Bhutan Jadi Surga bagi Para Pencari Sunyi

Kabar Internasional

Bhutan Jadi Surga bagi Para Pencari Sunyi

Muhammad Lugas Pribady - detikJabar
Minggu, 23 Agu 2026 21:00 WIB
Pemandangan di Trans Bhutan Trail
Buthan Foto: (Trans Bhutan Trail )
Jakarta -

Bagi traveler yang ingin menjauh sejenak dari hiruk-pikuk kota, keramaian wisatawan, dan lalu lintas padat, sejumlah negara menawarkan suasana yang jauh lebih tenang.

Dalam studi terbaru, Bhutan menempati posisi pertama sebagai negara paling sunyi di dunia. Daftar tersebut berasal dari Noise-Free Nations Index yang dibuat operator perjalanan Go2Africa.

Melansi detikTravel, indeks tersebut menilai tingkat ketenangan suatu negara berdasarkan sejumlah indikator, seperti kepadatan penduduk dan wisatawan, luas kawasan pedesaan, wilayah yang dilindungi, serta kepadatan kendaraan, bandara, dan jalur kereta.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mengutip Euronews, Sabtu (15/8/2026), setiap negara mendapatkan skor hingga 100. Semakin tinggi skor, semakin tenang kondisi negara tersebut berdasarkan indikator yang digunakan.

ADVERTISEMENT

Bhutan Jadi Negara Paling Sunyi

Bhutan berada di posisi teratas dengan skor 89,44.

Negara kecil di kawasan Himalaya itu memiliki bentang alam yang didominasi pegunungan, hutan, lembah, dan dataran tinggi. Luas kawasan berhutan dan pegunungan di Bhutan mencapai lebih dari 39 ribu kilometer persegi.

Ketenangan Bhutan juga didukung oleh kebijakan pariwisatanya. Jumlah wisatawan yang masuk tidak dibiarkan tumbuh tanpa kendali karena pemerintah menerapkan Sustainable Development Fee.

Kebijakan tersebut turut menjaga jumlah kunjungan wisatawan sehingga tekanan terhadap lingkungan dan suasana alami Bhutan tetap relatif rendah.

Di posisi kedua ada Namibia dengan skor 86,69. Negara di Afrika bagian selatan itu memiliki kepadatan penduduk hanya sekitar 3,83 orang per kilometer persegi.

Namibia juga menjadi rumah bagi Gurun Namib, salah satu gurun tertua di dunia. Bentang alam yang luas dan jumlah penduduk yang relatif sedikit membuat sejumlah wilayah negara tersebut jauh dari keramaian.

Botswana menempati posisi ketiga dengan skor 80,86.

Negara tersebut menerapkan strategi pariwisata low-volume, high-value, yakni membatasi jumlah wisatawan sekaligus mengutamakan kunjungan dengan nilai ekonomi lebih tinggi.

Zambia dan Gabon melengkapi lima besar. Zambia memiliki proporsi kawasan lindung yang besar, sementara Gabon dikenal memiliki hutan hujan yang masih luas dan relatif alami.

Afrika Mendominasi

Negara-negara Afrika mendominasi daftar negara paling sunyi. Lebih dari separuh dari 25 negara yang masuk daftar tersebut berasal dari benua Afrika.

Menariknya, tidak ada negara Eropa yang masuk 25 besar.

Estonia menjadi negara Eropa dengan peringkat tertinggi di posisi ke-34. Finlandia menyusul di posisi ke-39, sedangkan Swedia berada di peringkat ke-40.

Kepadatan penduduk, arus wisatawan, serta jaringan transportasi dan infrastruktur menjadi sejumlah faktor yang memengaruhi posisi negara-negara Eropa dalam indeks tersebut.

Berikut 10 negara paling sunyi di dunia berdasarkan Noise-Free Nations Index:

  1. Bhutan - 89,44
  2. Namibia - 86,69
  3. Botswana - 80,86
  4. Zambia - 80,64
  5. Gabon - 80,61
  6. Venezuela - 80,20
  7. Chad - 79,82
  8. Republik Afrika Tengah - 78,18
  9. Mongolia - 75,53
  10. Bolivia - 75,40

Bagaimana dengan Indonesia?

Dalam indeks tersebut, Indonesia memperoleh skor 53,9. Posisi ini menunjukkan tingkat ketenangan Indonesia masih berada cukup jauh dari negara-negara yang menghuni papan atas.

Selain menyusun daftar negara paling sunyi, indeks tersebut juga mencatat negara dengan tingkat ketenangan paling rendah.

Lima negara dengan skor terendah adalah:

  1. Singapura - 6,78
  2. Maladewa - 8,48
  3. Barbados - 10,12
  4. Qatar - 15,45
  5. Lebanon - 18,13

Indeks ini tidak semata-mata mengukur suara bising secara langsung. Skor dibentuk dari berbagai indikator yang menggambarkan seberapa padat, ramai, dan terbangun suatu negara.

Karena itu, predikat "paling sunyi" lebih tepat dipahami sebagai gambaran tingkat ketenangan dan minimnya kepadatan aktivitas manusia, bukan berarti seluruh wilayah negara tersebut benar-benar bebas dari suara atau keramaian.

Artikel ini sudah tayang di detikTravel, selengkapnya di sini

Halaman 2 dari 2
(upd/dir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads