Debur ombak Pantai Selatan tak pernah ingkar janji menyapa bibir pantai Teluk Palabuhanratu. Namun, ada yang berbeda di langit malam pergantian tahun kali ini. Di tapal batas daratan dan Samudra Hindia ini, hingar-bingar perayaan memilih jalan sunyi.
Grand Inna Samudra Beach Hotel (GISBH), ikon pariwisata yang berdiri gagah di pesisir Sukabumi, memutuskan mensiasati momen akhir tahun dengan cara tak biasa. Tidak ada 'pembakaran' langit, tidak ada ledakan warna-warni mesiu.
Hotel warisan Presiden Soekarno ini menjanjikan cerita yang lebih dalam untuk menutup lembaran tahun. Tradisi pesta kembang api yang biasanya menjadi penanda waktu beralih angka, tahun ini diredam demi sebuah rasa bernama empati.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di balik kemegahan tema 'Pirates Island' atau Pulau Bajak Laut yang diusung untuk menyambut tahun 2026, manajemen hotel mengambil langkah kontemplatif.
Mereka menepikan gemuruh pesta demi merespons duka yang tengah menyelimuti saudara sebangsa di Sumatera dan Aceh.
Menyalakan Cahaya dalam Senyap
Suasana 'liar' ala bajak laut yang identik dengan petualangan keras, malam nanti akan bersanding dengan keheningan yang khidmat.
General Manager GISBH, Reza Bram Adiguna, mengungkapkan bahwa ketiadaan kembang api bukanlah tanda surutnya perayaan, melainkan transformasi bentuk kebahagiaan. Sebagai pengganti gemuruh di angkasa, ratusan lilin akan dinyalakan di darat.
"Nanti pas pembukaan, akan ada doa dari pemuka agama dan proses mengheningkan cipta selama satu menit," tutur Reza, Rabu (31/12/2025).
Dalam satu menit itu, ribuan tamu tidak diajak menengadah ke langit melihat ledakan cahaya, melainkan menunduk sejenak menyalakan cahaya di hati.
"Tahun baru biasanya identik dengan menengadah melihat ledakan cahaya di langit. Tapi malam ini, kami mengajak tamu untuk merunduk sejenak, menyalakan cahaya di hati lewat doa," papar Reza.
"Bagi kami, 'celebration' terindah tahun ini adalah ketika kebahagiaan liburan bisa berjalan beriringan dengan empati untuk saudara kita yang sedang berduka," tambahnya.
Diiringi lagu Ibu Pertiwi dan Indonesia Pusaka yang akan dikumandangkan bersama, doa dirapal untuk pemulihan negeri. Sebuah kontradiksi yang manis: pesta kostum bajak laut yang garang, luluh dalam lantunan doa kemanusiaan.
Magnet Warisan Sang Proklamator
Keputusan meniadakan atraksi kembang api nyatanya tak menyurutkan langkah pelancong menuju Palabuhanratu. Pesona hotel yang digagas Bung Karno sejak tahun 1962 ini tetap menjadi magnet kuat.
Sebagai salah satu hotel berbintang, GISBH memiliki magis yang melampaui sekadar pesta sesaat.
Posisi strategis menghadap teluk yang dipilih langsung oleh Sang Proklamator, serta arsitektur bersejarah yang masih terawat, membuat hotel ini memiliki 'nyawa' tersendiri di mata wisatawan.
Reza mencatat, tingkat keterisian kamar (occupancy) sehari jelang tahun baru telah menyentuh angka 85 persen.
"Insyaallah target 90 sampai 100 persen malam ini tercapai," ujarnya optimistis.
Bagi Reza, Natal dan Tahun Baru adalah season of happiness. Ia meyakini tamu yang datang ke bangunan bersejarah ini tidak sekadar mencari tontonan, tetapi pengalaman batin yang utuh kombinasi antara kenyamanan (comfort), cita rasa (taste), dan perayaan (celebration).
Malam ini, para tamu di Palabuhanratu mungkin tidak akan mencium bau asap kembang api.
Malam ini, para tamu di Palabuhanratu mungkin tidak akan mencium bau asap kembang api. Namun, melalui Gala Dinner, atraksi permainan, hingga tarian bajak laut yang disiapkan di gedung bersejarah ini, mereka dijanjikan pulang dengan sesuatu yang lebih kekal.
"Kenangan tentang malam pergantian tahun yang tak hanya meriah di mata, tetapi juga hangat di hati," pungkasnya.
(sya/dir)
