21.000 Ha Lahan Pertanian di Klaten Kritis Gegara Eksploitasi dan Pupuk Kimia

Achmad Hussein Syauqi - detikJateng
Kamis, 02 Jun 2022 14:09 WIB
Diskusi revolusi kesuburan tanah KTNA Klaten, Kamis (2/6/2022).
Diskusi revolusi kesuburan tanah KTNA Klaten. (Foto: Achmad Hussein Syauqi/detikJateng)
Klaten -

Sebanyak 70 persen lahan pertanian dari total lahan seluas 30.514 hektare dilaporkan rusak. Kerusakan ini disebabkan karena pemakaian pupuk kimia yang hingga saat ini masih terus berlangsung.

"Klaten ini sudah 70 persen tanah rusak berdasar buku riset penelitian sejak 2013 di buku kuning UGM. Kerusakan itu karena residu bahan kimia," ujar Plt Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Klaten, Maryanto, di sela halalbihalal pengurus dan Dinas Ketahanan Pangan di aula rumah dinas Bupati Klaten, Kamis (2/6/2022).

Maryanto menjelaskan pemakaian pupuk kimia sejak revolusi pertanian pada 1975 meninggalkan residu kimia berlebih. Tahun 2010 pemerintah pernah mencanangkan pupuk organik tetapi sulit diukur keberhasilannya.


"Kalau tidak salah 2010 pernah mencanangkan go organik tapi kan belum berhasil. Kami sudah melakukan pembinaan jaringan untuk merevolusi kesuburan tanah," papar Maryanto.

KTNA, lanjut Maryanto, sudah memiliki jaringan untuk gerakan mengembalikan kesuburan tanah ke pupuk organik meskipun tidak banyak jumlahnya. Baru ada sekitar 10 persen dari jumlah petani.

"Paling kita baru punya jaringan 10 persen dari total petani yang sadar pentingnya kesuburan tanah. Kami KTNA mempelopori revolusi kesuburan tanah, mau tidak mau organik harus masuk," sambung Maryanto.

Apalagi saat ini, ucap Maryanto, permintaan konsumen terhadap beras berkualitas terus meningkat. KTNA pun mengaku mendapatkan pesanan beras dari Jakarta 50 ton per bulan.

"Kita dapat pesanan beras dari Jakarta rata-rata 50 ton per bulan tapi SOP-nya harus beras berkualitas. Untuk ini kita membangun jaringan dengan luas lahan 300 hektare," imbuh Maryanto.

Wakil Ketua KTNA Atok Susanto menambahkan dari catatan KTNA luas lahan yang rusak 70 persen atau sekitar 21.000 hektare dari total 30.514 hektare lahan yang ada. Penyebabnya tanah dieksploitasi terus menerus.

"Kalau dikalkulator di Klaten ada 21.000 hektare lahan yang kritis. Untuk mengembalikan kesuburan perlu pembinaan petani, sebab tidak bisa hanya petani sendiri, perlu SDM yang mengetahui," kata Atok kepada detikJateng di lokasi.

"Tanah dieksploitasi terus menerus dan tidak berhenti pemakaian pupuk kimia. Akibatnya produksi terus turun satu hektare 7 ton menjadi 6 ton," sambung.

Antok menuturkan jika kondisi ini tidak diperbaiki, produksi padi akan terus menurun. Sikap petani yang sudah tergantung dengan pupuk kimia pun dinilai menjadi kendala untuk kembali ke pupuk organik.

"Petani sudah kimia minded karena praktis karena dengan organik harus bawa besar. Untuk kimia cukup 5 kuintal/hektare tetapi organik butuh minimal 2 ton per hektare," terang Atok.

Koordinator Pejabat Fungsional Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Pemkab Klaten, Pariman, tidak membantah hasil penelitian itu.

"Kalau tidak salah itu penelitian sejak 2013 di Bappeda. Angka pastinya saya lupa tapi memang sebagian besar rusak," ungkap Pariman kepada detikJateng.

Penyebab kerusakan tanah itu, sebut Pariman, pemakaian pupuk dan bahan pembasmi hama dari bahan kimia. Kerusakan itu akibat perilaku petani sendiri.

"Akibat dari petani sendiri menggunakan pupuk kimia berlebih tidak diimbangi organik. Mengendalikan hama juga dengan kimia sehingga membunuh cacing, ini jelas menurunkan produksi dan sekarang 6,2 ton per hektare, terus cenderung menurun," pungkas Pariman.



Simak Video "Baliho Raksasa Ajak Nikah Mbak Maya Nangkring di Klaten"
[Gambas:Video 20detik]
(ams/sip)