Ribuan peserta bersaing untuk mengisi kekosongan 457 kursi perangkat desa di Kabupaten Klaten. Berbagai cara dilakukan peserta untuk bisa lolos, termasuk minta bocoran jawaban.
"Saya sempat ditelepon teman, dia tanya saya punya soal ujian dan jawaban soal ujian atau tidak. Saya jawab tidak punya," ungkap tim Panitia Pengisian Perangkat Desa (TP3D) di Kecamatan Wedi, Sukamta, kepada detikJateng, Rabu (24/8/2022).
Menurut Sukamta, temannya yang mencari bocoran soal ujian perangkat desa tersebut bukan berasal dari Kecamatan Wedi.
"Teman saya itu bukan pelamar perangkat di desa saya, juga bukan orang Kecamatan Wedi tapi malah orang luar kecamatan. Saya jawab tidak punya, dia menerima dan mau mencari cara lain," jelasnya.
Sementara itu, TP3D Desa Jambu Kidul, Kecamatan Ceper, Tri Mardiyanto, menceritakan dirinya sempat didatangi tiga orang ke rumah. Mereka bertanya tentang bagaimana agar bisa lolos seleksi.
"Ada tiga orang yang datang, tanya bagaimana bisa lolos. Saya jawab saya tidak tahu apa-apa, karena memang tim tidak punya wewenang," ungkap Tri kepada detikJateng.
Menurut Tri, TP3D hanya bertugas menerima pendaftaran sampai seleksi administrasi. Hasilnya nanti dilaporkan ke pihak pemerintah desa setempat.
"Jadi lolos atau tidak bukan kewenangan TP3D. Setelah selesai seleksi tim hanya melaporkan ke kepala desa," jelas Tri.
Selain bertanya soal ujian, lanjutnya, ada juga peserta yang melakukan ritual keliling desa atau kampung. Dirinya sempat memergoki aksi itu saat patroli.
"Ada yang seperti itu, keliling desa atau kampung tiga kali dan sempat terpergok saya. Itu tidak masalah yang namanya laku prihatin sah-sah saja," imbuhnya.
Selengkapnya di halaman selanjutnya...
(rih/aku)