Pakar Minta Perubahan Status Gunung Guntur Jadi TWA Ditinjau Ulang

Pakar Minta Perubahan Status Gunung Guntur Jadi TWA Ditinjau Ulang

Hakim Ghani - detikJabar
Selasa, 08 Mar 2022 13:32 WIB
Pemandangan Gunung Guntur Garut
Gunung Guntur Garut (Foto: Hakim Ghani/detikcom).
Garut -

Pemkab Garut mengusulkan perubahan status Gunung Guntur dari Cagar Alam (CA) menjadi Taman Wisata Alam (TWA). Usulan itu saat ini disebut sedang berproses di tingkat pemerintah pusat.

Disaster Risk Reduction Center (DRRC) atau Pusat Pengurangan Resiko Bencana Universitas Garut (Uniga) angkat bicara. Dalam keterangan tertulisnya, Kepala DRRC Uniga Yaman Suryaman mengatakan Pemkab perlu meninjau ulang rencana tersebut.

"Ada alasan untuk perbaikan kawasan dan peningkatan ekonomi masyarakat sekitar. Perlu ditinjau berapa banyak masyarakat setempat yang bergantung ekonominya terhadap alam. Jangan sampai investasi yang akan besar diuntungkan," kata Yaman, Selasa (8/3/2022).


Yaman mengatakan alasan Pemda Garut hendak merubah status CA Gunung Guntur menjadi TWA dianggap rasional dan masuk akal. Namun, kata Yaman, tidak ada yang bisa menjamin perbaikan keadaan jika statusnya berubah menjadi TWA.

"Belajar dari perubahan status CA Papandayan dan Kamojang, belum menunjukkan perubahan signifikan dalam pengembalian fungsi hutan CA," katanya.

Kepentingan ekonomi, disebut Yaman, tidak bisa dijadikan alasan untuk melakukan perubahan fungsi. Sebab, jika tidak disertai dengan penegakan hukum, audit lingkungan, monitoring dan evaluasi yang jelas maka dikhawatirkan kondisi hutan Gunung Guntur makin parah.

"Jika tujuannya ingin mengembalikan fungsi kawasan CA seperti semula, sebenarnya tidak perlu melakukan perubahan status kawasan CA. Tapi dengan membiarkan hutan tanpa campur tangan manusia. Hutan dapat dengan sendirinya memperbaiki keadaan," ucap Yaman.

Sementara dari sisi resiko bencana, Yaman mengatakan mayoritas bencana alam yang terjadi di Garut, seperti banjir dan longsor merupakan akibat dari alih fungsi lahan di kawasan hulu. Jika kondisi hutan masih baik, maka banjir dan longsor dapat diminimalisir.

"Faktanya hari ini fungsi hutan sebagai zona resapan air dan penyangga sudah mulai hilang. Intensitas hujan yang tinggi hanya trigger," ungkap Yaman.

Yaman juga mengingatkan agar Pemkab Garut meninjau kembali Papandayan dan Kawah Kamojang yang dirubah statusnya. Selama tiga tahun ini, perubahan apa yang sudah dihasilkan dalam rangka mengembalikan fungsi hutan.

"Jangan dilihat dari segi ekonomi. Karena sebesar apa pun peningkatan ekonomi yang dihasilkan akan sia-sia ketika dampak bencana lebih besar," katanya.

"Kami tidak anti terhadap pembangunan, pertumbuhan penduduk dan meningkatnya kebutuhan kerja dan ekonomi. Tapi jangan menjadi legitimasi atas perusakan kawasan Cagar Alam," tutup Yaman.

(mso/bbn)