Pihak Sinuhun Paku Buwono (PB) XIV Purbaya buka suara mengenai Museum Keraton yang belum dibuka. Pengageng Museum dan Pariwisata, GKR Devi Lelyana Dewi, mengatakan masih ada sisa pekerjaan yang belum selesai.
Devi menyebutkan, di ruangan yang sudah direvitalisasi, terdapat area yang tidak bisa dilewati karena tertutup artefak. Selain itu, ia menjelaskan ada sejumlah tata letak (layout) yang berubah.
"Ada satu ruangan yang tidak bisa dilalui sesuai dengan jalur seperti biasanya. Jalur itu masuk dari pintu loket, kemudian ke pelataran, masuk lagi ke ruangan yang ada foto-fotonya itu. Nah, dari situ seharusnya lanjut lurus sampai ke Sumur Songo, kemudian menyeberang masuk ke ruangan berikutnya," katanya saat ditemui di Keraton Solo, Sabtu (27/12/2025).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nah, alur itu belum bisa dilalui untuk ruangan yang ketiga karena masih ada artefak-artefak yang ditempatkan tidak sesuai dengan displai. Ada yang tadinya di ruangan yang direnovasi, kemudian layout-nya diganti, sehingga saya juga tidak tahu kenapa ditaruh di situ dulu tapi belum ditata pada tempatnya," sambungnya.
Kondisi Musuem Keraton Solo usai direvitalisasi yang belum dibuka untuk umum, Sabtu (27/12/2025). Foto: Tara Wahyu NV/detikJateng |
Devi mengaku pihaknya masih menunggu koordinasi dengan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah X. Ia mengaku sudah membuat janji, namun belum ada konfirmasi lebih lanjut.
"Saya tidak tahu, mungkin karena suasana liburan ini ya. Menurut pihak BPK dan penyedia vendor, ada satu komponen otomatis pada pintu yang harus dibeli. Nah, kemungkinan kendalanya di situ, tapi saya belum diberi konfirmasi lebih lanjut," ungkapnya.
Devi menampik anggapan bahwa pihaknya sengaja menutup museum. Ia kembali menegaskan bahwa masih ada pekerjaan yang belum selesai dan khawatir terjadi hal yang tidak diinginkan.
"Jadi sebetulnya bukan menutup tanpa alasan. Takutnya nanti kalau ada apa-apa, seperti pintu yang belum bisa ditutup sempurna oleh pengunjung atau malah rusak, kami tentu tidak mau hal itu terjadi," terangnya.
Disinggung mengenai plafon atau atap yang mengelupas, Devi menyebut hal itu baru saja terjadi. Ia menduga kerusakan tersebut disebabkan oleh pengerjaan yang kurang maksimal.
"Sepertinya baru saja terjadi, kemarin belum apa-apa. Waktu peresmian saya cek kembali apakah ada yang tertinggal, itu belum ada (kerusakan). Tapi mungkin pengerjaannya tidak maksimal. Itu jadi mengelupas gitu lho," bebernya.
"Sepertinya hanya dilapisi dengan cat baru, tapi cat lamanya tidak dikelupas terlebih dahulu. Sehingga mungkin tidak kuat dan akhirnya rontok," lanjut Devi.
Menurutnya, museum tersebut ditutup sejak wafatnya Paku Buwono XIII hingga saat ini.
"Kalau benar-benar ditutupnya itu pada saat surudnya Sinuhun Paku Buwono XIII, gitu," pungkasnya.
Baca juga: Lalin Arah Candi Borobudur Padat Sore Ini |
Kondisi Musuem Keraton Solo usai direvitalisasi yang belum dibuka untuk umum, Sabtu (27/12/2025). Foto: Tara Wahyu NV/detikJateng |
(apl/apl)













































