Menengok Museum ITB: Dari Sejarah hingga Gading Stegodon

Wisma Putra - detikJabar
Sabtu, 12 Sep 2026 12:30 WIB
Museum ITB (Foto: Wisma Putra/detikJabar).
Bandung -

Menghabiskan libur akhir pekan di Kota Bandung memang selalu menggiurkan, tetapi tempat mana yang masuk dalam daftar rencana Anda kali ini? Berjalan-jalan menyusuri deretan bangunan bersejarah di Braga, menikmati sejuknya angin malam di kawasan Dago, atau sekadar memburu kuliner di dalam mal mungkin menjadi opsi pertama yang terlintas. Namun, jika jujur diakui, agenda-agenda semacam itu sudah terlalu umum dan biasa dilakukan.

Bagi Anda yang tengah mencari destinasi liburan ramah anak sekaligus sarat akan nilai edukasi, Museum Institut Teknologi Bandung (ITB) bisa menjadi pilihan tepat. Berlokasi strategis di kawasan Gedung Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), Jalan Tamansari No. 73, Kota Bandung, museum ini bisa menjadi pilihan tepat.

Di sini, anak-anak diajak menyelami keajaiban sains dan teknologi secara langsung melalui berbagai wahana interaktif yang memantik rasa ingin tahu mereka. Tak hanya itu, museum ini juga membuka jendela waktu yang memperlihatkan perjalanan panjang ITB dari masa ke masa, menyajikan kisah-kisah inspiratif dan jejak inovasi yang mampu memotivasi serta memperluas wawasan si kecil dengan cara yang seru dan berkesan.

detikJabar berkesempatan berkunjung ke Museum ITB belum lama ini. Museum ini terletak di lantai 4 Gedung Sabuga. Pintu masuknya ada di kiri pojok Gedung Sabuga, jika Anda bingung nanti akan ada petunjuk arah yang mengarahkan Anda ke museum ini.

Seperti biasa, saat tiba di lobby utama, kita diwajibkan membeli tiket, harga tiket umum Rp50 ribu. Untuk tiket rombongan, mahasiswa, pelajar hingga civitas akademika ITB lebih murah. Setelah membeli tiket, kita akan diarahkan ke ruang utama museum dengan naik tangga satu lantai.

Museum ITB (Foto: Wisma Putra/detikJabar).

Setibanya di ruang utama, kita akan disuguhkan banyak arsip ITB dari mulai arsip lampau hingga terbaru dan foto Rektor ITB dari masa ke masa. detikJabar juga berkesempatan bertemu dengan Koordinator Musem ITB Usep Mulyana dan diajak mengelilingi seisi museum ini.

"Kita punya empat zona. Zona 1 terkait dengan akar sejarah ITB, zona 2 terkait dengan jejak pencerahan riset dan pendidikan, zona 3 terkait kehidupan kampus dari masa ke masa, dan zona 4 terkait dengan inspirasi masa depan," kata Usep kepada detikJabar.

Pendirian Museum ITB pertama kali dicetuskan oleh tim penggagas pada tahun 2018. Namun, prosesnya sempat terhenti antara tahun 2020 hingga 2025 akibat pandemi COVID-19, dan baru dapat dilanjutkan kembali pada masa kepemimpinan Rektor Prof Tatacipta Dirgantara hingga akhirnya museum yang telah digagas sejak 2018 tersebut berhasil direalisasikan Juli 2026.

Usep mengungkapkan, pada zona 1 yang berkaitan dengan akar sejarah, tercatat perjalanan sejarah ITB dari tahun 1910 hingga saat ini melalui sebuah lini masa yang menjelaskan perkembangannya dari tahun ke tahun. Ia menyebutkan bahwa kunci perjalanan ITB terjadi pada 3 Juli 1920 saat pendirian Sekolah Tinggi Teknik di Hindia Belanda, yang kerap diperingati sebagai Hari Pendidikan Tinggi Teknik Indonesia.

Selanjutnya, ia menambahkan bahwa wisuda pertama ITB diselenggarakan empat tahun kemudian, yakni pada 1 Juli 1924. Selain itu, pihak ITB juga mengoleksi berbagai dokumen dari tahun 1920 hingga sekarang yang diperoleh dari Direktorat Pendidikan dan telah diserahkan ke bagian kearsipan ITB.

"Jadi dokumen ini bisa dilihat digitalnya, kalau fisik tentunya kami simpan. Nah ini kita juga punya piagam-piagam yang kita koleksi, tapi ini sudah direstorasi, ada beberapa yang rusak, tapi kita udah sesuaikan dengan aslinya," ujarnya.

Tak hanya itu, ada juga foto Presiden Soekarno yang sedang berpidato, lalu ada juga foto patung Ganesha yang saat ini menjadi logo ITB. Tak hanya itu, ada juga foto penampakan pembangunan aula barat dan timur yang saat itu belum ditumbuhi banyak pohon sehingga pemandangan Gunung Tangkuban Perahu sangat terlihat jelas.

Setelah di zona 1, detikJabar diajak ke zona 2 melihat pencerahan riset dan pendidikan. Ada satu layar besar yang menyajikan perjalanan sejarah gajah purba atau stegodon di Indonesia dan juga terdapat gading tiruan gajah purba disimpan di layar itu. Gading stegodon itu merupakan penemuan peneliti ITB.

Menurut Usep gading Stegodon tersebut ditemukan di Sungai Cisaat, perbatasan Kabupaten Sumedang dan Majalengka, oleh tim peneliti Teknik Geologi ITB yang terdiri dari Jahdi Zaim, Yandi Rizal, dan Aswan pada tahun 2018. Selain itu, terdapat pula peta sebaran seni purbakala cadas hasil penelitian akademisi ITB lainnya, yaitu Pindi, Gianfranco, dan Purnomo, yang dituangkan di area tersebut. Lokasi tersebut juga dilengkapi dengan visualisasi lukisan Gua Sangkulirang dari Kalimantan Timur.

"Karena kebetulan di ITB ada Jurusan Geologi, ada kelompok keahlian yang ngumpul beberapa peneliti melakukan penelitian terkait dengan Stegodon, terus terkait dengan lukisan Gua Sangkulirang, itu teman-teman dari Geologi yang melakukan penelitian, termasuk memetakan sebaran seni purbakala cadasnya," terangnya.

Simak Video "Video: Museum Marsinah Dibuka, Ratusan Warga Berkunjung Tiap Hari"


(wip/mso)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork