Menjelang akhir Desember, masyarakat Indonesia memperingati Hari Ibu yang berlangsung setiap tahun. Ini menjadi momen untuk mengungkapkan kasih sayang. Namun di baliknya,ada jejak panjang perjuangan perempuan Indonesia. Sebelum membahas lebih jauh, apakah kamu sudah tahu Hari Ibu 2025 tanggal berapa, detikers?
Hari Ibu selalu diperingati pada tanggal yang sama setiap tahun. Sebab, hal tersebut telah ditetapkan dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 316 Tahun 1959. Di balik peringatan tersebut, terdapat rangkaian kongres dan organisasi perempuan yang membahas pendidikan, kesetaraan, hingga perbaikan hukum pada masa kolonial.
Penasaran kapan Hari Ibu 2025 diperingati dan bagaimana sejarah panjang yang melatarbelakanginya? Simak rangkuman lengkap yang merunut perjalanannya dari 1928 hingga akhirnya diakui sebagai hari nasional, detikers!
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Poin utamanya:
- Hari Ibu 2025 jatuh pada 22 Desember, sesuai penetapan tetap dalam Keppres No. 316/1959.
- Hari Ibu di Indonesia berakar pada gerakan perempuan, bukan sekadar perayaan kasih sayang seperti Mother's Day.
- Penetapan Hari Ibu lahir dari hasil Kongres Perempuan yang memperjuangkan pendidikan, kesetaraan, dan perbaikan hukum.
Hari Ibu 2025 Tanggal Berapa?
Hari Ibu di Indonesia diperingati setiap 22 Desember, sebagaimana ditetapkan dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 316 Tahun 1959 tentang Hari-Hari Nasional yang Bukan Hari Libur. Dalam keputusan tersebut, pemerintah menetapkan sejumlah hari bersejarah bagi Nusa dan Bangsa Indonesia sebagai hari nasional, dan salah satunya adalah Hari Ibu yang tercantum pada urutan keenam.
Artinya, untuk tahun 2025, Hari Ibu tetap jatuh pada tanggal 22 Desember. Penetapan ini bersifat tetap dari tahun ke tahun, sehingga tanggalnya tidak berubah. Meskipun tidak termasuk hari libur nasional, keputusan presiden tersebut menegaskan bahwa Hari Ibu, seperti hari-hari bersejarah lainnya, tetap selayaknya diperingati melalui upacara atau kegiatan yang menghormati makna sejarahnya.
Bagaimana Sejarah Peringatan Hari Ibu di Indonesia?
Hari Ibu yang kita peringati sekarang ini ternyata memiliki sejarah panjang. Penetapan hari tersebut tidak terlepas dari perjuangan para perempuan kuat di masa lalu. Jadi, mari kita pahami asal-usulnya berdasarkan penjelasan yang dikutip dari Portal Informasi Indonesia berikut ini.
1. Pergerakan Perempuan Sebelum Indonesia Merdeka
Peringatan Hari Ibu di Indonesia memiliki sejarah yang sangat berbeda dengan Mother's Day di negara Barat. Jika Mother's Day berfokus pada cinta kasih seorang ibu dalam ranah keluarga, Hari Ibu di Indonesia justru berakar dari perjuangan panjang kaum perempuan dalam membangun bangsa. Benihnya sudah muncul jauh sebelum Republik ini berdiri, yakni melalui upaya perempuan untuk memperoleh kesetaraan dan kesempatan berperan dalam kehidupan publik.
Tonggak besarnya muncul pada Kongres Perempuan Indonesia pertama tahun 1928. Kongres ini diadakan pada 22-25 Desember 1928 di Ndalem Joyodipuran, Joga, dan dihadiri sekitar 600 perempuan dari berbagai organisasi. Mereka datang dari latar sosial budaya yang beragam, mulai dari Poetri Budi Sejati, Aisyiyah, Wanito Oetomo, Jong Java, Taman Siswa, hingga Oetoesan Istri Soematra. Dalam suasana kolonial Hindia Belanda, mereka berkumpul untuk membicarakan kesetaraan, pendidikan, perkawinan, dan kehidupan perempuan secara lebih luas.
Pemimpin kongres, Ny RA Soekonto (Siti Aminah), menegaskan bahwa perempuan tidak boleh hanya duduk di dapur, kecuali jika ia memegang peran utama di sana. Ia menekankan bahwa ini adalah zaman kemajuan, dan perempuan harus berjalan sejajar dengan laki-laki dalam memikirkan masa depan bangsa.
Ia bekerja bersama Nyi Hadjar Dewantara dan Nona Sujatien Kartowijoyono untuk mempersiapkan kongres. Dari kongres inilah, Perikatan Perempuan Indonesia (PPI) berdiri sebagai wadah bersama organisasi perempuan.
Kongres pertama tersebut melahirkan tiga mosi penting, yakni penambahan sekolah bagi anak perempuan, kewajiban pencantuman taklik dalam pernikahan, serta adanya dukungan untuk janda dan anak piatu pegawai negeri. Selain itu, PPI ditugasi menggerakkan program-program seperti memerangi perkawinan anak, memberi beasiswa, hingga membuka kursus kesehatan. Kongres ini menjadi salah satu fondasi besar gerakan perempuan Indonesia, setara pentingnya dengan Kongres Pemuda II.
2. Tahapan Perjuangan Lanjutan dan Perluasan Peran Perempuan
Setelah kongres pertama, PPI terus berkembang dan melakukan konsolidasi nasional. Pada kongres berikutnya tanggal 28-31 Desember 1929 di Jakarta, nama organisasi diubah menjadi Perikatan Perhimpunan Istri Indonesia (PPII). Perubahan ini menegaskan asas perjuangan yang semakin jelas: kebangsaan, persamaan hak, jiwa sosial, serta kesetaraan perempuan dan laki-laki.
Perjalanan gerakan perempuan kemudian meluas hingga tingkat internasional. Pada Januari 1931, PPII mengirimkan delegasi yaitu Nona Sunaryati Sukemi dan Ny Rukmini Santoso, untuk hadir dalam Kongres Perempuan se-Asia di Lahore (kini Pakistan).
Pada momen inilah untuk pertama kalinya gerakan perempuan Indonesia terhubung dengan gerakan perempuan internasional. Ini menjadi bukti bahwa perempuan Indonesia tidak hanya berjuang di lingkup lokal, tetapi sudah memikirkan posisi mereka dalam percaturan global.
Gerakan perempuan juga terus menggelar kongres nasional. Kongres Perempuan Indonesia II berlangsung di Jakarta pada 20-24 Juli 1935 dipimpin Ny Sri Mangunsarkoro. Forum ini membahas masalah buruh perempuan, pemberantasan buta huruf, dan peraturan perkawinan.
Tiga tahun kemudian, Kongres Perempuan Indonesia III diselenggarakan di Bandung (23-28 Juli 1938) di bawah pimpinan Ny Emma Puradireja. Di sini, pembicaraan bergerak lebih maju, termasuk tentang undang-undang perkawinan modern serta hak politik perempuan dalam Volksraad.
Kongres demi kongres menunjukkan bahwa perempuan Indonesia semakin berani mengambil peran dalam ruang publik, memperjuangkan hukum yang lebih adil, dan membangun kesadaran kolektif mengenai posisi perempuan dalam kehidupan berbangsa.
3. Lahirnya Hari Ibu dan Penetapan Resminya oleh Negara
Keputusan penting yang menjadi dasar peringatan nasional diambil pada Kongres Perempuan Indonesia III tahun 1938 di Bandung. Di sinilah disepakati bahwa 22 Desember diperingati sebagai Hari Ibu. Tanggal ini dipilih bukan untuk menonjolkan peran ibu dalam rumah tangga semata, tetapi untuk mengenang perjuangan kolektif perempuan Indonesia dalam membangun bangsa.
Dua dekade kemudian, keputusan tersebut dikukuhkan oleh pemerintah melalui Ketetapan Presiden RI Nomor 316 Tahun 1959 yang ditandatangani Presiden Soekarno pada 16 Desember 1959. Sejak saat itu, 22 Desember resmi menjadi Hari Besar Nasional di Indonesia. Penetapan ini menegaskan bahwa Hari Ibu merupakan simbol perjuangan, kesetaraan, dan kemajuan perempuan Indonesia.
Peringatan Hari Ibu membuka kembali memori tentang langkah besar perempuan Indonesia yang tak hanya mengurus keluarga, tetapi ikut membangun bangsa. Semoga pemahaman sejarah ini membuat peringatan 22 Desember terasa lebih bermakna, detikers!
