Bagaimana Cara Masyarakat Menyalurkan Aspirasinya? Ini Penjelasan-Contohnya

Bagaimana Cara Masyarakat Menyalurkan Aspirasinya? Ini Penjelasan-Contohnya

Ulvia Nur Azizah - detikJateng
Kamis, 29 Mei 2025 19:43 WIB
Bagaimana cara masyarakat menyalurkan aspirasinya
Potret bagaimana cara masyarakat menyalurkan aspirasinya. (Foto: freepik/Freepik)
Solo - Hidup di negara demokrasi menuntut kita untuk memahami bagaimana cara masyarakat menyalurkan aspirasinya. Pasalnya, kebebasan menyalurkan aspirasi dan menyampaikan pendapat adalah salah satu inti dari demokrasi itu sendiri.

Sebelum membahas lebih jauh, tahukah kamu apa yang dimaksud dengan aspirasi? Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI, aspirasi didefinisikan sebagai harapan dan tujuan untuk keberhasilan pada masa yang akan datang. Sementara itu, beraspirasi adalah kata kerja yang sama dengan bercita-cita, berkeinginan, dan berhasrat.

Lantas seperti apa cara yang bisa ditempuh oleh masyarakat untuk menyalurkan aspirasinya? Mari simak penjelasan lengkap berikut ini yang dihimpun detikJateng dari buku Be Smart PKn tulisan Bahar Rifai serta Hukum Konstitusi tulisan Athari Farhani dkk.

Bagaimana Cara Masyarakat Menyalurkan Aspirasinya?

Di negara demokrasi, khususnya di Indonesia, cara masyarakat dalam menyampaikan aspirasi terbagi ke dalam dua kelompok besar, yaitu secara langsung dan tidak langsung.

A. Penyampaian Secara Langsung

Penyampaian aspirasi secara langsung dilakukan tanpa perantara, biasanya dengan kehadiran fisik masyarakat dalam forum atau kegiatan tertentu. Bentuk-bentuk penyampaian ini antara lain:

1. Forum Musyawarah

Partisipasi juga dilakukan dalam forum resmi seperti Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) yang dilakukan di tingkat desa atau kelurahan. Dalam forum ini, masyarakat dapat menyampaikan usulan, kritik, atau kebutuhan pembangunan secara langsung kepada pemerintah daerah. Musrenbang menjadi salah satu sarana penting agar aspirasi masyarakat dapat masuk ke dalam perencanaan program pemerintah.

2. Pawai dan Mimbar Bebas

Pawai merupakan bentuk lain dari penyampaian pendapat dengan arak-arakan di jalan umum, sedangkan mimbar bebas adalah forum terbuka tanpa tema tertentu di mana siapa pun dapat menyampaikan pandangan secara langsung. Kedua bentuk ini memungkinkan masyarakat menyalurkan aspirasinya dengan lebih ekspresif tetapi tetap harus memperhatikan keamanan publik.

3. Unjuk Rasa dan Demonstrasi

Unjuk rasa atau demonstrasi adalah kegiatan menyampaikan pendapat secara terbuka dan demonstratif di tempat umum. Kegiatan ini dilakukan oleh satu orang atau lebih, baik melalui orasi, tulisan, maupun simbol-simbol tertentu. Demonstrasi yang sah merupakan bentuk penyaluran aspirasi yang diakui hukum, asalkan dilakukan secara tertib dan sesuai ketentuan.

4. Aksi Simbolik

Selain bentuk konvensional, masyarakat juga dapat menyampaikan aspirasi melalui aksi simbolik seperti mogok makan, mogok kerja, atau mogok bicara. Aksi semacam ini dilakukan untuk menarik perhatian publik dan pihak berwenang terhadap isu tertentu. Meski tidak selalu melibatkan massa, cara ini efektif dalam menyampaikan pesan yang kuat.

B. Penyampaian secara Tidak Langsung

Berbeda dengan cara pertama, penyampaian aspirasi tidak langsung dilakukan melalui perwakilan atau organisasi yang menyuarakan kepentingan masyarakat. Masyarakat tetap berperan, tetapi tidak hadir secara langsung dalam prosesnya. Bentuk-bentuknya meliputi:

1. Melalui Wakil Rakyat

Salah satu bentuk penyaluran aspirasi tidak langsung adalah dengan memilih wakil rakyat di DPR, DPD, atau DPRD. Para wakil ini bertugas membawa suara konstituennya dalam penyusunan kebijakan atau perundang-undangan. Oleh karena itu, pemilihan umum merupakan momen penting bagi masyarakat untuk menyampaikan harapannya secara politik.

2. Lewat Organisasi Masyarakat dan LSM

Banyak masyarakat yang menyuarakan aspirasinya melalui lembaga swadaya masyarakat (LSM), organisasi profesi, maupun ormas. Lembaga ini menjadi perantara untuk memperjuangkan isu-isu tertentu, mulai dari lingkungan, pendidikan, hingga hak asasi manusia. LSM sering kali terlibat dalam advokasi kebijakan, kampanye publik, atau konsultasi dengan pemerintah.

3. Dukungan Media dan Teknologi

Dalam era digital, masyarakat juga dapat menyalurkan aspirasinya melalui media sosial, petisi online, atau kampanye digital. Aksi ini sering kali dilakukan untuk menggalang dukungan publik terhadap isu tertentu atau menekan pengambil kebijakan agar merespons tuntutan. Meski tidak tatap muka, kekuatan media digital dalam menyebarkan aspirasi sangat besar dan cepat.

Peran Lembaga Penyalur Aspirasi

Beberapa lembaga yang memiliki fungsi sebagai penyalur dan penampung aspirasi masyarakat antara lain:

  1. Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) memiliki fungsi menetapkan garis besar kebijakan negara berdasarkan aspirasi rakyat.
  2. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menyerap, menghimpun, menampung, dan menindaklanjuti aspirasi konstituen melalui legislasi dan pengawasan.
  3. Dewan Perwakilan Daerah (DPD) memperjuangkan aspirasi daerah-daerah di tingkat nasional.
  4. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) menyampaikan dan memperjuangkan aspirasi masyarakat daerah.
  5. Partai Politik menjadi saluran strategis bagi warga negara untuk menyalurkan aspirasi dalam ranah pemerintahan.

Manfaat Menyalurkan Aspirasi

Menyalurkan aspirasi bukan hanya hak, tetapi juga bentuk tanggung jawab warga negara dalam kehidupan demokratis. Beberapa manfaat yang dapat diperoleh masyarakat antara lain:

  1. Memberikan pengaruh terhadap arah kebijakan publik.
  2. Meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pemerintah.
  3. Mendorong keadilan sosial dan ekonomi melalui perbaikan kebijakan.
  4. Mewujudkan perlindungan hukum dan rasa aman bagi masyarakat.
  5. Membentuk kesadaran kolektif dalam membangun bangsa.

Asas dan Prinsip dalam Menyampaikan Aspirasi

Dalam menyalurkan aspirasi, masyarakat perlu mematuhi sejumlah asas yang menjaga agar kegiatan tersebut tetap bermanfaat dan tidak merugikan pihak lain. Beberapa prinsip penting di antaranya adalah:

  1. Keseimbangan antara hak dan kewajiban agar kebebasan berekspresi tidak melanggar hak orang lain.
  2. Musyawarah dan mufakat untuk mencari solusi yang disepakati bersama.
  3. Kepastian hukum dan keadilan agar aspirasi disampaikan dalam koridor hukum yang berlaku.
  4. Proporsionalitas dalam penyampaian, agar tidak terjadi penyimpangan atau kekacauan.

Akibat Jika Aspirasi Tidak Tersalurkan

Jika aspirasi masyarakat dibatasi atau diabaikan, maka dampaknya bisa cukup serius bagi pembangunan. Beberapa akibatnya meliputi:

  1. Terhambatnya pembangunan hukum karena kurangnya partisipasi publik.
  2. Meningkatnya ketidakpercayaan masyarakat terhadap lembaga negara.
  3. Disintegrasi sosial akibat munculnya konflik kepentingan yang tidak terselesaikan.
  4. Lambatnya perkembangan ekonomi karena tidak adanya dialog antara rakyat dan pemerintah.

Hakikat Kemerdekaan Mengemukakan Pendapat

Kemerdekaan mengemukakan pendapat adalah hak dasar yang dijamin oleh konstitusi. Setiap warga negara berhak untuk menyampaikan pikiran dan perasaannya secara lisan maupun tulisan secara bebas dan bertanggung jawab.

Dalam UUD 1945 Pasal 28 disebutkan bahwa kemerdekaan berserikat dan berkumpul, serta mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dijamin oleh negara. Jaminan ini kemudian diperkuat dengan lahirnya Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum.

Tujuan dibuatnya undang-undang ini antara lain untuk menjamin kebebasan berekspresi yang bertanggung jawab, melindungi hukum dan keamanan masyarakat, serta menciptakan iklim partisipatif yang kondusif. Dalam pelaksanaannya, kebebasan berpendapat harus tetap memperhatikan asas hukum, keseimbangan hak dan kewajiban, serta kepentingan sosial secara proporsional.

Demikianlah penjelasan lengkap mengenai cara masyarakat menyalurkan aspirasinya. Semoga bermanfaat!


(sto/aku)


Hide Ads