupus setiap asa. Dusun Legetang hilang, tertimbun tanah longsoran Gunung Pengamun-amun.
Menurut keterangan dari National Geographic, permukaan dusun bukan hanya tertimpa, tetapi terkubur dalam-dalam. Dusun yang tadinya berupa lembah, kini tampak seperti bukit akibat gundukan tanah yang menyelimuti.
Jumlah korban tragedi Legetang masih rancu. Di tugu peringatan, korban tewas disebut sebanyak 332 orang plus 19 orang tamu dari desa lain. Sementara itu, tugu data bencana menampilkan angka 450 korban tewas.
Berdasar arsip detikJateng, 'kiamat' Legetang terabadikan dengan jelas dalam ingatan penduduk Desa Pekasiran. Oleh para saksi hidup, kisah lenyapnya Legetang diwariskan turun-temurun ke anak cucu.
Salah satunya adalah Isnurhadi, seorang tokoh masyarakat di Desa Pekasiran. Menurutnya, semua warga Legetang menemui ajal, berlawanan dengan informasi simpang siur yang menyebut ada penduduk selamat.
"Semua yang ada di Dusun Legetang tidak ada yang selamat. Semuanya wafat tertimbun longsor," ujarnya pada Jumat (25/3/2022).
Sejatinya, Dusun Legetang hanya dipisahkan jarak 1 kilometer saja dengan pusat Desa Pekasiran. Namun, pada malam peristiwa nahas itu, tidak ada warga yang berani keluar untuk mengecek situasi.
"Suara gemuruh tanah longsor itu sampai ke sini. Para orang tua kami saat itu ada yang mendengar, tapi tidak berani mendekat. Selain minim penerangan, katanya tanah di sana masih bergerak. Pagi harinya, saat ada yang ke ladang atau mencari rumput baru tahu kalau Dusun Legetang ternyata sudah rata dengan tanah," papar Isnurhadi.
Narasi Dusun Legetang yang Tertimpa 'Azab'
Kejadian yang menimpa Dusun Legetang oleh sebagian pihak tidak hanya dianggap sebagai bencana alam semata, tetapi azab dari Tuhan Yang Maha Esa. Karenanya, kisah Dusun Legetang kerap disandingkan dengan Kaum Sodom zaman Nabi Luth.
Dirujuk dari buku Bawana Winasis Dieng, Budaya Tak Terkatakan yang ditulis Marsis Sutopo dkk, kabar burung menyebut penduduk Dusun Legetang sehari-hari akrab dengan kegiatan perjudian dan prostitusi. Bahkan, juga homoseksual dan inses.
Tidak berhenti sampai di sana, cerita yang menyebar dari mulut ke mulut mengatakan masyarakatnya memakai musholla untuk berjudi. Pun pentas Lengger yang legendaris, justru diceriterakan berujung menjadi perzinaan. Atas dasar inilah, banyak orang meyakini bahwasanya tragedi Legetang adalah murka dari Tuhan Yang Maha Kuasa.
Bencana Legetang juga dikatakan mirip amukan letusan Gunung Vesuvius yang mengubur Kota Pompeii. Diringkas dari National Geographic Kids, Pompeii adalah kota ramai yang eksis sekitar 2.000 tahun lalu di wilayah yang sekarang menjadi Italia Selatan.
Tanpa disangka, Gunung Vesuvius tiba-tiba meledak pada musim panas tahun 79 Masehi. Letusan itu menyebabkan asap dan gas beracun membumbung naik hingga 20 mil di udara. Penduduk yang panik memilih berlindung di rumah atau kabur ke luar kota.
Nasib kurang beruntung menimpa mereka yang memilih bertahan. Abu dari Vesuvius terus menghujani Kota Pompeii tanpa henti. Hasilnya? Pintu-pintu tertutup dan atap rumah ambruk.
Sekitar tengah malam pada hari yang sama, awan abu, batu, dan gas beracun merangsek dari Gunung Vesuvius ke Pompeii dengan kecepatan 180 mil per jam. Kota besar itu luluh lantak beserta ribuan penduduknya.
Konon, penduduk Pompeii sebelum bencana hidup diliputi segala macam bentuk maksiat. Kini, kota yang dulunya megah dan ramai itu dijuluki Sin City (Kota Dosa).
FAQ
1. April 1955 ada kejadian apa di Dieng?
Pada 16 April 1955 pukul 23.00, Dusun Legetang di Dieng hilang dalam semalam karena tertimbun tanah longsor Gunung Pengamun-amun.
2. Mengapa Dusun Legetang Hilang?
Dusun Legetang hilang karena tertimbun tanah longsor Gunung Pengamun-amun yang bergerak karena hujan lebat turun berhari-hari.
3. Di mana Dusun Legetang?
Dusun Legetang terletak di Desa Pekasiran, Kecamatan Batur, Kabupaten banjarnegara. Tanahnya subur karena berisi material vulkanik Gunung Pengamun-amun.
(sto/apu)
