Persib Bandung tak pernah kekurangan sosok besar di bawah mistar gawang. Dari generasi ke generasi, posisi penjaga gawang Maung Bandung selalu dihuni nama-nama yang memiliki kualitas istimewa.
Publik Bandung pernah menyaksikan ketangguhan kiper-kiper legendaris seperti Sobur, Anwar Sanusi, Cecep Supriatna, hingga sederet penjaga gawang modern yang menjadi idola Bobotoh seperti I Made Wirawan dan Teja Paku Alam.
Tak hanya pemain lokal, sejumlah kiper asing pun pernah menjadi tembok kokoh yang menjaga gawang Persib, sebut saja Sinthaweechai Hathairattanakool hingga Kevin Ray Mendoza.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, di balik deretan nama besar tersebut, terselip kisah seorang anak asal Tasikmalaya yang berhasil mewujudkan mimpi masa kecilnya. Meski singkat dan tanpa satu menit pun tampil di lapangan, perjalanan itu tetap menjadi bagian berharga dalam hidup Imam Arief Fadillah.
Lahir di Tasikmalaya pada 14 Desember 1989, Imam tumbuh sebagai salah satu anak Jawa Barat yang menjadikan Persib sebagai klub impian. Sejak kecil, ia rutin menyaksikan pertandingan Persib dan mengidolakan para penjaga gawang yang menjadi kebanggaan Bobotoh.
"Menjadi pemain bola memang cita-cita saya dari kecil. Saya banyak menonton Persib waktu dulu, zamannya Cecep Supriatna dan Anwar Sanusi. Dari situ saya terinspirasi menjadi pemain sepak bola, khususnya di posisi penjaga gawang," kata Imam dalam wawancara yang diunggah kanal YouTube resmi Persib Bandung saat dirinya pertama kali bergabung pada 2017.
Menariknya, Imam tidak langsung berposisi sebagai penjaga gawang. Saat masih remaja, ia justru bermain sebagai penyerang. Namun, karena posturnya yang menjulang 180 sentimeter, Imam kemudian berpindah posisi sebagai penjaga gawang.
"Saya usia 12 sampai 15 tahun bermain sebagai striker. Tapi waktu ada pertandingan di Priangan Timur, tim kami tidak punya kiper. Kebetulan saya yang paling tinggi, akhirnya ditempatkan menjadi penjaga gawang. Alhamdulillah kami juara dan saya menjadi kiper terbaik. Sejak usia 15 tahun itu saya menjadi penjaga gawang sampai sekarang," tuturnya.
Perjalanan menuju Persib tidak datang secara instan. Imam harus menempuh jalan panjang sebelum akhirnya mengenakan seragam biru kebanggaan masyarakat Jawa Barat.
Karier profesionalnya dimulai dari Persib U-21. Setelah itu, ia merantau ke berbagai klub untuk mencari pengalaman dan jam terbang.
"Karier profesional saya berawal dari Persib U-21. Alhamdulillah waktu itu kami juara. Setelah itu ke Persitara, lalu PS Bangka, Persika Karawang, Cilegon United, Barito Putera, dan akhirnya bisa mewujudkan impian saya bermain untuk Persib Bandung," ujarnya.
Kesempatan yang ditunggu-tunggu itu akhirnya datang pada Januari 2017. Persib merekrut Imam dari Barito Putera untuk memperkuat sektor penjaga gawang menghadapi kompetisi musim tersebut.
Bagi Imam, kepindahan itu bukan sekadar transfer biasa. Ia sedang "pulang" ke klub yang selama ini hanya bisa ia saksikan dari tribun dan layar televisi. Kebahagiaan itu semakin lengkap karena ia mendapat kesempatan berlatih bersama legenda Persib yang dulu menjadi inspirasinya, Anwar Sanusi.
"Saya sudah mengenal sosok beliau sejak lama. Tahun 2009 saya sempat dipanggil senior, tapi waktu itu mungkin saya masih kecil dan malu-malu. Akhirnya saya harus pergi dari Persib untuk mencari pengalaman di luar. Tahun ini saya bisa merasakan latihan bersama beliau. Saya bangga sekali bisa dilatih oleh seorang legenda Persib Bandung," kata Imam.
Sayangnya, kisah indah itu tidak berjalan sesuai harapan. Sepanjang berseragam Persib, Imam tak pernah mendapatkan kesempatan tampil di pertandingan resmi. Persaingan ketat di sektor penjaga gawang membuatnya lebih banyak berada di bangku cadangan.
Pada awal musim 2017/2018, ia dipinjamkan ke PSM Makassar sebelum akhirnya dilepas secara permanen ke Persebaya Surabaya pada paruh musim. Meski gagal menembus tim utama, Imam tetap menyimpan kesan mendalam terhadap Persib dan para pendukungnya.
Satu hal yang paling membekas dalam ingatan Imam selama berada di Bandung adalah fanatisme Bobotoh. Setelah hampir satu dekade berkarier di sepak bola profesional, ia mengaku baru merasakan dukungan sebesar itu ketika menjadi bagian dari Persib.
"Saya sudah sembilan tahun berkarier di sepak bola dan baru kali ini merasakan suporter yang luar biasa. Mereka berkorban untuk Persib. Ada yang bolos kerja, izin kuliah, izin les dan sebagainya demi menonton Persib. Bobotoh benar-benar luar biasa," katanya.
Setelah meninggalkan Persib, perjalanan karier Imam terus berlanjut. Ia sempat membela sejumlah klub seperti Sriwijaya FC, PSIM Yogyakarta, Persela Lamongan, Persikabo, Persikota Tangerang, hingga terakhir memperkuat Persijap Jepara pada musim 2024/2025.
Mungkin tidak semua Bobotoh mengingat namanya karena ia tak pernah bermain satu pertandingan resmi untuk Persib. Namun, bagi Imam Arief Fadillah, mengenakan seragam Maung Bandung sudah cukup untuk menuntaskan mimpi yang ia rajut sejak kecil di Tasikmalaya.
(bba/orb)
