Curhat Pekerja Terjebak Banjir di Tanjung Mas Semarang, Pasrah Gaji Dipotong

Curhat Pekerja Terjebak Banjir di Tanjung Mas Semarang, Pasrah Gaji Dipotong

Arina Zulfa Ul Haq - detikJateng
Jumat, 09 Jan 2026 12:53 WIB
Banjir merendam area industri di Jalan Coaster, Kelurahan Tanjungmas, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semaeang, Jumat (9/1/2026).
Banjir merendam area industri di Jalan Coaster, Kelurahan Tanjungmas, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semaeang, Jumat (9/1/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng
Semarang -

Banjir merendam Jalan Couster, Kelurahan Tanjung Mas, Kota Semarang. Banjir di kawasan industri itu pun mengganggu aktivitas para pekerja. Di antaranya pun pasrah jika terpaksa membolos dan dipotong gajinya.

Pantauan detikJateng di lokasi, Jumat (9/1/2026) pukul 10.45 WIB, tampak air masih menggenang di badan jalan. Genangan air terlihat mulai dari gerbang masuk Lamicitra Nusantara. Para pekerja pun terpaksa berjalan kaki dari gerbang dan meletakkan motornya di tepi jalan.

Bagi mereka, air yang mengepung pabrik-pabrik di sana itu bukan sekadar genangan. Di balik air setinggi lutut hingga paha orang dewasa itu, tersimpan cerita soal jerih payah mereka dalam mencari sumber penghidupan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pakaian kerja mereka tampak basah saat menerjang banjir. Jarak sekitar 500 meter mereka tempuh dengan berjalan kaki bersama-sama.

ADVERTISEMENT

Saat mobil rescue BPBD Kota Semarang tiba, para pekerja pun menumpang untuk menuju ke pabrik. Sesampainya di pabrik, mereka tampak mencuci kaki dan mengenakan sepatu sebelum kembali bekerja.

Di sisi lain, beberapa dari pekerja juga memilih menunggu truk jemputan yang membawa pekerja ke pabrik. Kebanyakan dari mereka tampak tak membawa sandal maupun celana ganti.

Salah satunya yakni pekerja asal Gubug, Kabupaten Grobogan, Sumini (60). Ia tengah duduk-duduk di pinggir jalan yang masih tergenang, bersama pekerja perempuan lainnya.

"Sebenarnya mau masuk kerja, tapi terganggu banjir jadi nggak bisa masuk. Nggak ada jemputan," kata Sumini kepada detikJateng di lokasi.

Banjir merendam area industri di Jalan Coaster, Kelurahan Tanjungmas, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semaeang, Jumat (9/1/2026).Sejumlah pekerja tampak mencuci kakinya sebelum masuk ke pabrik di Jalan Coaster, Kelurahan Tanjungmas, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semaeang, Jumat (9/1/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng

Pagi itu, ia seharusnya masuk kerja pukul 08.00 WIB. Namun hingga waktu berlalu, Sumini masih tertahan di luar kawasan pabrik. Saat berangkat kerja, ia tak menyangka banjir akan separah itu.

"Saya berangkat belum tahu banjir, soalnya rumah saya jauh di Gubug, Grobogan. Nggak lihat grup, di grup ada infonya banjir," ujarnya.

Tak seperti pekerja lainnya, Sumini yang sudah bekerja di sana sejak 2006 itu tak menyiapkan diri dengan membawa celana ganti dan sandal. Dia pun pasrah jika terpaksa bolos dan gajinya dipotong.

"Kalau nanti nggak dapat jemputan ya mau gimana, di sini saja, bolos, walaupun dipotong gaji. Dipotong gaji satu hari," katanya.

Menurutnya, ketinggian air di Jalan Couster bisa mencapai 60-70 sentimeter (cm). Ia menyebut, banjir kali ini terjadi akibat tanggul kolam retensi yang kembali jebol.

"Ini yang kejebol kedua kalinya. Yang dulu lebih parah, pas tahun 2022. Waduh parah itu, sampai tergulung air," kenangnya.

"Harusnya pemerintah ya bisa lebih baik lagi perbaikannya. Ngeri itu," ucapnya.

Banjir merendam area industri di Jalan Coaster, Kelurahan Tanjungmas, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semaeang, Jumat (9/1/2026).Banjir merendam area industri di Jalan Coaster, Kelurahan Tanjungmas, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semaeang, Jumat (9/1/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng

Hal lain dirasakan pekerja asal Kecamatan Tembalang, Kota Semarang Eko (55). Hari itu ia dinyatakan libur cuti karena banjir. Namun, ia tetap datang ke pabrik untuk menyelamatkan peralatan kerja.

"Tadi ke pabrik beresin mesin-mesin, kabelnya yang di bawah itu, biar nggak kena banjir," kata Eko.

Ia menyebut banjir di kawasan tersebut biasanya terjadi saat tanggul jebol. Peristiwa serupa sudah dua kali ia alami, terakhir banjir besar pada 2022 lalu, seperti yang dirasakan Sumini.

"Waktu itu lebih parah lagi, airnya sampai seleher. Kalau sekarang sepaha, ya kira-kira 70-80 cm," ujarnya.

"Dampaknya ya nggak bisa bekerja. Kasihan pekerjanya, kasihan PT-nya juga nggak bisa produksi kalau gini. Tapi kalau saya nggak potong gaji, karena ini cuti," lanjutnya.

Sementara itu, Sugiyo (52), pekerja asal Pamularsih, mengatakan genangan air di depan pabriknya setinggi paha. Ia menduga banjir terjadi akibat hujan yang bercampur dengan air laut.

"Di depan pabrik ya sama, banjirnya sepaha. Cuma pabriknya nggak kena banjir. Ini hujan campur rob mungkin ya, air laut," kata Sugiyo.

Meski banjir menggenang, aktivitas di dalam kawasan industri disebut masih berjalan terbatas. Para pekerja masih bekerja dengan mengandalkan transportasi antar-jemput dari BPBD.

"Ada tiga pabrik di sini, dua libur, yang satu masih kerja, tergantung perusahaannya," ujarnya.

Ia pun berharap tanggul kolam retensi yang jebol bisa segera diperbaiki dan banjir bisa segera surut, sehingga para pekerja bisa kembali beraktivitas tanpa perlu kesulitan lagi.

"Tadi juga ada yang naik perahu ke pabriknya. Saya naik mobil BPBD ini mau makan siang dulu," ujarnya.

Halaman 2 dari 2
(ams/dil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads