Misteri Masjid Tiban Gunung Cilik Wonogiri dan Kitab Kuno Keramat

Muhammad Aris Munandar - detikJateng
Senin, 03 Apr 2023 02:45 WIB
Masjid Tiban Gunung Cilik atau Sabiilul Muttaqin di Dusun Pakem Desa Sumberagung Kecamatan Pracimantoro Wonogiri. Foto: Muhammad Aris Munandar/detikJateng
Wonogiri -

Masjid di Dusun Pakem Desa Sumberagung Kecamatan Pracimantoro Wonogiri memiliki kisah sejarah yang panjang. Selain itu di masjid itu terdapat kitab peninggalan yang sudah berusia ratusan tahun dan keramat.

Masjid bernama Sabiilul Muttaqin itu dikenal masyarakat dengan sebutan Masjid Tiban Gunung Cilik. Sebab masjid itu berada di pucuk bukit kecil yang berlokasi di tengah-tengah Dusun Pakem. Masyarakat menyebut bukit kecil itu dengan nama Gunung Cilik.

Masjid Gunung Cilik disebut-sebut sebagai bukti sejarah cikal bakal penyebaran agama Islam di Wonogiri selatan. Sebab Dusun Pakem sendiri berbatasan langsung dengan Kabupaten Gunung Kidul. Sementara itu, jarak Dusun Pakem dengan pusat Kota Wonogiri sekitar 49 kilometer.

Masjid tiban itu tampak lebih tinggi dibandingkan permukiman warga di sekelilingnya karena lokasinya yang berada di bukit kecil. Sehingga, dari masjid itu tampak rumah-rumah warga yang mengelilingi bukit tersebut.

Takmir Masjid Sabiilul Muttaqin, Sutomo, mengatakan keberadaan Masjid Tiban Gunung Cilik diyakini sudah ada sejak 400 tahun lalu, sekitar 1600-an. Saat itu di Pakem baru ada delapan rumah yang posisinya berada di selatan masjid. Warga beraktivitas seperti biasanya, bertani dan berternak.

"Dulu serba terisolir, tapi mereka aktivitas biasa. Nah suatu saat warga itu melihat langgar (masjid kecil) yang berada di puncak Gunung Cilik. Setelah didatangi ternyata benar ada masjid. Tiba-tiba ada padahal tidak merasa membangun, tiba-tiba ada langgar," kata Sutomo, Sabtu (1/4).

Ia mengatakan, masjid itu terbuat dari kayu. Namun atapnya diyakini bukan dari genteng tanah. Dimungkinkan terbuat dari bahan seperti ijuk atau sirap. Namun, bentuk pasti masjid seperti apa belum ada gambaran. Jika ditelusuri, pada era saat itu bentuk masjid kebanyakan seperti joglo atau limasan.

Setelah dibersihkan warga, masjid itu dipakai untuk sholat. Bahkan pada saat sholat Jumat, banyak didatangi tokoh agama dari Girisubo Gunungkidul dan daerah Wonogiri selatan.

Seiring berjalannya waktu, kata Sutomo, masjid itu semakin rusak karena termakan usia. Warga setempat ingin memperbaiki namun tidak ada yang berani. Karena sudah rusak bertahun-tahun, warga berusaha menyelamatkan kayu masjid.

"Saat mau mengambil blandar (kayu di dekat atap) ditemukan kitab kecil, tulisannya arab di atas kayu. Buku itu sudah bertahun-tahun kena panas hujan tidak apa-apa, masih aman dan bisa dibaca. Cuma sampulnya sudah tidak ada, sampai sekarang masih bisa dibaca," ungkapnya.

Sutomo menuturkan, berdasarkan cerita nenek moyang, kayu masjid yang dibongkar itu akan dibawa ke Pracimantoro. Saat ini jarak Pakem dengan pusat Kecamatan Pracimantoro sekitar 13 kilometer.

Namun, menurutnya, rencana itu gagal. Warga tidak berani membawa kayu itu keluar dari Pakem. Mereka takut jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan mengingat itu bangunan masjid tiban.

"Akhirnya kayu itu ditaruh di pekarangan. Di utara masjid ini, sekitar 300 meter dari sini. Kayu-kayu itu ditaruh dan pinggirnya dibuat galengan. Sehingga lama kelamaan tertutup tanah. Sekarang kayu-kayu itu sudah tertimbun tanah jadi halaman rumah warga," jelas dia.

Simak lebih lengkap di halaman berikutnya....




(sip/sip)

Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork