Menguak Rantai Pasok Global VOC Lewat Bangkai Kapal Batavia

Menguak Rantai Pasok Global VOC Lewat Bangkai Kapal Batavia

detikINET - detikJabar
Sabtu, 15 Agu 2026 05:00 WIB
Ilustrasi kapal pengangkut turis tenggelam
Ilustrasi kapal. Foto: (Getty Images/asbe)
Jakarta -

Pada 1629, kapal Batavia karam di Kepulauan Houtman Abrolhos, lepas pantai Australia Barat. Kapal andalan VOC itu membawa 341 penumpang dan awak, serta balok batu pasir berukuran besar, batu bata, dan berbagai bahan bangunan lain.

Kargo yang ikut tenggelam bersama kapal tersebut kini membantu ilmuwan memahami jaringan perdagangan pada awal kapitalisme global. Penelitian terbaru menunjukkan, batu pasir yang dibawa Batavia berasal dari beberapa wilayah yang kini masuk Jerman.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Studi yang terbit di Journal of Archaeological Science menemukan jejak geologis batu pasir tersebut. Peneliti menilai VOC mengumpulkan batu dari beberapa lokasi, menyatukannya di pusat perdagangan, lalu mengirimkannya menempuh perjalanan hampir separuh keliling dunia.

Temuan itu menunjukkan betapa rumitnya logistik VOC dalam memenuhi kebutuhan pembangunan kolonial. Jaringan tersebut melibatkan proses pencarian bahan, pengumpulan, pengolahan, hingga pengangkutan material dalam jarak ribuan kilometer.

ADVERTISEMENT

Anthony Clarke, penulis utama penelitian sekaligus ilmuwan Bumi dan planetari di Curtin University, Australia, mengatakan temuan itu memberikan gambaran mengenai sistem pasokan VOC pada abad ke-17.

Kapal Batavia Karam di Australia Barat

Kapal Batavia memulai pelayaran perdananya pada 29 Oktober 1628. Kapal tersebut berangkat bersama armada yang lebih besar dari Belanda menuju Batavia, ibu kota kolonial Belanda di Hindia Timur yang kini menjadi Jakarta.

Namun, perjalanan itu berakhir tragis. Pada dini hari 4 Juni 1629, kapal bertiang tiga tersebut menabrak karang dengan kecepatan penuh di kawasan Kepulauan Houtman Abrolhos.

Batavia kemudian tenggelam bersama balok-balok batu pasir berukir berukuran besar yang tersimpan di ruang muat. Peneliti menduga VOC menyiapkan batu-batu itu untuk pembangunan gerbang atau serambi di Batavia. Namun, material tersebut tidak pernah mencapai tujuan.

Ilmuwan kemudian meneliti asal-usul batu yang tersisa. Beberapa di antaranya kini tersimpan di Western Australian Museum. Mereka ingin mengetahui lokasi tambang batu tersebut dan memastikan apakah VOC mengambilnya dari satu tambang atau beberapa lokasi.

Peneliti menemukan petunjuk dari kristal zirkon kecil yang terdapat di dalam batu. Butiran mineral mikroskopis itu memiliki daya tahan tinggi dan dapat berfungsi seperti sidik jari geologis. Karakteristiknya membantu ilmuwan menentukan kapan dan di mana batuan terbentuk.

Hasil penelitian menunjukkan batu-batu tersebut berasal dari setidaknya dua tambang di wilayah yang kini menjadi Jerman. Peneliti menduga salah satunya berada di Bentheim dan lainnya di Obernkirchen. Kedua lokasi itu berjarak sekitar 144 kilometer.

VOC kemudian mengangkut batu-batu tersebut ke salah satu pusat operasinya, kemungkinan Amsterdam. Di sana, pekerja menyiapkan dan merakit material sebelum mengirimkannya melalui jalur perdagangan menuju Batavia.

"Tidak ada dokumen tersisa yang mencatat perjalanan ini. Namun geologi mengungkap rantai pasokan canggih dan terkoordinasi yang menghubungkan pekerja tambang, pemotong batu, pengangkut sungai, pedagang, dan pelaut di Eropa barat laut," tulis Clarke dan Chris Kirkland, rekan penulis studi dan ahli geologi Curtin University.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa VOC tidak sekadar mengangkut komoditas dari satu wilayah ke wilayah lain. Perusahaan dagang Belanda itu juga mengelola rantai pasokan yang melibatkan banyak pekerja dan jalur transportasi untuk menyediakan material pembangunan di wilayah kolonial.

Tragedi Berdarah Setelah Kapal Karam

Penemuan bangkai Batavia pada 1963 membuat kapal tersebut menjadi salah satu bangkai kapal paling terkenal dalam sejarah Australia. Setelah kapal kandas di Morning Reef, sekitar 300 orang yang selamat berhasil mencapai pulau-pulau di sekitarnya.

Komandan kapal, Francisco Pelsaert, kemudian berangkat menggunakan perahu panjang bersama 40 pelaut dan perwira kapal untuk mencari bantuan.

Kepergian Pelsaert memberi kesempatan kepada perwira junior bernama Jeronimus Cornelisz untuk mengambil alih kendali. Cornelisz sebelumnya telah merencanakan pemberontakan sebelum kapal karam.

Selama sekitar lima bulan, Cornelisz dan para pengikutnya meneror para penyintas. Mereka membunuh, memperkosa, memperbudak, dan mengusir sebagian pria, wanita, serta anak-anak yang selamat dari kecelakaan kapal.

Pelsaert dan krunya membutuhkan waktu sekitar sebulan untuk mendayung perahu panjang menuju Batavia yang berjarak sekitar 2.993 kilometer. Tujuh minggu kemudian, kapal penyelamat tiba di Kepulauan Houtman Abrolhos dan menghentikan pembantaian tersebut.

Cornelisz dan enam pengikutnya kemudian menjalani hukuman gantung di Long Island pada Oktober 1629. Pemberontak lainnya dibawa ke Batavia untuk menjalani eksekusi.

Namun, penelitian yang terbit pada 2025 mengajukan penjelasan alternatif mengenai tragedi tersebut. Psikolog budaya Jaco Koehler menilai kelaparan dan kelangkaan air menjadi pemicu pembunuhan massal setelah kapal Batavia karam.

Baca berita selengkapnya di detikINET.

(fyk/sud)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads