Konferensi Daerah (Konferda) Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kota Semarang berlangsung panas. Sejumlah pengurus DPC memprotes Surat Keputusan (SK) kepengurusan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PSI Kota Semarang yang dinilai tidak sesuai kesepakatan awal.
Konferda dilaksanakan di Hotel Triizz, Jaln Gajah Raya, Kelurahan Sambirejo, Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang. Mulanya SK dibacakan oleh Ketua DPW PSI, Antonius Yoga.
SK tersebut memuat bahwa Bangkit Mahanantyo terpilih menjadi Ketua DPD PSI Kota Semarang dan Melly Pangestu sebagai sekretaris.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mendengar susunan pengurus DPD, para pengurus DPC langsung menginterupsi sehingga terjadi ricuh dan para wartawan diminta untuk keluar dari ruangan tempat diselenggarakannya Konferda tersebut.
Ketua DPC PSI Semarang Utara, Hanif Nafilah Rozak mengatakan, kericuhan dipicu perubahan susunan kepengurusan DPD yang tercantum dalam SK. Menurutnya, susunan tersebut berbeda dengan hasil yang sebelumnya dikomunikasikan dan disepakati jajaran DPC.
"Tadi teman-teman menyampaikan rasa kecewa karena SK yang dikomunikasikan ke teman DPC oleh DPP sebelum disahkan susunannya bukan itu," kata Hanif di Hotel Triizz, Minggu (11/1/2026).
"Yang disepakati oleh DPC itu susunannya Ketua Bro Bangkit Mahanantyo, sekretaris Bro Bayu, dan bendahara Bro Irwan Leokita. Tapi setelah SK keluar kok berubah. Ini yang jadi pertanyaan kita," lanjut Hanif.
Hanif menyebut para pengurus DPC merasa kecewa karena perubahan itu terjadi tanpa penjelasan yang jelas. Bahkan, saat dipertanyakan, baik DPD maupun DPW disebut saling menyatakan tidak mengetahui perubahan tersebut.
"DPD bilang tidak tahu, DPW juga bilang tidak tahu. Nggak mungkin nggak mengetahui, soalnya kan dari DPW terus baru ke pusat," tegasnya.
Selain persoalan SK, penolakan juga disampaikan terkait masuknya kembali Melly Pangestu ke struktur DPD PSI Kota Semarang sebagai sekretaris. Hanif menilai keputusan tersebut sebagai kemunduran.
"Kami tidak menyetujui poin terpentingnya, (yaitu) masuknya kembali Sis Melly ke struktural sebagai sekretaris. Kami anggap sebagai kemunduran," ujarnya.
"Karena dulu pernah Sis Melly disomasi oleh teman-teman DPD yang lama karena tidak percaya kepemimpinannya beliau, sekarang dimasukkan lagi kan suatu kemunduran," lanjutnya.
Hanif menegaskan, para DPC tidak mempersoalkan posisi ketua terpilih yang tetap dijabat Bangkit Mahanantyo. Namun, mereka meminta dilakukan mediasi dengan DPP PSI untuk menjelaskan kejanggalan dalam SK kepengurusan.
"Tujuan kita sebenarnya meminta mediasi ke DPP guna menjelaskan tentang SK yang disahkan itu, yang tidak sesuai," ucapnya.
Dalam Konferda tersebut, Hanif menyebut sebanyak 13 dari 16 DPC PSI Kota Semarang menyuarakan keberatan. Tiga DPC lainnya, yakni DPC Semarang Barat, Ngaliyan, dan Semarang Timur, tidak hadir.
"Kita 13 DPC. Kami menganggapnya (Melly) otoriter, komunikasi ke teman-teman itu kurang. Keterbukaan juga kurang," ujarnya.
Lebih lanjut, Hanif juga menyinggung evaluasi terhadap DPD PSI Kota Semarang yang dinilainya tidak berdasar. Ia menilai kinerja DPD selama ini justru baik dan aktif, termasuk di media sosial.
"Dugaan kita itu, sabotase. Kemungkinan sabotase sama intervensi. Terkait kepentingan suatu pihak juga mungkin, yang tidak mewakili partai," ungkapnya.
Penolakan secara terbuka yang disampaikan Hanif dan jajaran DPC itu pun ditolak Antonius Yoga. Ia menyarankan agar keberatan tersebut disampaikan kepada DPP.
Suasana pun makin memanas dengan munculnya argumen antarpengurus, hingga akhirnya 13 pengurus DPC memilih meninggalkan ruangan (walk out) sebagai bentuk peotes.
Para pengurus kemudian berkumpul di halaman hotel dan membacakan mosi tidak percaya terhadap SK kepengurusan DPD PSI Kota Semarang yang dikeluarkan DPP PSI.
Sementara itu, Ketua DPD PSI Kota Semarang, Bangkit Mahanantyo menilai dinamika yang terjadi merupakan hal wajar dalam sebuah organisasi.
"Per hari ini PSI Kota Semarang sudah menyelenggarakan sertijab dan rakerda walaupun ada sedikit dinamika, kami meyakini itu semata-mata pendewasaan organisasi dan partai menuju besar," tuturnya.
"Pohon makin tinggi makin banyak angin menerpa. Jadi dinamika dalam hal politik bagi kami itu dinamika yang biasa," lanjutnya.
(aku/aku)











































