Detik-detik Mencekam Saat 'Caah Dengdeng' Datang Curug Cikaso

Detik-detik Mencekam Saat 'Caah Dengdeng' Datang Curug Cikaso

Syahdan Alamsyah - detikJabar
Minggu, 24 Mei 2026 13:00 WIB
Tangkapan layar video viral memperlihatkan aksi heroik sejumlah pihak saat menyelamatkan para pelajar korban luapan air terjun Cikaso
Tangkapan layar video viral memperlihatkan aksi heroik sejumlah pihak saat menyelamatkan para pelajar korban luapan air terjun Cikaso (Foto: Istimewa)
Sukabumi -

Bencana banjir bandang yang menyapu kawasan wisata Curug Cikaso pada Jumat (22/5/2026) sore menyisakan kisah yang menegangkan.

Di balik derasnya laju air cokelat pekat yang terekam kamera warga, tersimpan rentetan kejadian dramatis mulai dari peringatan petugas yang terabaikan demi sebuah swafoto, hingga kolaborasi penyelamatan heroik yang berpacu dengan maut.

Tragedi di Kecamatan Cibitung, Kabupaten Sukabumi ini bermula dari kondisi alam yang tampak bersahabat. Gojal, penjaga pos tollgate Curug Cikaso, menuturkan bahwa sejak pagi hingga siang hari, debit air sangat normal dan jernih.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Suasana yang sepi di lokasi bahkan sempat dimanfaatkannya untuk membersihkan dan membakar sampah di area wisata.

Namun, alam mulai mengirimkan sinyal bahaya usai waktu salat Jumat. Suara gemuruh petir terdengar bersahutan dari arah hulu sungai, tepatnya dari kawasan Cinagen, Jampang Kulon, dan sekitarnya.

ADVERTISEMENT

Suara alam itu mengisyaratkan bahwa hujan lebat tengah mengguyur area atas. Merespons ancaman tersebut, Gojal langsung berkoordinasi dengan dua petugas Balawista yang bersiaga agar melipatgandakan kewaspadaan.

Petaka mulai merayap mendekat sekitar pukul 14.30 WIB, seiring kedatangan rombongan pengunjung. Mereka adalah warga dari daerah Cikalai, Citaritih, serta pelajar dari sebuah sekolah kesehatan di Ciparay.

Sebagai bentuk toleransi, petugas mengizinkan mereka masuk tanpa memungut tiket retribusi. Beberapa dari mereka lantas menyusuri bantaran sungai ke area sebelah timur yang berbatasan dengan pepohonan.

Tujuan mereka saat itu mencari sudut foto terbaik yang bisa menangkap latar ketiga aliran curug secara bersamaan.

Di tengah keasyikan itu, suara gemuruh air yang tak wajar mendadak memecah keheningan. Menyadari caah dengdeng (banjir bandang) sebentar lagi tiba, petugas Balawista berlari ke tepi sungai. Dengan sekuat tenaga, mereka berteriak memperingatkan pengunjung yang masih berada di zona rawan untuk segera naik ke darat.

Saat itu, air sebenarnya sudah mulai merendam sebatas mata kaki. Nahas, peringatan darurat tersebut menguap begitu saja.

"Mungkin tidak dihiraukan oleh para pelajar tersebut, tetap asyik berswafoto sambil bergandengan tangan. Posisinya terpisah, dua agak jauh, dua agak dekat ke daratan," tutur Gojal menceritakan kembali detik-detik kritis tersebut.

Hanya dalam hitungan menit, alam menunjukkan taringnya. Berbeda dari biasanya di mana air akan mengeruh secara perlahan sebelum banjir, kali ini volume air raksasa langsung menghantam seketika secara serentak.

Melihat nyawa pengunjung di ujung tanduk, petugas Balawista bereaksi cepat. Dengan menyodorkan sebatang bambu, mereka berhasil menarik dua pelajar yang posisinya berdekatan dengan daratan.

Namun, saat bermanuver untuk menggapai korban ketiga, pegangan terlepas. Sang petugas bahkan sempat tergulung ombak sungai sebelum akhirnya berjuang menyelamatkan dirinya sendiri ke darat.

Tanpa ada lagi penahan, dua pengunjung yang berada lebih jauh ke tengah sungai akhirnya tersapu ganasnya arus. Tubuh mereka terombang-ambing dan terseret aliran yang mengamuk sejauh kurang lebih 70 meter, hingga mendekati area pangkalan perahu wisata di hilir.

Tepat di titik mencekam tersebut, keajaiban dan aksi heroik terjadi secara bersamaan. Para sopir perahu wisata yang berada di pangkalan segera merespons situasi darurat, bersiap mengevakuasi korban yang terseret mendekat ke arah mereka.

Di saat yang sama, dari rombongan tujuh pesepeda yang kebetulan baru tiba di lokasi, salah satu dari mereka mengambil tindakan luar biasa berani.

Tanpa ragu, pria itu melompat ke sungai yang bergejolak untuk menarik korban yang hanyut ke sisi tepi sungai. Sementara itu, satu korban lainnya dengan sisa-sisa tenaga berhasil meronta dari tarikan arus dan menepi sendiri, sebelum akhirnya dibantu dievakuasi sepenuhnya.

Berkat respons cepat Balawista, kesigapan para sopir perahu, serta keberanian tak terduga dari pesepeda, maut berhasil ditepis sore itu. Usai ditarik ke darat dalam kondisi basah kuyup dan syok berat, para korban langsung mendapat penanganan kedaruratan.

"Saya langsung mengevakuasi dan melakukan tindakan awal, membawa ke rumah sakit atau Puskesmas, lalu menyerahkan mereka kepada pihak orang tuanya," pungkas Gojal.

(sya/yum)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads