Kisah Dusun Kalikuning dan Penduduknya Hilang Terkubur Longsor dalam Sekejap

Kisah Dusun Kalikuning dan Penduduknya Hilang Terkubur Longsor dalam Sekejap

Saktyo Dimas R - detikJateng
Kamis, 02 Jun 2022 08:10 WIB
Lokasi bekas Dusun Kalikuning yang terkubur tanah longsor 40-an tahun silam, Selasa (31/5/2022).
Lokasi bekas Dusun Kalikuning yang terkubur tanah longsor 40-an tahun silam, Selasa (31/5/2022). Foto: Saktyo Dimas R/detikJateng
Semarang -

Peristiwa tragis menimpa Dusun Kalikuning, Desa Duren, Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Wilayah dusun dan puluhan penduduknya terkubur tanah longsor yang melanda 40-an tahun silam.

Salah satu korban selamat, Tuminem (71), menceritakan peristiwa memilukan yang terekam dalam ingatannya itu. Disebutkannya, tanah longsor yang melenyapkan Dusun Kalikuning terjadi pada tahun 1975.

"Saya ingatnya kalau tidak salah itu tanggal 15 September 1975 harinya Senin Pahing. Saat itu saya berusia 24 tahun. Kejadiannya saat (waktu) isya," kata Tuminem saat berbincang dengan detikJateng di lokasi bekas Dusun Kalikuning, Selasa (31/5/2022).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebelum kejadian, wilayah Dusun Kalikuning diguyur hujan lebat sejak sore hari. Selain itu terdengar suara petir disusul gemuruh.

"Waktu itu hujan lebat dari jam 4 sore. Terus ada suara petir dan gemuruh yang keras, mungkin seluruh warga Dusun Kalikuning dengar semuanya. Tapi saya saja menganggapnya suara dari petir soalnya bersamaan," ujarnya.

ADVERTISEMENT

"Tahu-tahu langsung ada suara brukk kena tembok belakang (rumah) saya," lanjutnya

Saat itu Tuminem berada di dalam rumah. Gemuruh yang dia dengar ternyata tanah longsor dan yang mengenai tembok belakang rumahnya adalah bangunan milik kakaknya yang roboh.

"Waktu kejadian, saya dengan suami dan tiga anak saya ada di dalam rumah lagi bikin nasi jagung. Hujannya lebat dan bersamaan itu ada suara gemuruh keras sekali, tahu-tahu tembok rumah saya tertimpa bangunan rumah kakak saya. Saya sekeluarga lari keluar rumah," paparnya.

Di luar rumah, Tuminem mendengar teriakan-teriakan warga minta tolong. Meski saat itu kondisi gelap gulita, dia sedikit bisa melihat arah longsoran dari atas bukit.

"Banyune seko duwur campur lemah koyo banjir lahar tekone cepet banget (Airnya dari atas campur tanah seperti banjir lahar datangnya tiba-tiba) dari atas Bukit Kalikuning sekitar 15 menitan banjir lahar kuwi lewat (tanah longsor itu lewat)," ungkapnya.

"Hujannya baru berhenti setelah banjir longsor berhenti juga," sambungnya.

Tuminem sekeluarga dan warga lainnya yang selamat kemudian menyelamatkan diri ke dusun tetangga yang tidak terkena longsor, seperti Dusun Tlawah, Dusun Brujulan, dan Dusun Duren.

"Kalau saya mengungsi ke Dusun Tlawah karena lebih dekat sekitar satu kilometer dari Kalikuning. Warga tidak ada yang bawa apa-apa, harta benda terkubur dengan tanah. Yang dibawa ya cuma baju yang dipakai saja," ungkapnya.

Lokasi bekas Dusun Kalikuning yang terkubur tanah longsor 40-an tahun silam, Selasa (31/5/2022).Lokasi bekas Dusun Kalikuning yang terkubur tanah longsor 40-an tahun silam, Selasa (31/5/2022). Foto: Saktyo Dimas R/detikJateng

Pagi harinya, warga yang selamat melihat kondisi Dusun Kalikuning dan mendapati hampir seluruhnya rata dengan tanah. Tampak puing-puing sisa bangunan.

"Banyak warga yang selamat menangis setelah melihat kondisi Dusun Kalikuning yang hampir rata dengan tanah. Hancur semuanya termasuk rumah kakak dan tetangga saya. Hancur semuanya termasuk rumah kakak dan tetangga saya," ucapnya sambil terisak.

"Mereka juga menangis karena kehilangan orang tua maupun saudara yang tinggal di Dusun Kalikuning, termasuk saya kehilangan saudara-saudara. Kalau diingat kejadiannya ya sedih. Saya kehilangan lima saudara saya, mereka meninggalnya di dalam rumah dan rumahnya tertimbun longsor," imbuh Tuminem.

Menurutnya, Dusun Kalikuning saat itu ditinggali 64 Kepala Keluarga (KK). Total 46 warga yang meninggal dalam peristiwa tanah longsor itu. Karena keterbatasan alat evakuasi dan lokasi dusun yang susah dijangkau alat berat, hanya delapan jenazah warga yang berhasil ditemukan. Satu dimakamkan di lokasi kejadian karena jasadnya tidak bisa diambil dan tujuh jasad dimakamkan dalam dua liang lahad secara berdampingan.

"Warga di Dusun Kalikuning tidak menyangka kalau ada longsor malam itu yang kemudian merenggut nyawa 46 orang. Semua warga ada di dalam rumah dan sebagian rumah yang ada di Dusun Kalikuning hanyut dan tertimbun tanah," tutur Tuminem yang saat ini tinggal di Dusun Tlawah.

Hal yang sama diceritakan warga selamat lainnya, Tukul Paryanto.

"Saya ingat betul peristiwa itu karena usia saya waktu itu 18 tahun. Kalau yang diingat ya semuanya bahkan rasa trauma itu muncul," kata Tukul yang kini tinggal di Dusun Tlawah, Desa Keseneng, Kecamatan Sumowono.

Saat kejadian, Tukul hendak salat isya ke musala Dusun Kalikuning. Belum sempat keluar rumah, Tukul mendengar gemuruh.

"Saya kan mau salat isya waktu kejadian. Belum sampai keluar rumah, saya dengar suara petir dan gemuruh terus ada longsoran itu," jelasnya.

Tukul menceritakan tanah longsor menimpa bagian belakang rumahnya. Dia dan keluarganya pun berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri. Namun, Tukul kembali masuk ke rumah untuk menyelamatkan adiknya.

"Yang lainnya pada keluar rumah semua, saya balik masuk lagi karena adik saya tertinggal. Dia tertimpa kayu penyangga waktu lagi tidur. Terus saya selamatkan dan saya gendong sambil lari," pungkas Tukul.




(rih/sip)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads