Masjid Raya Sheikh Zayed Solo menggelar kompetisi desain keranda jenazah. Lomba ini bertujuan untuk menggugah para inovator, mulai dari mahasiswa teknik, anak SMK, hingga praktisi las, untuk menciptakan alat yang modern dan lebih manusiawi.
Direktur Masjid Raya Sheikh Zayed, Munajat, mengatakan ide lomba ini muncul dari hasil riset dan investigasi terhadap keluhan masyarakat. Menurutnya, selama ini, desain keranda dianggap stagnan dan hanya mengalami perubahan pada material saja dari kayu ke besi tanpa ada inovasi teknis yang signifikan sejak abad ke-7.
"Kami melihat di lapangan banyak keluhan. Pertama, keranda sering kali terlalu berat. Kedua, aspek higienisnya kurang karena banyak yang sudah lapuk atau berkarat. Ketiga, adanya masalah teknis saat pengangkatan jenazah," ujar Munajat dihubungi detikJateng, Selasa (13/1/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, salah satu masalah utama dalam prosesi pemakaman di Indonesia adalah perbedaan tinggi badan para pengangkat keranda. Hal tersebut menyebabkan posisi jenazah di dalam keranda bergeser atau tidak stabil, yang dalam pandangan agama dianggap kurang menghormati martabat jenazah.
"Sekarang teknologi sudah canggih, ada teknologi suspensi hingga gimbal untuk stabilisasi. Kami ingin mendorong agar inovasi teknologi seperti itu didedikasikan untuk mengabdi pada kemanusiaan, agama, dan budaya. Teknologi harus melayani budaya agar semakin kuat di masyarakat," ujarnya.
Lebih lanjut, ia menyebut lomba desain keranda jenazah terbuka untuk umum. Lomba tersebut menantang peserta untuk membuat desain 3D yang memperhitungkan material, berat, dan biaya produksi.
"Beberapa kriteria yang ditekankan antara lain adalah beban maksimal keranda 20 kilogram, agar ketika ditambah beban jenazah, total beratnya tetap ringan saat dipikul secara kolektif," ucapnya.
Munajat menyampaikan pengiriman file dibuka pada 15 Januari 2026 hingga 15 Februari 2026. Meski belum dibuka secara resmi, peserta sudah antusias mengirimkan desain lomba.
"Sudah ada yang mengirimkan 16 orang, setelah dikirim nantinya akan dipilih 6 besar finalis mulai 20-28 Februari 2026 dan nanti pemenangan akan diumumkan di media sosial Masjid Zayed," ucapnya.
Munajat juga menyarankan para desainer untuk melakukan riset melalui komentar-komentar netizen di media sosial yang sempat viral.
"Desain itu 80 persen adalah riset. Kami minta desainer membaca masukan masyarakat, misalnya ide tentang penggunaan pendingin, pengaturan tinggi, hingga faktor estetika agar tidak lagi terkesan medeni (menakutkan)," jelasnya.
Munajat menjelaskan, Masjid Zayed tidak akan memendam hasil karya para pemenang. Desain yangjuara 1, 2, dan 3 nanti akan dipublikasikan secara terbuka agar bisa ditiru dan diproduksi oleh masyarakat luas atau masjid-masjid lainnya.
"Rencananya desain akan kami post. Ini menjadi bagian dari sedekah para desainer. Jadi kalau ada masyarakat mau bikin keranda, kami tawarkan ini lho desain yang lebih bagus, lebih ringan, dan lebih manusiawi, untuk nominal hadiah juara 1 Rp 4 juta, juara 2 Rp 3 juta, juara 3 Rp 2 juta," pungkas Munajat.
