Bukan Resesi Seks, RI Masih Berkutat pada 2 Masalah Besar Ini

Bukan Resesi Seks, RI Masih Berkutat pada 2 Masalah Besar Ini

Tim detikHealth - detikJateng
Selasa, 23 Agu 2022 15:34 WIB
Hari ini, 25 Januari 2022 diperingati sebagai Hari Gizi Nasional. Fakta dilapangan, masih banyak anak-anak belum mendapat gizi yang seimbang.
Ilustrasi. (Foto: Pradita Utama/detikcom)
Solo -

Tren resesi seks saat ini tengah melanda banyak negara di Asia dan Eropa. Turunnya gairah berhubungan seks, menikah, atau memiliki anak menyebabkan angka kelahiran menurun.

Beberapa negara bahkan mengalami krisis populasi yang dilatarbelakangi karena banyak wanitanya menganggap pernikahan dan memiliki keluarga itu tidak lagi penting.

Dilansir detikHealth, permasalahan di atas tidak relevan bagi Indonesia saat ini. Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof dr Ova Emilia, MMed, Ed, SpOG (K) menyebut bahwa masalah besar negeri ini masih berkutat pada angka kematian ibu dan stunting yang tinggi.


"Negara kita masih berkutat, angka kematian ibu itu nggak turun-turun. Problem kematian ibu ini masih menjadi problem dasar dari negara kita," tuturnya dalam agenda The 2nd International Conference on Indonesia Family Planning and Reproductive Health di Yogyakarta, Selasa (23/8/2022).

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar Kemenkes, angka kematian ibu masih menyentuh 230 kematian per 100 ribu kelahiran. Sementara data Sampling Registration System 2018 menunjukkan, sekitar 76 persen kematian ibu terjadi di fase persalinan dan 62 persen di antaranya terjadi di rumah sakit.

"Problemnya bukan cuman nakes dan infrastruktur tapi juga sistem yang mengkoneksikan semuanya. Masalah AKI (Angka Kematian Ibu) sangat kompleks sekali ya. Jadi kita jangan banyak-banyak saja punya anak, kita harus berpikir tentang sustainability," ujar Prof Ova.

Deputi Bidang Pelatihan, Penelitian, dan Pengembangan (Lalitbang) BKKBN Prof Muhammad Rizal Martua Damanik , dalam kesempatan yang sama menyebut stunting juga menjadi salah satu fokus utama yang ingin diatasi pemerintah. Stunting juga telah menjadi isu prioritas nasional yang masuk ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020 - 2024.

"Stunting di Indonesia pada 2021 itu 24,4 persen," ungkap Prof Damanik.

Stunting dapat diartikan sebagai kondisi gagal tumbuh pada anak baik fisik maupun psikis akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama. Postur anak stunting akan lebih pendek dari anak normal seusianya dan memiliki keterlambatan dalam berpikir.

Stunting memiliki efek jangka panjang pada individu dan masyarakat, termasuk kognisi dan kinerja pendidikan yang buruk hingga kehilangan produktivitas. Bahkan dapat berisiko lebih tinggi mengidap penyakit degeneratif, seperti kanker, diabetes, dan obesitas di masa depan.

Penyebab stunting menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) yakni faktor lingkungan dan genetik. Faktor lingkungan yang berperan dalam menyebabkan perawakan pendek antara lain status gizi ibu, pola pemberian makan kepada anak, kebersihan lingkungan, dan angka kejadian infeksi pada anak.

Selain faktor lingkungan, stunting dapat disebabkan oleh faktor genetik dan hormonal, namun hal ini sangatlah jarang. Karena sebagian besar stunting disebabkan oleh kekurangan gizi, dan notabene kasus ini masih dapat dicegah.



Simak Video "Momen Polisi Bangunkan Maling yang Ketiduran di Ruang Guru SDN Blora"
[Gambas:Video 20detik]
(aku/apl)