Kota Bandung selalu menyimpan permata tersembunyi (hidden gem) bagi warga maupun wisatawan. Destinasi baru yang kini digandrungi Generasi Z (Gen Z) tersebut bukan berada di mal atau jalan protokol, melainkan terselip di sebuah gang permukiman padat.
Berlokasi di Gang Babakan Asih Dalam, Kecamatan Bojongloa Kaler, Kota Bandung Buns Ceramics sukses menyulap sudut gang tersebut menjadi studio keramik yang estetik dan menenangkan.
Dari Lahan Sampah Menjadi Ruang Karya
Berdiri pada September 2022 pascapandemi COVID-19, Buns Ceramics lahir dari inisiatif aktivasi ruang. Ajilla Tisyriinutstsani, salah satu pottery artist (seniman keramik) di sana, menuturkan bahwa lokasi tersebut dulunya adalah lahan kosong penuh sampah di tengah permukiman warga.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Transformasi ini diinisiasi oleh pasangan suami istri, Nede dan Rival. Menariknya, bisnis ini bermula dari keinginan Nede yang saat itu sedang hamil.
Produksi keramik yang dibuat oleh Pottery Artist Buns Ceramics (Foto: Shifa Lupiah Ajijah/detikJabar). |
"Waktu itu Kak Nede lagi hamil dan ngidam ingin buka studio pottery," ungkap Ajilla belum lama ini.
Nede sendiri merupakan kreator konten fashion yang kerap membagikan aktivitasnya di gang kecil tersebut. Awalnya, Buns Ceramics tidak diniatkan sebagai tempat wisata edukasi, melainkan studio produksi untuk karya seni yang dijual secara daring. Namun, melihat antusiasme publik yang tinggi, tempat ini akhirnya membuka kelas bagi siapa pun yang ingin belajar seni mengolah tanah liat.
Pottery Class: Aktivitas Kreatif Bagi Gen Z
Sebagian Gen Z memandang pottery class sebagai aktivitas kreatif dan produktif untuk melepas penat dari rutinitas yang membosankan. Hal ini diakui oleh Ghania F. Zahra (20) dan Clairyne Elysia (18), pengunjung yang mengetahui keberadaan studio ini melalui media sosial.
"Biar hidup nggak monoton. Kita sebagai Gen Z harus coba banyak hal. Ini worth it banget karena mengasah kreativitas dan tidak membosankan," ujar Clairyne. Senada dengan rekannya, Ghania menambahkan bahwa aktivitas ini sangat cocok bagi mereka yang mencari sisi estetika. "Seru banget," tambahnya.
Pengalaman serupa dirasakan Tiffany Beneval (17) dan Shannon Evelyn Saputra (17). Keduanya antusias karena impian mencoba seni tembikar akhirnya terwujud. "Di sini seru banget, kita bisa mendapat pengalaman baru," kata Shannon.
Pilihan Kelas: Dari Teknik Putar Hingga Tanpa Bakar
Buns Ceramics menawarkan variasi kelas inklusif untuk berbagai usia, mulai dari anak-anak (5 tahun) hingga orang tua, meski mayoritas pengunjungnya adalah mahasiswa dan fresh graduate.
Kelas pertama adalah Pottery Wheel, salah satu kelas favorit di mana peserta membentuk tanah liat menggunakan mesin putar. Valencia Drienda (17) dan Vallerie Drienda (20) yang mengambil kelas ini mengaku sangat menikmati prosesnya berkat instruktur yang sabar meski awalnya merasa kesulitan.
Kelas kedua adalah Fun Hand Building* yang menggunakan teknik manual tanpa mesin. Ada pula *Fun Air Dry Clay menggunakan tanah liat khusus yang tidak perlu dibakar, cukup dikeringkan di suhu ruangan. Hasil akhirnya berupa gerabah hias yang dipercantik dengan cat akrilik dan vernis. Benda ini dikhususkan untuk pajangan atau tempat aksesori, bukan untuk wadah makanan.
Bagi pengunjung yang tidak ingin kotor saat membentuk tanah, tersedia paket Painting on Pottery atau mewarnai keramik yang sudah jadi. Biaya kelas di studio ini berkisar antara Rp60.000 hingga Rp300.000. Jika detikers ingin membeli produk jadi, harganya dibanderol mulai dari Rp150.000.
Alat mesin putar untuk kelas Pottery Wheel (Foto: Shifa Lupiah Ajijah/detikJabar). |
Kultur Komunitas yang Hangat
Selain produknya, daya tarik utama Buns Ceramics terletak pada suasananya. Dikelola oleh tim yang rata-rata seumuran dengan pengunjung, studio ini menciptakan interaksi yang santai dan informal.
"Suasana kerjanya santai, kita bebas berkreasi. Kadang ada peserta kelas yang curhat karena merasa nyambung, mungkin karena kita seumuran," jelas Ajilla.
Uniknya, meski berkonsep modern, studio ini tetap menghormati tradisi lokal. Karena berada di lingkungan yang religius, jadwal operasional dikurangi setiap Kamis untuk menghormati kegiatan pengajian rutin. "Setiap Kamis kami hanya buka dua atau tiga sesi karena setelah bakda Maghrib ada pengajian rutin. Tradisi itu tetap dijaga meski sudah dibangun studio," pungkas Ajilla.
Buns Ceramics buka setiap hari dengan empat sesi per hari (kecuali Kamis). Meski menerima kunjungan langsung jika kuota tersedia, instruktur sangat menyarankan detikers untuk melakukan reservasi terlebih dahulu melalui Instagram @buns.ceramics agar alat dan tempat dapat disiapkan dengan maksimal.
Simak Video "Video Cakupan Internet Gen Z Tembus 87 Persen, Komdigi: Ruang Digital Jadi Tumbuh Kembang Anak"
[Gambas:Video 20detik]
(mso/mso)













































