Sejarah Bandara Husein Sastranegara

Ritual Kepala Kerbau dan Aksi Sikumbang di Andir Bandung

Baban Gandapurnama - detikJabar
Jumat, 14 Agu 2026 16:37 WIB
Suasana di Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung, Jawa Barat, Rabu (18/3/2026). (Foto: ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi)
Bandung -

Sebelum menjadi bandara yang melayani jutaan penumpang, lahan di kawasan Andir pernah menjadi tempat penguburan kepala kerbau dalam upacara selamatan. Masih di tempat yang sama, seorang penerbang asal Cianjur menguji pesawat rakitannya sendiri. Dua peristiwa itu berjarak puluhan tahun, tetapi keduanya menjadi bagian dari sejarah Bandara Husein Sastranegara.

Bandara ini sempat berhenti melayani penerbangan jet komersial selama 1.037 hari, dari 29 Oktober 2023 hingga 14 Agustus 2026, sebelum akhirnya kembali aktif. Riwayat panjang itu mengantarkan ingatan bagaimana sebuah lapangan terbang kolonial di tengah Kota Bandung berkembang menjadi saksi berbagai babak sejarah penerbangan Indonesia.

Dokumentasi foto dari majalah Indie edisi 3 Februari 1926 memperlihatkan Lapangan Terbang Andir dari udara. Marka bertuliskan 'Andir' terlihat di tengah lapangan. (Foto: delpher.nl)

Awal Lapangan Terbang Andir

PEMERINTAH kolonial membeli lahan seluas 45 hektare milik warga di kawasan Cibeureum pada 1921. Lokasinya berada di antara Desa Cibeureum di sebelah barat, Sungai Cilimus di timur, Cibogo di utara, dan jalur kereta api Maleber di selatan. Posisi itu mendukung kebutuhan penerbangan sekaligus operasi militer.

Pada 11 Januari 1922, Bataviaasch Nieuwsblad dan De Telegraaf memberitakan lapangan terbang baru di Andir sudah siap menggantikan Lapangan Terbang Sukamiskin. Kedua laporan itu terbit dalam rentang beberapa minggu dan sama-sama menyebut Kapten Stom sebagai penerbang yang melakukan pendaratan pertama di sana.

Lapangan tersebut memang sudah siap digunakan pada 1922, tetapi pemerintah baru meresmikannya pada 21 November 1925. Majalah mingguan Indie merekam rangkaian acaranya dalam edisi 3 Februari 1926. Bengkel layanan teknis baru selesai dibangun tiga tahun setelah lapangan siap, sehingga staf Departemen Penerbangan masih menggunakan gedung lama di Sukamiskin selama masa peralihan.

Koran Bataviaasch Nieuwsblad edisi 11 Januari 1922 memberitakan kesiapan Lapangan Terbang Andir di Bandung untuk beroperasi menggantikan lapangan terbang Sukamiskin. Pada hari yang sama, Kapten Stom tercatat sebagai orang pertama yang mendarat di landasan tersebut. (Foto: delpher.nl)

Andir juga pernah menerima kunjungan penerbang sebelum peresmian. Pada 1924, Van der Hoop mendarat di sana dengan pesawat Fokker F VII. Setahun sebelumnya, ia mencatat sejarah sebagai penerbang pertama yang menempuh rute Belanda-Hindia Belanda.

Kawasan Andir kini menjadi salah satu bagian barat Kota Bandung, mencakup enam kelurahan terdiri Campaka, Maleber, Garuda, Dungus Cariang, Ciroyom, dan Kebon Jeruk. Menurut data kependudukan 2024 dalam buku 'Kecamatan Andir Dalam Angka 2025' terbitan BPS Kota Bandung, wilayah ini dihuni 99.511 orang, terdiri atas 49.548 laki-laki dan 49.963 perempuan, dengan kepadatan 26.822 jiwa per kilometer persegi.

Selamatan Sebelum Mesin Beroperasi

MENJELANG peresmian pada November 1925, personel pribumi di lapangan terbang mengadakan selamatan. Dalam laporan majalah Indie, tradisi itu disebut sebagai upaya mengusir roh jahat dan menenangkan roh baik sebelum bangunan baru ditempati.

Mereka mengarak kepala kerbau dan kepala kambing dengan iringan gamelan. Setelah itu, kedua kepala hewan tersebut dikuburkan. Penghulu memimpin pembacaan doa dalam prosesi tersebut. Acara berikutnya berlangsung di fasilitas bengkel.

Kapten Hoeksema de Groot, komandan Departemen Penerbangan, menyampaikan pidato tentang kesulitan yang dihadapi unit Luchtvaartafdeling selama pembangunan. Ia kemudian menarik tuas pada papan sakelar utama. Mesin-mesin bengkel pun menyala bersamaan, disusul suara bor, gergaji, dan mesin bubut.

Indische Courant voor Nederland edisi 20 Desember 1952 memberitakan perubahan nama Lapangan Terbang Andir menjadi Husein Sastranegara. Pangkalan itu menggelar upacara selamatan yang dihadiri personel militer dan pekerja sipil. Prosesi tersebut ditandai dengan penanaman kepala kerbau sebagai simbol syukur dan penghormatan. (Foto: delpher.nl)

Puncak peresmian berlangsung pada Sabtu, 21 November 1925. Sekitar 20 pesawat dari skuadron Avro, De Havilland, dan Fokker terbang dalam formasi di atas lapangan dan Kota Bandung. Ratusan orang telah berkumpul sejak sebelum pukul tujuh pagi.

Pertunjukan itu menampilkan akrobatik udara, simulasi pertempuran antara tiga pesawat De Havilland dan tiga Fokker, serta demonstrasi pengambilan tabung pesan dari tanah ketika pesawat terbang rendah. Teknik tersebut menjadi bagian penting dari komunikasi udara-darat di Hindia Belanda karena lapangan pendaratan masih jarang tersedia.




(bbp/bbp)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork