Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan wilayah Rembang dan sekitarnya memiliki potensi aktivitas kegempaan akibat keberadaan Sesar Lasem. Patahan ini masih aktif dan berpotensi memicu gempa dengan kekuatan hingga magnitudo 6,5.
"Kami datang bukan untuk menakut-nakuti, tapi untuk mengedukasi, mencerdaskan, dan memahamkan masyarakat agar lebih waspada," kata Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Pusat, Daryono, dalam kegiatan Sekolah Lapang Gempa Bumi dan Tsunami (SLG) 2025 yang digelar di Aula Lantai IV Gedung Sekretariat Daerah (Setda) Rembang, Kamis (16/10/2025).
Daryono menjelaskan, secara geologis Rembang terletak di jalur sumber gempa sesar aktif yaitu Sesar Naik Pati (Pati Thrust) yang memiliki potensi gempa dengan magnitudo maksimum M 6,5.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, Rembang juga berdekatan dengan beberapa jalur sesar lain, di antaranya:
β’Sesar Muria dengan potensi gempa M 6,2,
β’Sesar Semarang dengan potensi M 6,5, dan
β’Segmen Sesar Purwodadi dengan potensi M 6,7.
Paparan soal Sesar Lasem yang memiliki potensi gempa bumi oleh Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Pusat, di Rembang, Kamis (16/20/2025). Foto: Mukhammad Fadlil/detikJateng |
"Karena letaknya di antara beberapa struktur sesar aktif, Rembang perlu waspada terhadap potensi gempa bumi darat dengan magnitudo menengah," ujarnya.
Daryono menuturkan, jika terjadi pergeseran mendadak pada jalur sesar aktif, maka akan muncul gempa dangkal yang bisa menimbulkan guncangan kuat. Jika episentrumnya berada di laut, gempa jenis ini bahkan bisa memicu tsunami.
"Pergeseran tiba-tiba di sesar aktif bisa membangkitkan gempa kuat, bahkan tsunami jika sumbernya di laut," jelasnya.
Ia mencontohkan, pada tahun 1994 gempa besar di Wonosobo menewaskan sekitar seribu orang, dan hingga kini sumbernya belum ditemukan karena tertimbun material Gunung Sindoro, Sumbing, dan Slamet.
BMKG juga memaparkan catatan sejarah gempa signifikan yang pernah mengguncang wilayah Rembang dan sekitarnya, berdasarkan kajian Soetardjo dkk (1985) dan Arthur Wichmann (1918). Beberapa di antaranya:
β’16 November 1847 - Gempa Semarang, Rembang, Lasem dan sekitarnya
β’4 Juni 1849 - Gempa Rembang-Blora
β’24 Januari 1851 - Gempa Rembang
β’1 Juni 1856 - Gempa Semarang, merusak tingkat sedang hingga berat (VII-VIII MMI)
β’15 September 1857 - Gempa Rembang, terjadi tiga kali guncangan
β’12 Desember 1890 - Gempa merusak Pati-Juwana (M 8,8), kerusakan dalam radius 500 km dan menimbulkan korban jiwa
Menurut Daryono, data historis ini menunjukkan bahwa aktivitas kegempaan di Rembang bukan fenomena baru. Dalam beberapa tahun terakhir pun, BMKG mencatat sejumlah aktivitas gempa kecil di kawasan ini.
Dalam lima tahun terakhir, tercatat sejumlah gempa dengan magnitudo kecil terjadi di sekitar Rembang, antara lain:
β’12 Mei 2018 (M 3,6)
β’25 Desember 2019 (M 3,6 dan 3,9)
β’September 2023 (M 2,7)
β’Maret 2024 (M 3,3)
"Ini bukti bahwa Sesar Lasem yang berada di sebelah selatan tempat kita berdiri masih beraktivitas. Berdasarkan kajian, potensi maksimumnya bisa mencapai magnitudo 6,5," ujar Daryono.
Daryono mengapresiasi Pemerintah Kabupaten Rembang yang proaktif menggandeng BMKG untuk memberikan edukasi mitigasi bencana kepada masyarakat.
(aku/ahr)












































