Kisah Villa Isola, Saksi Bisu Perjalanan Sejarah di Bandung

Kisah Villa Isola, Saksi Bisu Perjalanan Sejarah di Bandung

Zaenab Nurhabibah - detikJabar
Minggu, 04 Okt 2026 08:30 WIB
Gedung Isola UPI di Bandung.
Gedung Isola UPI di Bandung. (Foto: Anindya Aurellia Devi/detikJabar)
Bandung -

Kalau detikers pernah melewati Jalan Dr. Setiabudi Bandung, atau pernah mengunjungi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), ada satu bangunan putih yang pastinya langsung mencuri perhatian.

Bangunan tersebut adalah Villa Isola, yang kini dikenal sebagai Gedung Bumi Siliwangi dan menjadi bagian penting dari kompleks Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Villa Isola merupakan salah satu bangunan bersejarah di Bandung dengan gaya arsitektur Art Deco.

Namun, sebelum menjadi gedung rektorat UPI seperti sekarang, bangunan ini memiliki perjalanan panjang sejak masa kolonial.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bagaimana Sejarah Villa Isola Bandung?

Villa Isola dibangun atas permintaan Dominique Willem Berretty, tokoh media yang dikenal sebagai pendiri kantor berita ANETA di Hindia Belanda. Berretty merupakan salah satu pengusaha media yang sangat kaya dan berpengaruh pada masanya.

Pembangunan Villa Isola dimulai pada Oktober 1932 dan selesai sekitar Maret 1933, dikerjakan oleh biro arsitektur AIA dengan C.P. Wolff Schoemaker sebagai arsiteknya. Biaya pembangunannya mencapai sekitar 500.000 gulden, jumlah yang sangat besar pada masa itu.

ADVERTISEMENT

Villa tersebut berdiri di kawasan Bandung Utara yang pada masa itu masih relatif jauh dari keramaian pusat kota, tepatnya di Jalan Setiabudi, kawasan yang mengarah ke Lembang.

Salah satu hal yang membuat Villa Isola menarik adalah rancangan arsitekturnya. Schoemaker dikenal sebagai arsitek yang banyak menggabungkan gaya modern dengan unsur arsitektur dan filosofi lokal.

Villa Isola menggunakan karakter Art Deco dengan bentuk geometris, garis-garis melengkung, serta komposisi bangunan yang terlihat simetris. Di sisi lain, Schoemaker juga memperhatikan orientasi bangunan terhadap lingkungan dan arah utara-selatan.

Bagian bangunan yang menghadap utara dan selatan dirancang dengan memperhatikan orientasi kosmik, lingkungan sekitar, serta pemanfaatan cahaya matahari. Hal tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana arsitektur modern pada masa itu dipadukan dengan pemikiran tradisional.

Dari Villa Isola, pemandangan Bandung dan pegunungan di sekitarnya juga dapat dinikmati. Taman serta kolam yang mengelilingi bangunan semakin memperkuat kesan megahnya.

Mengapa Namanya Villa Isola?

Villa Isola sekitar tahun 1934-anVilla Isola sekitar tahun 1934-an Foto: Leiden Digital Collections

Nama Isola memiliki cerita tersendiri. Di bagian dalam bangunan terdapat tulisan "M'Isolo E Vivo", sebuah frasa dalam bahasa Italia yang kurang lebih bermakna "saya mengasingkan diri dan bertahan hidup".

Frasa tersebut berkaitan dengan filosofi Berretty terhadap tempat tinggalnya yang berada jauh dari keramaian kota. Lokasi Villa Isola yang ketika itu relatif terpencil membuatnya sesuai dengan makna tersebut.

Villa Isola awalnya digunakan sebagai kediaman pribadi Berretty. Namun, tak lama menikmati rumah tersebut, Berretty meninggal dalam kecelakaan pesawat dalam perjalanan dari Amsterdam menuju Batavia pada 1934.

Setelah itu, bangunan Villa Isola mengalami perubahan fungsi. Pada 1935, Villa Isola berubah menjadi Hotel Isola, yang merupakan cabang dari Grand Hotel Savoy Homann. Bangunan tersebut kemudian digunakan sebagai tempat menginap dan menerima tamu. Bahkan, dokumentasi Museum Pendidikan Nasional UPI menunjukkan adanya kunjungan tokoh penting ke Hotel Isola pada masa tersebut.

Perjalanan Villa Isola tidak berhenti di situ. Memasuki masa Perang Dunia II, bangunan ini mengalami perubahan fungsi lagi. Pada 1942, ketika Jepang datang ke Indonesia, Villa Isola pernah digunakan untuk kegiatan yang berkaitan dengan penyerahan Bandung dari pemerintah Belanda kepada Jepang. Bangunan ini sempat digunakan juga sebagai museum pada masa pendudukan Jepang.

Setelah Indonesia memasuki masa revolusi kemerdekaan, Villa Isola pernah digunakan oleh para pejuang dan mengalami kerusakan akibat konflik. Pada 16 Februari 1946, Villa Isola bahkan ditembaki dan dibom oleh pasukan Inggris dan Belanda.

Cikal Bakal Ikon Bersejarah UPI

Setelah masa perang, pemerintah Republik Indonesia menasionalisasi Villa Isola pada 1951, bangunan yang sebelumnya merupakan villa mewah tersebut kemudian diberi nama Bumi Siliwangi.

Tiga tahun kemudian, tepatnya 20 Oktober 1954, Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG) didirikan di Bandung. Lembaga pendidikan tersebut menjadi bagian penting dari sejarah perkembangan UPI.

Gedung Bumi Siliwangi yang berasal dari Villa Isola kemudian menjadi bagian dari kampus pendidikan guru tersebut. Dalam perkembangan selanjutnya, lembaga pendidikan tersebut berubah menjadi IKIP Bandung dan kemudian Universitas Pendidikan Indonesia. Villa Isola atau Bumi Siliwangi pun tetap dipertahankan dan kini digunakan sebagai Gedung Rektorat UPI.

Kini, Villa Isola tidak lagi berfungsi sebagai rumah pribadi ataupun hotel. Bangunan yang berada di kawasan UPI ini menjadi salah satu landmark Kota Bandung sekaligus saksi perjalanan panjang dari masa kolonial, perang, hingga perkembangan pendidikan tinggi di Indonesia.

Keunikan arsitekturnya, kisah D.W. Berretty, perubahan fungsi dari villa menjadi hotel, pengalaman pada masa perang, hingga perannya dalam sejarah pendidikan membuat Villa Isola memiliki cerita yang jauh lebih panjang daripada sekadar bangunan tua.

Tak heran jika sampai sekarang Villa Isola atau Bumi Siliwangi tetap menjadi salah satu bangunan ikonik yang melekat dengan identitas kawasan UPI dan sejarah Kota Bandung.

(iqk/iqk)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads