Ritual Kepala Kerbau dan Aksi Sikumbang di Andir Bandung

Sejarah Bandara Husein Sastranegara

Ritual Kepala Kerbau dan Aksi Sikumbang di Andir Bandung

Baban Gandapurnama - detikJabar
Jumat, 14 Agu 2026 16:37 WIB
Calon penumpang berjalan menuju pesawat di Bandara Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat, Rabu (18/3/2026). Data dari PT Angkasa Pura II mencatat, pada H-3 Idul Fitri 1447 H, sebanyak 148 penumpang dari tiga penerbangan di Bandara Huseinsastranegara meninggalkan Kota Bandung. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/foc.
Suasana di Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung, Jawa Barat, Rabu (18/3/2026). (Foto: ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi)
Bandung -

Sebelum menjadi bandara yang melayani jutaan penumpang, lahan di kawasan Andir pernah menjadi tempat penguburan kepala kerbau dalam upacara selamatan. Masih di tempat yang sama, seorang penerbang asal Cianjur menguji pesawat rakitannya sendiri. Dua peristiwa itu berjarak puluhan tahun, tetapi keduanya menjadi bagian dari sejarah Bandara Husein Sastranegara.

Bandara ini sempat berhenti melayani penerbangan jet komersial selama 1.037 hari, dari 29 Oktober 2023 hingga 14 Agustus 2026, sebelum akhirnya kembali aktif. Riwayat panjang itu mengantarkan ingatan bagaimana sebuah lapangan terbang kolonial di tengah Kota Bandung berkembang menjadi saksi berbagai babak sejarah penerbangan Indonesia.

Lapangan Terbang Andir berganti nama menjadi Husein Sastranegara.Dokumentasi foto dari majalah Indie edisi 3 Februari 1926 memperlihatkan Lapangan Terbang Andir dari udara. Marka bertuliskan 'Andir' terlihat di tengah lapangan. (Foto: delpher.nl)

Awal Lapangan Terbang Andir

PEMERINTAH kolonial membeli lahan seluas 45 hektare milik warga di kawasan Cibeureum pada 1921. Lokasinya berada di antara Desa Cibeureum di sebelah barat, Sungai Cilimus di timur, Cibogo di utara, dan jalur kereta api Maleber di selatan. Posisi itu mendukung kebutuhan penerbangan sekaligus operasi militer.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada 11 Januari 1922, Bataviaasch Nieuwsblad dan De Telegraaf memberitakan lapangan terbang baru di Andir sudah siap menggantikan Lapangan Terbang Sukamiskin. Kedua laporan itu terbit dalam rentang beberapa minggu dan sama-sama menyebut Kapten Stom sebagai penerbang yang melakukan pendaratan pertama di sana.

Lapangan tersebut memang sudah siap digunakan pada 1922, tetapi pemerintah baru meresmikannya pada 21 November 1925. Majalah mingguan Indie merekam rangkaian acaranya dalam edisi 3 Februari 1926. Bengkel layanan teknis baru selesai dibangun tiga tahun setelah lapangan siap, sehingga staf Departemen Penerbangan masih menggunakan gedung lama di Sukamiskin selama masa peralihan.

ADVERTISEMENT
Lapangan Terbang Andir berganti nama menjadi Husein Sastranegara.Koran Bataviaasch Nieuwsblad edisi 11 Januari 1922 memberitakan kesiapan Lapangan Terbang Andir di Bandung untuk beroperasi menggantikan lapangan terbang Sukamiskin. Pada hari yang sama, Kapten Stom tercatat sebagai orang pertama yang mendarat di landasan tersebut. (Foto: delpher.nl)

Andir juga pernah menerima kunjungan penerbang sebelum peresmian. Pada 1924, Van der Hoop mendarat di sana dengan pesawat Fokker F VII. Setahun sebelumnya, ia mencatat sejarah sebagai penerbang pertama yang menempuh rute Belanda-Hindia Belanda.

Kawasan Andir kini menjadi salah satu bagian barat Kota Bandung, mencakup enam kelurahan terdiri Campaka, Maleber, Garuda, Dungus Cariang, Ciroyom, dan Kebon Jeruk. Menurut data kependudukan 2024 dalam buku 'Kecamatan Andir Dalam Angka 2025' terbitan BPS Kota Bandung, wilayah ini dihuni 99.511 orang, terdiri atas 49.548 laki-laki dan 49.963 perempuan, dengan kepadatan 26.822 jiwa per kilometer persegi.

Selamatan Sebelum Mesin Beroperasi

MENJELANG peresmian pada November 1925, personel pribumi di lapangan terbang mengadakan selamatan. Dalam laporan majalah Indie, tradisi itu disebut sebagai upaya mengusir roh jahat dan menenangkan roh baik sebelum bangunan baru ditempati.

Mereka mengarak kepala kerbau dan kepala kambing dengan iringan gamelan. Setelah itu, kedua kepala hewan tersebut dikuburkan. Penghulu memimpin pembacaan doa dalam prosesi tersebut. Acara berikutnya berlangsung di fasilitas bengkel.

Kapten Hoeksema de Groot, komandan Departemen Penerbangan, menyampaikan pidato tentang kesulitan yang dihadapi unit Luchtvaartafdeling selama pembangunan. Ia kemudian menarik tuas pada papan sakelar utama. Mesin-mesin bengkel pun menyala bersamaan, disusul suara bor, gergaji, dan mesin bubut.

Lapangan Terbang Andir berganti nama menjadi Husein Sastranegara.Indische Courant voor Nederland edisi 20 Desember 1952 memberitakan perubahan nama Lapangan Terbang Andir menjadi Husein Sastranegara. Pangkalan itu menggelar upacara selamatan yang dihadiri personel militer dan pekerja sipil. Prosesi tersebut ditandai dengan penanaman kepala kerbau sebagai simbol syukur dan penghormatan. (Foto: delpher.nl)

Puncak peresmian berlangsung pada Sabtu, 21 November 1925. Sekitar 20 pesawat dari skuadron Avro, De Havilland, dan Fokker terbang dalam formasi di atas lapangan dan Kota Bandung. Ratusan orang telah berkumpul sejak sebelum pukul tujuh pagi.

Pertunjukan itu menampilkan akrobatik udara, simulasi pertempuran antara tiga pesawat De Havilland dan tiga Fokker, serta demonstrasi pengambilan tabung pesan dari tanah ketika pesawat terbang rendah. Teknik tersebut menjadi bagian penting dari komunikasi udara-darat di Hindia Belanda karena lapangan pendaratan masih jarang tersedia.

Penerbang dari Cianjur

HUSEIN Sastranegara lahir di Cilaku, Cianjur, pada 20 Januari 1919. Ia merupakan anak kedelapan dari 14 bersaudara. Ayahnya, Raden Demang Ishak Sastranegara, pernah menjabat Wedana Ujungberung dan Patih Tasikmalaya.

Keluarga itu memberi Husein akses ke pendidikan Eropa. Ia bersekolah di ELS dan HBS Bandung, melanjutkan HBS di Jakarta, lalu masuk Technische Hoogeschool te Bandoeng, perguruan tinggi yang kelak menjadi Institut Teknologi Bandung (ITB).

Menjelang Perang Dunia II, pemerintah Belanda membuka sekolah penerbang militer di Kalijati, Subang, bagi pemuda bumiputra. Husein meninggalkan kuliah dan mendaftar. Dari 10 siswa pribumi yang diterima, hanya lima orang yang memperoleh brevet penerbang. Husein termasuk di antaranya, meski ia hanya mendapatkan lisensi untuk pesawat bermesin tunggal setelah gagal melanjutkan ke jenjang berikutnya.

Pada 1941, Husein beralih ke kepolisian. Ia masuk Sekolah Inspektur Polisi Sukabumi dan bertugas di Sukabumi serta Cianjur sampai pendudukan Jepang dimulai.

Setelah Indonesia merdeka, ia kembali ke dunia penerbangan. Husein bergabung dengan Badan Keamanan Rakyat di Bogor dan Bandung. KSAU Suryadi Suryadarma menugaskannya mempertahankan Lapangan Terbang Andir.

Infografis Profil Husein SastranegaraInfografis Profil Husein Sastranegara Foto: ChatGPT

Ketika ibu kota pindah ke Yogyakarta, Husein ikut hijrah. Ia menerbangkan pesawat-pesawat bekas Jepang untuk misi militer dan logistik, termasuk penerbangan ke Gorda pada Mei 1946 dan peresmian Lapangan Udara Cibeureum di Tasikmalaya pada Juni 1946.

Pada 26 September 1946, Husein menguji pesawat Tachikawa 'Cukiu' di atas Yogyakarta, bersama teknisi Rukidi. Pesawat itu rencananya digunakan Perdana Menteri Sutan Sjahrir untuk penerbangan ke Malang.

Mesin rusak di udara. Husein dan Rukidi gugur dalam kecelakaan tersebut.

Husein meninggal saat berusia 27 tahun. Ia meninggalkan istrinya, Koryati Mangkuatmaja, serta tiga anak kecil. Anak bungsunya baru berusia lima bulan.

Pemerintah menganugerahkan pangkat anumerta Komodor Muda Udara kepadanya atas jasanya merintis AURI.

Mengabadikan Husein Sastranegara

Lapangan Terbang Andir berganti nama menjadi Husein Sastranegara.De Locomotief edisi 16 Agustus 1952 memuat pengumuman resmi Kementerian Pertahanan tentang perubahan nama empat pangkalan udara utama Indonesia. Berdasarkan keputusan KSAU Komodor Udara S. Suryadarma, Pangkalan Udara Andir di Bandung berganti nama menjadi Pangkalan Udara Husein Sastranegara. Perubahan serupa juga berlaku untuk pangkalan di Maguwo, Malang, dan Tjililitan. (Foto: delpher.nl)

NAMA Andir bertahan hampir tiga dekade setelah kematian Husein. Kementerian Pertahanan dan Staf Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) mengumumkan penggantian nama empat pangkalan udara sekaligus, lewat rilis pers tertanggal 16 Agustus 1952 yang dimuat De Locomotief, untuk mengabadikan nama para pahlawan.

  • Pangkalan Udara Maguwo menjadi Adisutjipto
  • Pangkalan Udara Malang menjadi Abdulrachman Saleh
  • Pangkalan Udara Tjililitan menjadi Halim Perdanakusuma
  • Pangkalan Udara Andir menjadi Husein Sastranegara

Peresmian nama baru berlangsung pada 17 Agustus 1952, bertepatan dengan peringatan HUT ke-7 RI. Jaraknya enam tahun setelah Husein gugur. Lapangan Terbang Andir pun resmi berganti nama menjadi Pangkalan Udara Husein Sastranegara, berdasarkan Keputusan KASAU No. 76 Tahun 1952.

Rilis pers yang sama memuat riwayat singkat tiga pahlawan lain yang namanya juga diabadikan hari itu. Laksamana Muda Udara Anumerta Adisutjipto dan Prof. dr. Abdulrachman Saleh gugur pada 29 Juli 1947 dalam kecelakaan pesawat Dakota VT-CLA di atas Yogyakarta yang membawa obat-obatan dari luar negeri.

Komodor Udara Anumerta Halim Perdanakusuma, mantan navigator RAF Bomber Command yang menjalankan 44 misi pengeboman di atas Jerman dan Prancis semasa Perang Dunia II, gugur pada 14 Desember 1947 dalam kecelakaan pesawat Avro Anson di Tanjung Hantu, Semenanjung Malaya. Nama mereka masing-masing diabadikan untuk pangkalan udara di Maguwo, Malang, dan Tjililitan.

Empat bulan setelah peresmian nama baru, personel lapangan terbang kembali mengadakan selamatan. Indische Courant voor Nederland edisi 20 Desember 1952 mencatat ritual penguburan kepala kerbau dalam acara yang dihadiri personel militer dan sipil, serta keluarga Husein Sastranegara.

Lapangan Terbang Andir berganti nama menjadi Husein Sastranegara.Algemeen Indisch Dagblad: De Preangerbode edisi 13 Desember 1952 melaporkan upacara selamatan setelah Lapangan Terbang Andir berganti nama menjadi Husein Sastranegara. Acara tersebut dihadiri keluarga Husein Sastranegara, personel militer, dan warga sekitar. Komandan pangkalan, Kapten Wiriadinata, menyebut upacara itu sebagai bentuk aspirasi bersama sekaligus simbol persatuan dan rasa memiliki terhadap pangkalan. (Foto: delpher.nl)

Komandan lapangan terbang saat itu, Kapten Wiriadinata, mengatakan permintaan selamatan datang dari hampir seluruh personel pangkalan dan warga sekitar. "Merupakan suatu kebahagiaan besar bagi kami bahwa permintaan seperti itu juga diajukan oleh warga setempat. Ini adalah bukti bahwa mereka menganggap diri mereka bertanggung jawab bersama dengan personel atas kesejahteraan lapangan terbang ini," katanya.

Kini, secara administrasi kewilayahan Pemkot Bandung, Bandara Husein Sastranegara masuk area Kecamatan Cicendo, bukan lagi Kecamatan Andir yang menjadi asal-usul namanya. Lokasi bandara di Jalan Pajajaran No. 156 ini hanya berjarak 5,3 kilometer dari Gedung Sate.

Sikumbang II dan Cikal Bakal Industri Dirgantara

LIMA tahun setelah peresmian nama Husein Sastranegara, pangkalan itu menjadi tempat lahirnya salah satu babak awal industri dirgantara Indonesia. Indische Courant voor Nederland edisi 7 Oktober 1957 memberitakan keberhasilan Mayor Nurtanio Pringgoadisurjo menguji pesawat rakitannya, NU-225 Sikumbang II.

"Pesawat tersebut berhasil melakukan manuver 'take off' dan tetap berada di udara selama kurang lebih lima belas menit, setelah itu mendarat dengan mulus," tulis koran tersebut.

Lapangan Terbang Andir berganti nama menjadi Husein Sastranegara.Indische Courant voor Nederland edisi 7 Oktober 1957 memberitakan uji terbang pesawat NU-225 'Sikumbang II' oleh Mayor Nurtanio Pringgoadisurjo di Pangkalan Husein Sastranegara. Pesawat itu mengudara selama sekitar 15 menit sebelum mendarat dengan selamat. NU-225 merupakan pesawat latih bertenaga besar yang dirakit di bengkel AURI Bandung. (Foto: delpher.nl)

Sikumbang II merupakan penyempurnaan dari NU-220 Sikumbang I. Pesawat itu menggunakan mesin yang lebih bertenaga dan dibuat di bengkel AURI di dalam kawasan pangkalan. Nurtanio memimpin langsung pengerjaannya. Pada waktu yang sama, timnya juga mengembangkan pesawat latih dan pesawat patroli pelabuhan.

Nurtanio kemudian dikenal sebagai salah satu perintis industri penerbangan Indonesia, cikal bakal PT Dirgantara Indonesia yang sebelumnya bernama IPTN. Uji terbang Sikumbang II pada 1957 menjadi pendahulu dari uji terbang N-250 Gatotkaca di lokasi yang sama pada 1995. Dua penerbangan yang terpaut hampir empat dekade, tapi berlangsung di landasan yang sama.

Panggung Diplomasi hingga Puncak Kejayaan

DELAPAN tahun sebelum uji terbang Sikumbang II, Bandara Husein Sastranegara sempat memegang peran yang jauh dari urusan teknis penerbangan. Pada April 1955, bandara ini menjadi pintu masuk utama bagi perwakilan 29 negara yang menghadiri Konferensi Asia Afrika di Bandung, salah satu peristiwa diplomatik paling penting dalam sejarah Indonesia. Kawasan bandara dihiasi pernak-pernik dan bendera dari tiap negara peserta untuk menyambut para pemimpin dunia yang mendarat di sana.

Dari titik itu, Bandara Husein Sastranegara tumbuh sebagai fasilitas sipil dan militer campuran, dan berkembang menjadi salah satu gerbang udara utama Jawa Barat. Pada 2015, PT Angkasa Pura II mengembangkan bandara ini untuk mengatasi keterbatasan kapasitas.

Luas terminal diperbesar dari 5.000 meter persegi menjadi 17.000 meter persegi, kapasitas teoritis naik dari 750.000 menjadi 3,4 juta penumpang per tahun, dan area komersial diperluas dari sekitar 500 menjadi 3.000 meter persegi. Nilai proyek pengembangan itu mencapai Rp139 miliar.

Dari Riuh Mesin Jet hingga Sunyinya Apron

VISUAL timelapse satelit Bandara Husein Sastranegara merekam perubahan aktivitas bandara selama satu dekade. Pada 2015-2017, apron dipenuhi pesawat komersial. Aktivitas itu merosot tajam pada 2021 ketika pandemi COVID-19 menghentikan banyak penerbangan.

Perubahan berlanjut pada 2023 setelah pemerintah memindahkan penerbangan jet komersial secara bertahap ke BIJB Kertajati. Memasuki 2025, apron Husein Sastranegara tampak lengang dan bandara tidak lagi melayani rute komersial. Pada 2025, jumlah penumpang tercatat 2.436 orang. Kawasan tersebut kemudian kembali berfokus pada perannya sebagai pangkalan udara militer TNI AU.

Jumlah Penumpang di Bandara Husein Sastranegara 2017-2021(Foto: ESRI World Imagery Wayback/Desain bingkai grafis diolah menggunakan ChatGPT).

Pada 2013, Bandara Husein Sastranegara melayani sekitar 2,53 juta penumpang. Jumlah itu terus bertambah dalam beberapa tahun berikutnya: 2,93 juta pada 2014, 3,15 juta pada 2015, 3,41 juta pada 2016, dan 3,54 juta pada 2017. Kenaikan itu mencapai titik tertinggi pada 2018, dengan 3,86 juta penumpang tercatat, penerbangan domestik dan internasional sama-sama berperan meramaikan bandara di tengah Kota Bandung ini.

Tren berbalik pada 2019. Jumlah penumpang mulai menurun dan jatuh lebih dalam selama pandemi COVID-19 pada 2020-2021. Penurunan paling tajam terjadi pada 2024-2025, setelah sebagian besar penerbangan komersial utama Jawa Barat dialihkan ke BIJB Kertajati.

Berdasarkan laporan BPS Jawa Barat, Statistik Transportasi Provinsi Jawa Barat 2021, pandemi COVID-19 menekan aktivitas penerbangan di Bandara Husein Sastranegara, dan dampaknya paling terlihat pada rute internasional. Hingga akhir 2021, bandara ini hanya mencatat 11 kedatangan pesawat dari luar negeri, tanpa penumpang, barang, maupun bagasi yang tercatat. Pada periode yang sama, ada 8 keberangkatan pesawat internasional dengan total 12 penumpang, tanpa barang atau bagasi yang diangkut.

Infografis Bandara Husein SastranegaraJumlah Penumpang di Bandara Husein Sastranegara 2017-2021. (Foto: Visual chart diolah menggunakan ChatGPT)

Penerbangan domestik ikut berkurang akibat pembatasan perjalanan selama pandemi, meski masih berjalan. Sepanjang 2021, Bandara Husein Sastranegara mencatat 3.011 kedatangan pesawat domestik dengan 206.673 penumpang, membawa 367.835 kilogram barang dan 1.436.932 kilogram bagasi. Keberangkatan domestik mencapai 3.010 pesawat dengan 190.008 penumpang, mengangkut 3.663.782 kilogram barang dan 1.461.339 kilogram bagasi.

Geliat Bandara Husein Sastranegara

PRESIDEN Prabowo Subianto mengubah arah kebijakan pada Mei 2026, dengan meminta Bandara Husein Sastranegara dan Adisutjipto Yogyakarta kembali melayani penerbangan komersial. Ia mengarahkan Kertajati untuk berfokus pada penerbangan internasional jarak jauh, haji dan umrah, serta perawatan pesawat.

Sebulan berselang, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara menerbitkan Surat No. AU.102/1/8/DRJU.DAU/2026, yang mengizinkan Husein Sastranegara melayani angkutan udara niaga berjadwal dan tidak berjadwal, domestik maupun luar negeri, dengan pesawat jet dan baling-baling. Kementerian Perhubungan menyiapkan dua tahap operasi yakni penerbangan jet terbatas untuk bisnis dan carter mulai 17 Agustus 2026, serta operasi penuh untuk Boeing 737-800 dan Airbus A320 dengan sistem manajemen slot. Persiapannya mencakup pelapisan landasan dan taxiway, rekonstruksi apron, perbaikan atap terminal, serta peningkatan kategori pemadam kebakaran bandara.

"Pemerintah Pusat, kami bersama dengan Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat sepakat untuk mengaktifkan kembali Bandara Husein untuk melayani penerbangan domestik," kata Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi di Bandung, Rabu, 22 Juli 2026.

Bersamaan dengan pengumuman itu, ia dan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyatakan jadwal reaktivasi dipercepat ke Agustus. InJourney Airports kembali mengelola bandara melalui PT Angkasa Pura Indonesia.

Petugas melakukan pemeriksaan mesin check in mandiri di Bandara Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat, Jumat (7/8/2025). PT. Angkasa Pura Indonesia (Persero) tengah melakukan persiapan fasilitas penunjang jelang pengoperasian kembali pesawat jet berbadan sedang komersil secara reguler di Bandara Husein Sastranegara yang direncanakan akan beroperasi pada 14 Agustus 2026 mendatang. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/foc.Petugas melakukan pemeriksaan mesin check in mandiri di Bandara Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat, Jumat (7/8/2025). (Foto: ANTARA FOTO/RAISAN AL FARISI)

Pada 7 Agustus 2026, Kementerian Perhubungan menyetujui InJourney Airports mengoperasikan penerbangan jet berbadan sempit mulai 14 Agustus, setelah pengelola memenuhi persyaratan keamanan, keselamatan, pelayanan, dan kepatuhan regulasi. Penerbangan jet perdana pasca-reaktivasi berlangsung pada tanggal itu, lewat rute Denpasar-Bandung dan Bandung-Denpasar yang dilayani Garuda Indonesia.

Pemkot Bandung merespons positif beroperasinya kembali bandara ini. "Kota Bandung sudah tumbuh menjadi kota jasa pariwisata yang membutuhkan dukungan sarana prasarana transportasi kelas dunia. Untuk itu Bandara Internasional di Kota Bandung kami sambut baik," tutur Wali Kota Bandung Muhammad Farhan.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi turut mengusulkan Husein Sastranegara kembali membuka penerbangan internasional, dan sudah berkomunikasi dengan Dudy Purwagandhi soal itu. "Daripada penerbangan luar negeri di Kertajati juga sedikit, lama dan tidak terkoneksi, malah nanti menjadi berat. Saya lebih setuju juga penerbangan luar negeri di Husein," katanya.

Ketika kembali melayani penerbangan jet, Husein Sastranegara berusia lebih dari satu abad. Landasan itu pernah menjadi tempat selamatan dengan kepala kerbau, pertunjukan udara pada 1925, panggung diplomasi Konferensi Asia Afrika, penghormatan bagi para pahlawan AURI, dan uji terbang Sikumbang II.

Sejarah itu membuat reaktivasi bandara bukan sekadar pembukaan kembali rute penerbangan, melainkan babak terbaru dari jejak beberapa generasi penerbangan Indonesia, dari lapangan terbang kolonial hingga tempat para perintis menguji pesawat buatan sendiri.

Linimasa Bandara Husein Sastranegara

Infografis Bandara Husein SastranegaraInfografis Bandara Husein Sastranegara Foto: ChatGPT

Era Rintisan Penerbangan Hindia Belanda (1914-1921)

Waktu

Peristiwa
Mei 1914

Pemerintah Hindia Belanda membentuk PVA (Proefvliegafdeling) di bawah KNIL, membangun lapangan terbang pertama di Kalijati, Subang.

1917 & 1920

PVA membangun lapangan terbang Rancaekek dan Sukamiskin. Keduanya gagal karena tanah becek.

1921

Belanda membeli lahan 45 hektare di Cibeureum, mulai membangun Lapangan Terbang Andir. Unit PVA berganti nama jadi Luchtvaartafdeling (LA).

11 Januari 1922

Andir siap operasional. Kapten Stom melakukan pendaratan pertama.

1924

Van der Hoop mendarat informal di Andir dengan Fokker F VII.

21 November 1925

Peresmian resmi dengan pertunjukan udara dan selamatan.

Pendudukan Jepang hingga Awal Republik (1942-1952)

WaktuPeristiwa
1942-1945Jepang mengambil alih Andir, kawasan sekitar jadi kamp interniran.
1945-1949Bandara vakum selama revolusi; Belanda menyerahkan bertahap ke Indonesia usai KMB.
26 September 1946Husein Sastranegara gugur dalam kecelakaan pesawat Tachikawa "Cukiu" di Yogyakarta.
29 Juli 1947Adisutjipto dan Abdulrachman Saleh gugur dalam kecelakaan Dakota VT-CLA.
14 Desember 1947Halim Perdanakusuma gugur dalam kecelakaan Avro Anson di Tanjung Hantu.
1950Andir diserahkan bertahap dari Belanda ke AURI.
16 Agustus 1952Rilis pers resmi mengumumkan penggantian nama 4 pangkalan udara, termasuk Andir menjadi Husein Sastranegara.
17 Agustus 1952Peresmian resmi nama baru, bertepatan HUT ke-7 RI.
20 Desember 1952Selamatan kedua menyambut nama baru Andir menjadi Lanud Husein Sastranegara.

Jejak KAA hingga Penutupan Penerbangan Jet (1952-2025)

WaktuPeristiwa
April 1955

Bandara jadi pintu masuk perwakilan 29 negara peserta Konferensi Asia Afrika.

7 Oktober 1957

Mayor Nurtanio menguji terbang Sikumbang II.

10 Agustus 1995

Uji terbang N-250 Gatotkaca.

2015

Pengembangan terminal (17.000 mΒ², kapasitas 3,4 juta penumpang/tahun), nilai proyek Rp139 miliar.

1 Juli 2019

Mulai pemindahan bertahap 56 penerbangan ke Bandara Kertajati.

13 Juli 2023

Presiden Jokowi umumkan pengalihan penuh penerbangan jet ke Kertajati.

29 Oktober 2023

Penerbangan jet komersial berjadwal resmi berhenti.

2023-2025

Kertajati tak capai target penumpang. Wacana reaktivasi Husein bergulir.

Era Reaktivasi (2026)

WaktuPeristiwa
Mei 2026

Prabowo minta Bandara Husein dan Adisutjipto diaktifkan kembali.

Juni 2026

Surat AU.102/1/8/DRJU.DAU/2026 terbit, izinkan operasi niaga penuh.

22 Juli 2026

Reaktivasi dipercepat ke Agustus. InJourney kembali kelola bandara.

7 Agustus 2026

Kemenhub setujui operasi jet mulai 14 Agustus.

14 Agustus 2026

Penerbangan jet perdana. Rute Denpasar-Bandung dan Bandung-Denpasar, Garuda Indonesia.

Halaman 2 dari 3
(bbp/bbp)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads