Lionel Messi kembali menjadi pusat perhatian di partai final Piala Dunia. Jika empat tahun lalu air matanya mengalir karena mengangkat trofi juara, kali ini sang megabintang menangis akibat harus menyaksikan mimpi Argentina mempertahankan gelar kandas di tangan Spanyol.
Argentina menghadapi Spanyol pada final Piala Dunia 2026 yang digelar di New Jersey Stadium, Senin (20/7/2026) dini hari WIB. Sepanjang turnamen, Messi menjadi motor permainan Albiceleste dengan torehan delapan gol dan empat assist, berkontribusi langsung terhadap hampir 75 persen dari total 19 gol timnya.
Baca juga: Dan Messi pun Menangis |
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, sebagaimana dilansir dari detikSport, final berjalan jauh dari harapan. Spanyol sukses membatasi ruang gerak Messi sejak peluit awal dibunyikan. Bahkan, dalam 15 menit pertama, kapten Argentina itu hanya sekali menyentuh bola, tepat saat melakukan sepak mula.
Kesulitan menembus rapatnya pertahanan La Furia Roja membuat Messi lebih sering turun membantu lini belakang dibanding membangun serangan. Strategi Spanyol untuk meredam pengaruh pemain berusia 39 tahun itu berjalan efektif sepanjang pertandingan.
Setelah bermain imbang tanpa gol selama 90 menit, Spanyol akhirnya memecah kebuntuan pada babak perpanjangan waktu. Ferran Torres mencetak gol kemenangan pada menit ke-106, memastikan La Furia Roja menang 1-0 sekaligus meraih gelar juara dunia kedua dalam sejarah mereka.
Peluit panjang menjadi akhir yang menyakitkan bagi Argentina. Messi sempat terduduk di tengah lapangan dengan tatapan kosong, seolah sulit menerima kenyataan bahwa perjuangan panjangnya harus berakhir tanpa trofi.
Momen paling emosional terjadi saat seremoni penyerahan medali. Sang kapten tak mampu membendung air mata ketika menerima medali runner-up. Berbeda dengan tangis kebahagiaan usai membawa Argentina menjadi juara dunia pada 2022, kali ini air mata Messi menjadi simbol kekecewaan atas mimpi yang tak terwujud.
Piala Dunia 2026 diyakini menjadi penampilan terakhir Messi bersama Timnas Argentina di ajang terbesar sepak bola dunia. Perjalanan yang dipenuhi prestasi gemilang itu pun ditutup dengan akhir yang pahit-bukan penutup yang diharapkan La Pulga maupun jutaan pendukung Albiceleste.
Artikel ini sudah tayang di detikSport, selengkapnya di sini
