Torehan 73 gol dalam satu musim rupanya belum cukup untuk meyakinkan Samir Nasri bahwa Harry Kane layak menyabet Ballon d'Or 2026. Mantan penggawa Arsenal dan Manchester City tersebut menilai produktivitas gol sang striker tidak berbanding lurus dengan prestasi prestisius di level tim.
Kane resmi menerima penghargaan bola emas tersebut dalam seremoni di London, Selasa (27/10/2026). Penyerang Bayern Munich ini berhasil mengungguli sejumlah nama besar, termasuk Kylian Mbappe dan Lamine Yamal.
Gelar individu tertinggi ini merupakan bentuk pengakuan atas ketajaman Kane sepanjang musim 2025/2026. Di usia 33 tahun, ia mencatatkan statistik luar biasa dengan koleksi 73 gol dari 65 pertandingan-terdiri dari 61 gol untuk Bayern Munich dan 12 gol bagi Timnas Inggris.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Secara kolektif, sebagaimana dilansir dari detikSport, kontribusi Kane membantu Bayern menyapu bersih gelar domestik, yakni Bundesliga, DFB Pokal, dan Piala Super Jerman. Sementara di panggung internasional, ia membawa Inggris meraih medali perunggu pada Piala Dunia 2026.
Namun, deretan gol dan trofi domestik tersebut tidak menghapus keraguan Nasri. Ia berpendapat bahwa kriteria pemenang Ballon d'Or seharusnya tidak hanya bersandar pada jumlah gol, tetapi juga kontribusi nyata dalam meraih gelar juara yang paling bergengsi.
"Harry Kane, Ballon d'Or... Oke, statistik memang berpengaruh dan dia pemain hebat. Namun dia tidak pernah memimpin timnya untuk memenangkan sesuatu yang penting," kata Nasri, dilansir dari AS Diario.
Nasri juga menyoroti performa Kane dalam laga-laga besar. Menurut mantan gelandang Prancis itu, Kane belum menunjukkan pengaruh signifikan sebagai pembeda dalam pertandingan krusial.
"Dia juga tidak menjadi penentu kemenangan mereka dalam pertandingan yang benar-benar penting. Ini tidak membuat saya bersemangat, saya tidak peduli sama sekali," ujarnya soal trofi Ballon d'Or Harry Kane.
Pernyataan Nasri ini kembali memicu perdebatan mengenai standar pemain terbaik dunia. Di satu sisi, produktivitas gol dan dominasi domestik menjadi argumen kuat bagi Kane. Namun di sisi lain, pandangan Nasri menekankan bahwa pencapaian di kompetisi elite seperti Liga Champions atau Piala Dunia seharusnya memiliki bobot penilaian yang lebih besar.
Artikel ini sudah tayang di detikSport
