Persib Diminta Evaluasi Vendor Perbaikan Rumput GBLA

Persib Diminta Evaluasi Vendor Perbaikan Rumput GBLA

Bima Bagaskara - detikJabar
Selasa, 25 Agu 2026 13:30 WIB
Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA)
Stadion GBLA (Foto: Wisma Putra/detikJabar).
Bandung -

Persib Bandung diminta tidak hanya memindahkan venue pertandingan play-off AFC Champions League Two (ACL 2) melawan Manila Digger. Di balik hal itu, ada persoalan lain yang perlu dievaluasi, yakni kinerja pihak yang mengerjakan perbaikan rumput Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA).

Laga Persib vs Manila Digger dijadwalkan berlangsung Senin (31/8/2026). Semula pertandingan tersebut direncanakan digelar di GBLA, tetapi Persib akhirnya memilih Stadion Si Jalak Harupat karena kondisi rumput GBLA masih membutuhkan pemeliharaan dan pemulihan.

Padahal, sebelumnya terdapat optimisme bahwa perbaikan rumput GBLA dapat diselesaikan sebelum laga play-off. Berdasarkan estimasi awal, pekerjaan tersebut dijadwalkan rampung pada 12-14 Agustus 2026.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perbaikan rumput GBLA sendiri tidak dikerjakan langsung oleh manajemen Persib. Pekerjaan tersebut dilakukan vendor yang dipilih melalui skema lelang. Namun, molornya kesiapan stadion pada akhirnya tetap berdampak langsung terhadap Persib.

Pengamat hukum olahraga sekaligus Bobotoh, Eko Noer Kristiyanto atau Eko Maung, menilai persoalan tersebut perlu menjadi bahan evaluasi internal Persib.

ADVERTISEMENT

Menurutnya, persoalan utama bukan sekadar pernyataan optimistis dari manajemen, melainkan pihak yang memberikan kepastian mengenai waktu penyelesaian pekerjaan.

"Ya yang menentukan kan bukan Adhit ya, maksudnya orang yang menjanjikan ke Adhit beres di tanggal sekian-sekian," ucap Eko, Selasa (25/8/2026).

Eko menilai Persib masih cukup beruntung karena pertandingan play-off ACL 2 melawan Manila Digger digelar tanpa penonton. Kondisi itu membuat perpindahan venue tidak menimbulkan dampak sebesar apabila pertandingan digelar dengan kehadiran Bobotoh.

"Evaluasinya lebih internal ya, untung gak pakai penonton ini. Kan pindah-pindah venue gini kalau pakai penonton repot ya, melibatkan banyak orang, izin keramaian," katanya.

Menurutnya, absennya penonton membuat persoalan perpindahan stadion relatif lebih mudah ditangani. Namun, situasi tersebut tidak seharusnya membuat Persib mengabaikan evaluasi terhadap pekerjaan perbaikan GBLA.

"Ini mah diuntungkan dengan gak ada penonton, maka pindah venue gak terlalu merepotkan dan dampak publiknya juga minim, beruntung ya," ujarnya.

Eko meminta Persib ke depan memiliki perhitungan waktu yang lebih akuntabel ketika menyerahkan pekerjaan kepada pihak ketiga. Terlebih, pekerjaan perbaikan rumput merupakan pekerjaan yang secara teknis dapat diperkirakan tahapan dan waktu pengerjaannya.

"Tapi next time harus bisa dievaluasi, harus ada perkirakan waktu yang akuntabel. Gak selesai karena bencana alam itu bisa dimaklumi tapi kalau hal faktor manusia, faktor pengerjaan yang bisa diukur ya jangan ya," tutur Eko.

Menurut Eko, jika pekerjaan tersebut memang dilakukan vendor yang bekerja untuk PT Persib Bandung Bermartabat (PT PBB), maka kegagalan memenuhi target waktu pada akhirnya ikut menyeret nama Persib.

"Kalau itu vendor kan berarti kerja ke PT PBB, pengelolaan semua di Persib sekarang. Jadi kelalaian vendor dan lain sebagainya terkait pengerjaan itu kan yang kena dampak Persib, yang dicibir publik Persib," jelasnya.

Karena itu, ia menilai evaluasi terhadap vendor menjadi penting. Bukan semata-mata untuk mencari pihak yang harus disalahkan, tetapi memastikan persoalan serupa tidak kembali terjadi ketika Persib membutuhkan stadion untuk pertandingan penting.

"Jadi kalau Persib mau namanya selamat ya dievaluasi yang kerja buat mereka," tutup Eko.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Persib Bandung Juara 3 Musim Beruntun!"
[Gambas:Video 20detik] (bba/mso)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads