Wisata Sejarah: 10 Hotel Cagar Budaya di Kota Kembang

Yogi Bagus Prasetyo - detikJabar
Senin, 19 Okt 2026 06:00 WIB
Hotel Savoy Homann (Foto: Nur Khansa Ranawati/detikJabar)
Bandung -

Dikenal sebagai kota yang nyaman untuk berlibur, berbelanja, dan menikmati kuliner, Kota Kembang rupanya menyimpan lapisan sejarah yang masih hidup dalam bentuk bangunan tua.

Di antara gedung-gedung kolonial, toko-toko era Hindia Belanda, dan kawasan perkotaan yang tumbuh sejak akhir abad ke-19, sejumlah hotel justru menjadi rumah bagi memori Bandung.

Mereka tidak hanya menyediakan tempat tidur dan sarapan, melainkan juga menyimpan jejak arsitektur, pergantian nama, peristiwa politik, hingga kehidupan sosial masyarakat Bandung dari masa ke masa.

Berdasarkan Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 7 Tahun 2018 tentang Pengelolaan Cagar Budaya dan Open Data Bandung, terdapat bangunan-bangunan yang tercantum dalam daftar cagar budaya dengan klasifikasi Golongan A, B, dan C, yang menunjukkan tingkat nilai serta perlindungan historisnya.

Perbedaan Cagar Budaya Golongan A, B, dan C

Sebelum membahas lebih jauh, detikers harus mengetahui dahulu perbedaan antara ketiga golongan tersebut. Perbedaan utama cagar budaya Golongan A, B, dan C terletak pada tingkat keaslian bangunan dan batas pembaruan yang diizinkan.

Cagar budaya Golongan A merupakan bangunan yang sangat penting dan wajib dipertahankan keasliannya secara mutlak, sehingga sama sekali tidak boleh dibongkar atau diubah strukturnya.

Sedangkan Golongan B memiliki tingkat kelonggaran sedikit lebih tinggi, di mana bangunan utama wajib dipertahankan, namun perubahan atau penambahan bangunan baru di bagian dalam atau belakang tapak masih diizinkan selama selaras dengan bangunan asli.

Sementara itu, Golongan C memiliki fleksibilitas paling tinggi, sehingga bangunan boleh dibongkar atau direvitalisasi total untuk fungsi baru, asalkan fasad atau tampak depan utama dan replika arsitektur aslinya tetap dipertahankan guna menjaga nilai sejarah kawasan tersebut.

1. Hotel Savoy Homann

Hotel Savoy Homann adalah ikon paling terkenal di antara hotel cagar budaya di Bandung. Melansir dari laman resmi Hotel Savoy Homann, cikal bakalnya sudah ada sebelum 1888 dan awalnya dimiliki oleh A. Homann, imigran asal Jerman yang tiba di Tatar Priangan sekitar tahun 1870. Bangunan awalnya masih berupa rumah panggung sederhana berdinding bambu dan beratap rumbia, jauh dari kesan megah seperti yang tampak saat ini.

Dalam penelitian Linof, K. A., & Irawati, R. I. (2026) disampaikan, renovasi besar mulai dilakukan pada Februari 1937 dan selesai pada akhir 1939. Hotel baru itu, yang dirancang oleh arsitek A.F. Aalbers dibantu R. de Waal, menghadirkan gaya Art Deco Streamline yang khas dengan garis melengkung menyerupai gelombang.

Hingga puncaknya pada Konferensi Asia-Afrika 1955, hotel ini menjadi tempat menginap bagi sejumlah delegasi internasional, sehingga nilai sejarahnya semakin kuat.

Kini Savoy Homann tetap beroperasi sebagai hotel mewah dengan nuansa klasik. Fasilitasnya mencakup kamar bergaya vintage, restoran, ruang pertemuan, serta lokasi strategis di Jalan Asia Afrika dekat Museum Konferensi Asia Afrika.

Pembeda utamanya adalah pengalaman menginap yang terasa seperti kembali ke era kolonial tanpa meninggalkan pelayanan modern. Tarif menginapnya umumnya berada pada kisaran Rp 1,5 juta hingga Rp 3 juta per malam, tergantung tipe kamar dan musim.

2. éL Hotel Bandung

Bangunan yang kini dikenal sebagai éL Hotel Bandung memiliki akar sejarah sebagai Pension van Hengel dan kemudian dikenal sebagai Hotel Panghegar. Lokasinya yang berada di kawasan pusat kota sejak lama menjadi simpul perdagangan, perjalanan, dan kehidupan sosial di Bandung.

Pemerintah Kota Bandung mencatat bangunan ini sebagai cagar budaya Golongan A. Pada masa lalu, bangunan ini berfungsi sebagai penginapan yang melayani tamu kota sebelum akhirnya mengalami perubahan fungsi dan identitas seiring perkembangan pariwisata Bandung.

Fasilitas yang ditawarkan umumnya meliputi kamar dengan desain kontemporer, kolam renang, restoran, ruang pertemuan, serta akses mudah ke pusat perbelanjaan dan kawasan wisata Bandung. Harga per malamnya umumnya berkisar Rp 700 ribu hingga Rp 1,5 juta, bergantung pada kamar dan waktu reservasi.

3. Gino Feruci Kebonjati

Gino Feruci Kebonjati berdiri di Jalan Kebon Jati No. 71-75 dan merupakan salah satu bangunan bersejarah di Bandung. Bangunan ini dikenal sebagai bekas Hotel Surabaya yang dibuka pada 1886, sehingga usianya mendahului banyak penginapan legendaris lain di kota ini. Tak heran jika bangunan ini termasuk ke dalam kategori Cagar Budaya Golongan A.

Kehadirannya sendiri berkaitan erat dengan perkembangan jalur kereta api Batavia-Bandung yang membuat kota ini semakin ramai oleh aktivitas perdagangan dan administrasi kolonial.

Bangunan ini memperlihatkan pengaruh gaya Neoklasik dan Art Nouveau, dengan karakter fasad yang masih menjadi penanda identitas historisnya. Saat ini, Gino Feruci Kebonjati beroperasi sebagai hotel berbintang empat dengan lebih dari seratus kamar.

Fasilitasnya mencakup restoran, ruang rapat, area parkir, serta layanan akomodasi yang cocok bagi pekerja dan keluarga. Nilai jual utamanya adalah kombinasi antara lokasi dekat Stasiun Bandung dan nuansa bangunan tua yang jarang ditemukan pada hotel modern. Tarifnya umumnya berkisar Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta per malam.

4. Hotel Lengkong (Ex-BKPPN)

Hotel Lengkong berada di Jalan Lengkong Besar No. 4 dan tercatat sebagai bangunan cagar budaya Golongan A dalam dokumen resmi Pemerintah Kota Bandung. Pada masa sebelumnya, bangunan ini dikenal berkaitan dengan Gedung Koperasi Pegawai Negeri Republik Indonesia atau BKPPN, sebelum akhirnya dialihfungsikan menjadi hotel pada Agustus 2004.

Karakter bangunannya memperlihatkan pengaruh Art Deco Streamline Moderne, termasuk bentuk atap yang mengingatkan pada dek kapal, sebuah bahasa arsitektur yang populer pada awal abad ke-20.

Kini hotel ini menyasar wisatawan yang ingin tinggal dekat dengan pusat kota, Gedung Sate, Masjid Raya Bandung, serta kawasan Braga. Fasilitasnya meliputi kamar berukuran luas, restoran, ruang pertemuan, dan area parkir. Harga per malamnya umumnya berada pada kisaran Rp 400 ribu hingga Rp 900 ribu.

5. Hotel Whiz Prime

Whiz Prime Hotel di Jalan Asia Afrika No. 39 merupakan adaptasi dari bangunan lama Dezon NV. Gedung Dezon dibangun sekitar tahun 1920-an dan semula berfungsi sebagai toko. Bangunan bergaya Art Deco geometris ini kemudian masuk dalam daftar cagar budaya Golongan A melalui regulasi pengelolaan cagar budaya Kota Bandung.

Dalam perkembangannya, bagian depan bangunan lama dipertahankan sebagai elemen warisan, sementara area di belakangnya dikembangkan menjadi hotel modern. Kondisi ini menjadikan Whiz Prime menarik karena menawarkan fasad historis di kawasan Asia Afrika, tetapi interior dan fasilitasnya mengikuti standar hotel bisnis kontemporer.

Tamu dapat menikmati kamar modern, sarapan, ruang pertemuan, serta akses berjalan kaki menuju Museum Konferensi Asia-Afrika dan Jalan Braga. Tarif per malamnya umumnya berkisar Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta.




(iqk/iqk)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork