Dikenal sebagai kota yang nyaman untuk berlibur, berbelanja, dan menikmati kuliner, Kota Kembang rupanya menyimpan lapisan sejarah yang masih hidup dalam bentuk bangunan tua.
Di antara gedung-gedung kolonial, toko-toko era Hindia Belanda, dan kawasan perkotaan yang tumbuh sejak akhir abad ke-19, sejumlah hotel justru menjadi rumah bagi memori Bandung.
Mereka tidak hanya menyediakan tempat tidur dan sarapan, melainkan juga menyimpan jejak arsitektur, pergantian nama, peristiwa politik, hingga kehidupan sosial masyarakat Bandung dari masa ke masa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 7 Tahun 2018 tentang Pengelolaan Cagar Budaya dan Open Data Bandung, terdapat bangunan-bangunan yang tercantum dalam daftar cagar budaya dengan klasifikasi Golongan A, B, dan C, yang menunjukkan tingkat nilai serta perlindungan historisnya.
Perbedaan Cagar Budaya Golongan A, B, dan C
Sebelum membahas lebih jauh, detikers harus mengetahui dahulu perbedaan antara ketiga golongan tersebut. Perbedaan utama cagar budaya Golongan A, B, dan C terletak pada tingkat keaslian bangunan dan batas pembaruan yang diizinkan.
Cagar budaya Golongan A merupakan bangunan yang sangat penting dan wajib dipertahankan keasliannya secara mutlak, sehingga sama sekali tidak boleh dibongkar atau diubah strukturnya.
Sedangkan Golongan B memiliki tingkat kelonggaran sedikit lebih tinggi, di mana bangunan utama wajib dipertahankan, namun perubahan atau penambahan bangunan baru di bagian dalam atau belakang tapak masih diizinkan selama selaras dengan bangunan asli.
Sementara itu, Golongan C memiliki fleksibilitas paling tinggi, sehingga bangunan boleh dibongkar atau direvitalisasi total untuk fungsi baru, asalkan fasad atau tampak depan utama dan replika arsitektur aslinya tetap dipertahankan guna menjaga nilai sejarah kawasan tersebut.
1. Hotel Savoy Homann
Hotel Savoy Homann adalah ikon paling terkenal di antara hotel cagar budaya di Bandung. Melansir dari laman resmi Hotel Savoy Homann, cikal bakalnya sudah ada sebelum 1888 dan awalnya dimiliki oleh A. Homann, imigran asal Jerman yang tiba di Tatar Priangan sekitar tahun 1870. Bangunan awalnya masih berupa rumah panggung sederhana berdinding bambu dan beratap rumbia, jauh dari kesan megah seperti yang tampak saat ini.
Dalam penelitian Linof, K. A., & Irawati, R. I. (2026) disampaikan, renovasi besar mulai dilakukan pada Februari 1937 dan selesai pada akhir 1939. Hotel baru itu, yang dirancang oleh arsitek A.F. Aalbers dibantu R. de Waal, menghadirkan gaya Art Deco Streamline yang khas dengan garis melengkung menyerupai gelombang.
Hingga puncaknya pada Konferensi Asia-Afrika 1955, hotel ini menjadi tempat menginap bagi sejumlah delegasi internasional, sehingga nilai sejarahnya semakin kuat.
Kini Savoy Homann tetap beroperasi sebagai hotel mewah dengan nuansa klasik. Fasilitasnya mencakup kamar bergaya vintage, restoran, ruang pertemuan, serta lokasi strategis di Jalan Asia Afrika dekat Museum Konferensi Asia Afrika.
Pembeda utamanya adalah pengalaman menginap yang terasa seperti kembali ke era kolonial tanpa meninggalkan pelayanan modern. Tarif menginapnya umumnya berada pada kisaran Rp 1,5 juta hingga Rp 3 juta per malam, tergantung tipe kamar dan musim.
2. éL Hotel Bandung
Bangunan yang kini dikenal sebagai éL Hotel Bandung memiliki akar sejarah sebagai Pension van Hengel dan kemudian dikenal sebagai Hotel Panghegar. Lokasinya yang berada di kawasan pusat kota sejak lama menjadi simpul perdagangan, perjalanan, dan kehidupan sosial di Bandung.
Pemerintah Kota Bandung mencatat bangunan ini sebagai cagar budaya Golongan A. Pada masa lalu, bangunan ini berfungsi sebagai penginapan yang melayani tamu kota sebelum akhirnya mengalami perubahan fungsi dan identitas seiring perkembangan pariwisata Bandung.
Fasilitas yang ditawarkan umumnya meliputi kamar dengan desain kontemporer, kolam renang, restoran, ruang pertemuan, serta akses mudah ke pusat perbelanjaan dan kawasan wisata Bandung. Harga per malamnya umumnya berkisar Rp 700 ribu hingga Rp 1,5 juta, bergantung pada kamar dan waktu reservasi.
3. Gino Feruci Kebonjati
Gino Feruci Kebonjati berdiri di Jalan Kebon Jati No. 71-75 dan merupakan salah satu bangunan bersejarah di Bandung. Bangunan ini dikenal sebagai bekas Hotel Surabaya yang dibuka pada 1886, sehingga usianya mendahului banyak penginapan legendaris lain di kota ini. Tak heran jika bangunan ini termasuk ke dalam kategori Cagar Budaya Golongan A.
Kehadirannya sendiri berkaitan erat dengan perkembangan jalur kereta api Batavia-Bandung yang membuat kota ini semakin ramai oleh aktivitas perdagangan dan administrasi kolonial.
Bangunan ini memperlihatkan pengaruh gaya Neoklasik dan Art Nouveau, dengan karakter fasad yang masih menjadi penanda identitas historisnya. Saat ini, Gino Feruci Kebonjati beroperasi sebagai hotel berbintang empat dengan lebih dari seratus kamar.
Fasilitasnya mencakup restoran, ruang rapat, area parkir, serta layanan akomodasi yang cocok bagi pekerja dan keluarga. Nilai jual utamanya adalah kombinasi antara lokasi dekat Stasiun Bandung dan nuansa bangunan tua yang jarang ditemukan pada hotel modern. Tarifnya umumnya berkisar Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta per malam.
4. Hotel Lengkong (Ex-BKPPN)
Hotel Lengkong berada di Jalan Lengkong Besar No. 4 dan tercatat sebagai bangunan cagar budaya Golongan A dalam dokumen resmi Pemerintah Kota Bandung. Pada masa sebelumnya, bangunan ini dikenal berkaitan dengan Gedung Koperasi Pegawai Negeri Republik Indonesia atau BKPPN, sebelum akhirnya dialihfungsikan menjadi hotel pada Agustus 2004.
Karakter bangunannya memperlihatkan pengaruh Art Deco Streamline Moderne, termasuk bentuk atap yang mengingatkan pada dek kapal, sebuah bahasa arsitektur yang populer pada awal abad ke-20.
Kini hotel ini menyasar wisatawan yang ingin tinggal dekat dengan pusat kota, Gedung Sate, Masjid Raya Bandung, serta kawasan Braga. Fasilitasnya meliputi kamar berukuran luas, restoran, ruang pertemuan, dan area parkir. Harga per malamnya umumnya berada pada kisaran Rp 400 ribu hingga Rp 900 ribu.
5. Hotel Whiz Prime
Whiz Prime Hotel di Jalan Asia Afrika No. 39 merupakan adaptasi dari bangunan lama Dezon NV. Gedung Dezon dibangun sekitar tahun 1920-an dan semula berfungsi sebagai toko. Bangunan bergaya Art Deco geometris ini kemudian masuk dalam daftar cagar budaya Golongan A melalui regulasi pengelolaan cagar budaya Kota Bandung.
Dalam perkembangannya, bagian depan bangunan lama dipertahankan sebagai elemen warisan, sementara area di belakangnya dikembangkan menjadi hotel modern. Kondisi ini menjadikan Whiz Prime menarik karena menawarkan fasad historis di kawasan Asia Afrika, tetapi interior dan fasilitasnya mengikuti standar hotel bisnis kontemporer.
Tamu dapat menikmati kamar modern, sarapan, ruang pertemuan, serta akses berjalan kaki menuju Museum Konferensi Asia-Afrika dan Jalan Braga. Tarif per malamnya umumnya berkisar Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta.
6. Hotel Bumi Asih
Hotel Bumi Asih berada di Jalan Cilamaya No. 1, dekat Gedung Sate dan Museum Geologi. Bangunan ini tercatat sebagai cagar budaya Golongan B dan dipercaya telah berdiri sekitar tahun 1950 dengan nama awal Pension Benvenuto.
Karakter utama Hotel Bumi Asih adalah suasana kolonial yang tenang, dengan kamar-kamar yang dikelilingi taman rindang. Berbeda dengan hotel heritage di Jalan Asia-Afrika yang berada di tengah kawasan komersial, Bumi Asih menawarkan ketenangan yang lebih dekat dengan kawasan Gedung Sate.
Fasilitasnya mencakup restoran, taman, ruang pertemuan, dan akses mudah ke museum serta kawasan Jalan Riau. Harga per malamnya umumnya berkisar Rp 400 ribu hingga Rp 800 ribu.
7. Hotel Ibis Styles
Dalam penelitian SIHOMBING, R. P., & Soewarno, N. (2022), disampaikan bahwa Hotel Ibis Styles Bandung Braga merupakan wujud baru dari Hotel Wilhelmina yang berdiri di Jalan Braga No. 8. Bangunan ini didirikan sekitar 1928-1931 dan pernah berganti nama menjadi Hotel Des Pays Bas, Hotel Bristol, lalu Hotel Braga sebelum akhirnya menggunakan merek Ibis Styles.
Dahulu, hotel ini melayani pejabat dan kalangan elit Eropa pada masa kolonial. Kini, bangunan cagar budaya Golongan B ini dipadukan dengan fasilitas hotel modern, termasuk kamar bergaya kontemporer, sarapan, ruang pertemuan, dan lokasi yang sangat strategis di jantung Jalan Braga.
Pembedanya adalah kemampuan mempertahankan elemen bangunan lama di bagian depan, sementara bagian dalamnya disesuaikan dengan kebutuhan wisatawan masa kini. Tarif per malamnya umumnya berkisar Rp 600 ribu hingga Rp 1,2 juta.
8. Vasaka Maison Bandung
Vasaka Maison Bandung, sebelumnya bernama Maison Teraskita, berada di Jalan Asia Afrika No. 55. Lokasinya berada tepat di kawasan Braga, salah satu distrik paling kaya akan warisan kolonial di Bandung. Bangunan ini tercatat sebagai cagar budaya Golongan B.
Dahulu, kawasan ini menjadi bagian dari pusat kegiatan ekonomi dan sosial Bandung. Kini, Vasaka Maison menghadirkan pengalaman menginap dengan sentuhan heritage, terutama karena beberapa elemen bangunan tua masih dipertahankan.
Fasilitasnya mencakup kamar modern, restoran, serta kedekatan dengan Jalan Braga, Masjid Raya Bandung, dan Alun-Alun Kota Bandung. Harga per malamnya umumnya berkisar Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta.
9. Hotel Sarinah Braga
Dalam penelitiannya Izzati, H., Andiyan, A., & Nurrisman, O. (2022) disampaikan, de Braga by ARTOTEL atau yang sebelumnya dikenal sebagai Hotel Sarinah Braga, dibangun melalui proyek revitalisasi aset PT Sarinah (Persero) sejak tahun 2016 untuk memanfaatkan gedung cagar budaya yang dulunya merupakan toko fashion era kolonial Belanda bernama Onderling Belang.
Resmi dibuka pada tahun 2018, hotel butik bintang 4 ini mengusung misi menyelamatkan arsitektur bersejarah sekaligus menghidupkan kembali pusat kegiatan ekonomi kreatif di jantung Kota Bandung.
Secara visual, bangunan ini secara deskriptif memadukan monolit modern 14 lantai dengan podium asli bergaya Art Deco khas tahun 1920-an, serta mengintegrasikan unsur interior eklektik, galeri seni kontemporer, dan sentuhan budaya Jawa Barat.
Hotel Sarinah Braga termasuk dalam daftar cagar budaya Golongan C. Kehadiran hotel ini memperkuat karakter Jalan Braga sebagai koridor warisan yang terus hidup sebagai ruang wisata, belanja, dan kuliner.
Bangunan ini kini beroperasi sebagai hotel dengan fasilitas yang lebih mengutamakan kenyamanan praktis, seperti kamar, sarapan, Wi-Fi, dan akses mudah ke kawasan Braga.
Daya tarik utamanya adalah lokasinya yang memungkinkan tamu menjelajahi kawasan heritage Bandung dengan berjalan kaki. Tarif per malamnya umumnya berkisar Rp 400 ribu hingga Rp 800 ribu.
10. Hotel Royal Palace
Hotel Royal Palace juga tercatat sebagai bangunan cagar budaya Golongan C. Berbeda dengan Savoy Homann atau Ibis Styles Braga yang lebih dikenal luas, Royal Palace menawarkan sisi lain dari pelestarian warisan Bandung, hotel yang berfungsi sebagai akomodasi aktif sekaligus menjadi bagian dari lanskap sejarah kota.
Kondisi bangunannya kini telah disesuaikan dengan kebutuhan penginapan modern, meskipun status cagar budayanya menuntut kehati-hatian dalam perubahan fisik. Fasilitas yang ditawarkan mencakup kamar, ruang makan, serta layanan dasar hotel. Harga per malamnya umumnya berkisar Rp 350 ribu hingga Rp 700 ribu, menjadikannya pilihan yang relatif terjangkau bagi wisatawan yang ingin merasakan nuansa menginap di bangunan bersejarah.
Deretan hotel di atas menunjukkan bahwa Bandung tidak hanya menyimpan sejarah dalam museum atau gedung pemerintahan, tetapi juga dalam tempat menginap yang masih digunakan setiap hari.
Setiap bangunan membawa cerita tentang perjalanan kota dari masa kolonial menuju Bandung masa kini. Status cagar budaya Golongan A, B, dan C bukan sekadar label administratif, melainkan pengingat bahwa pembangunan dan pelestarian dapat berjalan beriringan.
