Kesakralan Tanah dan Air dari Sumedang untuk IKN Nusantara

Nur Azis - detikJabar
Selasa, 09 Agu 2022 05:00 WIB
Jejak Kerajaan Sumedang Larang dari Makam Prabu Geusan Ulun
Jejak Kerajaan Sumedang Larang dari Makam Prabu Geusan Ulun (Foto: Nur Azis/detikJabar)
Sumedang -

Presiden Joko Widodo memerintahkan para kepala daerah tingkat gubernur untuk membawa dua kg tanah dan satu liter air dari daerahnya masing-masing untuk ditanam di Titik Nol IKN (Ibu Kota Negara).

Penyatuan tanah dan air tersebut sebagai simbol persatuan dan kesatuan bagi berdirinya IKN.

Nah, tanah yang diambil dari Kabupaten Sumedang sendiri itu berasal dari kawasan yang dulunya merupakan pusat pemerintahan dari Kerajaan Sumedang Larang atau tepatnya di halaman depan makam Raja Prabu Geusan Ulun (1578-1601).


Makam Prabu Geusan Ulun berlokasi di Desa Dayeuh Luhur, Kecamatan Ganeas, Sumedang. Makam tersebut berada di wilayah dataran tinggi atau berada di sekitar kawasan Gunung Rengganis. Kawasan tersebut berjarak sekitar 11 kilometer dari Alun-alun Sumedang.

Dalam kamus bahasa Sunda, kata Dayeuh berarti ibukota, sementara kata Luhur berarti tinggi. Dari pengertian tersebut Dayeuh Luhur dapat diartikan ibu kota yang berada di dataran tinggi atau pusat kerajaan di dataran tinggi.

Juru Kunci Komplek Pemakaman Dayeuh Luhur, Nono Sutisna menjelaskan, kawasan Dayeuh Luhur dulunya merupakan lokasi terakhir bagi Kerajaan Sumedang Larang dari sebelumnya berlokasi di kawasan Kutamaya (Red : Kawasan Padasuka, Kecamatan Sumedang Utara).

"Jadi disini itu tempat peristirahatan terakhir Prabu Geusan Ulun," ujarnya.

Jejak Kerajaan Sumedang Larang dari Makam Prabu Geusan UlunJuru kunci kompleks pemakaman Dayeuh Luhur, Nono Sutisna Foto: Nur Azis/detikJabar

Nono menyebut, tanah yang diambil ke Titik Nol IKN, Kalimantan, salah satunya adalah tanah yang berasal dari Kawasan Dayeuh Luhur.

"Tanah yang diambil saat itu satu kilogram berasal dari halaman depan makam Prabu Geusan Ulun," ujar Nono kepada detikJabar kemarin.

Sementara untuk airnya, sambung Nono, itu berasal dari mata air keasihan, mata air kedigjayaan, mata air kahuripan dan mata air kawedukan.

"Air yang diambil saat itu sebanyak lima kilogram berasal dari empat mata air tersebut," terangnya.

"Semoga tanah dan air itu menjadi simbol persatuan dan kesatuan dalam kebhinekaan, tenang dan tentram, perdamaian bagi bangsa Indonesia," Nono menambahkan.

Nono menjelaskan kawasan Dayeuh Luhur dulunya bernama Kampung Rengganis.

"Rengganis itu dalam bahasa Sunda artinya tempat yang elok, nyaman dan tenang," terang Nono saat ditemui detikJabar di komplek pemakaman Dayeuh Luhur, Minggu (7/8/2022).

Kampung Rengganis sendiri pada awalnya bagian dari Desa Cileuweung. Baru kemudian pada sekitar tahun 1984, dipisah menjadi dua desa yakni Desa Cileuweung dan Desa Dayeuh Luhur.

"Sekarang Desa Dayeuh Luhur menjadi Desa yang terpisah dari Desa Cileuweung," ujarnya.

(yum/yum)