FIFA Sanksi Spanyol gegara Chant Anti-Muslim

Soccer Update

FIFA Sanksi Spanyol gegara Chant Anti-Muslim

Yanu Arifin - detikJabar
Sabtu, 17 Okt 2026 19:00 WIB
Soccer Football - International Friendly - Spain v Egypt - RCDE Stadium, Cornella de Llobregat, Spain - March 31, 2026 Egypt players react after the match REUTERS/Albert Gea
Spanyol vs Mesir (Foto: REUTERS/Albert Gea).
Bandung -

FIFA resmi menjatuhkan sanksi tegas kepada Spanyol akibat ulah suporter yang melontarkan chant anti-Muslim. Hukuman yang diberikan berupa denda finansial hingga penutupan sebagian area stadion.

Melansir Reuters, FIFA menghukum Federasi Sepak Bola Kerajaan Spanyol (RFEF) dengan denda sebesar 20 ribu dolar AS atau setara Rp361 juta. Tak berhenti di situ, Spanyol juga diwajibkan menutup 15 persen kapasitas stadion pada laga kandang internasional berikutnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Upaya banding yang diajukan Spanyol sebelumnya telah ditolak oleh FIFA. Meski begitu, RFEF dikabarkan belum menyerah dan berencana membawa kasus ini ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS).

Sanksi ini merupakan buntut dari laga Spanyol vs Mesir pada April lalu di RCDE Stadium, Barcelona. Saat itu, suporter tuan rumah kedapatan menyanyikan chant bernada xenofobia di tribune. Meski panitia sudah memberikan peringatan melalui pengeras suara, suporter tetap berulah, bahkan sempat meledek lagu kebangsaan Mesir. "Kalau tak melompat, berarti muslim," ledek fans Spanyol.

Aksi tersebut memicu reaksi keras, termasuk dari pemain Spanyol, Lamine Yamal. Melalui unggahan di media sosial usai laga, ia menunjukkan kebanggaannya sebagai seorang Muslim.

Dalam pembelaannya, RFEF berdalih bahwa kata 'Muslim' "bukanlah kata yang menghina maupun merendahkan". RFEF juga berargumen bahwa perilaku suporter seharusnya merujuk pada Pasal 17 FIFA terkait pesan politik atau keagamaan, bukan Pasal 15 yang mengatur tentang diskriminasi dan pelecehan rasial.

Namun, komite disiplin FIFA menolak argumen tersebut. Mereka menegaskan bahwa Pasal 15 tidak harus mensyaratkan kata-kata hinaan secara eksplisit. Sebuah istilah tetap dianggap diskriminatif jika digunakan dalam konteks sebagai "hinaan, ejekan, atau penanda inferioritas".

Menanggapi keputusan tersebut, pihak RFEF tetap merasa sanksi yang dijatuhkan terlalu berat.

"Sepanjang proses persidangan, RFEF tetap berpendapat bahwa mereka bertindak segera, cermat, dan efektif sejak pertama kali mengetahui insiden tersebut," kata seorang pejabat tinggi di RFEF kepada Reuters.

Artikel ini sudah tayang di detikSport, baca selengkapnya di sini.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Ada Apa dengan Manchester United?"
[Gambas:Video 20detik] (mso/mso)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads