Pemandangan di sepanjang trotoar Tegallega hari ini tampak berbeda dari biasanya. Deretan tiang bambu berdiri kokoh, memamerkan ribuan kaus, jersey, syal, hingga bendera biru yang melambai-lambai ditiup angin Bandung.
Menjelang peluit pertandingan penentu bagi Persib dibunyikan, lapak-lapak pedagang kaki lima ini langsung dikepung bak semut oleh para pembeli yang datang. Euforia Bobotoh yang berada di titik tertinggi menjelma menjadi berkah ekonomi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di tengah deretan pelapak yang sibuk melayani pembeli, tampak Tuti (50) dengan cekatan merapikan tumpukan kaus biru. Bagi Tuti, berjualan atribut bukan sekadar mencari untung, melainkan bentuk kecintaan emosionalnya sebagai seorang Bobotoh sejati yang juga gemar mengawal perjalanan Persib.
Sebagai pedagang yang baru terjun menjajakan atribut pada musim ini, ia mengaku sangat merasakan dampak ekonomi dari antusiasme Bobotoh. Selain kaus, ia juga menjajakan bendera di lapaknya.
"Lumayan banget berpengaruh ke ekonomi dibanding hari-hari biasa. Omzet jelas naik kalau Persib lagi mau tanding begini," ujar Tuti dengan wajah semringah saat berbincang dengan detikJabar, Sabtu (23/5/2026).
Lonjakan pembeli, menurutnya, sudah mulai terasa sejak dua hari sebelum peluit pertandingan pertama dibunyikan. Di tengah ketatnya persaingan antar pedagang di kawasan Tegallega, Tuti punya strategi tersendiri untuk menjaring rezeki. Ia tidak sendirian, ada sang suami yang turut membelah fokus pembeli dengan membuka lapak di titik lain.
"Saya jualan di sini saja, cuma di sini sih. Tapi paling di sebelah atas ada lagi yang jualan, itu suami saya. Sama, jualan baju atribut Persib juga," ungkapnya.
Untuk urusan manajemen stok barang, Tuti menyerahkan sepenuhnya kepada sang suami. Berbeda dengan toko besar yang bersiap sejak jauh hari, mereka memilih strategi penyediaan barang yang cenderung mepet, yaitu sekitar satu hari sebelum pertandingan (H-1). Pergerakan stok baru dimulai saat suasana pertandingan benar-benar dekat karena waktu yang dirasa terlalu singkat dengan jadwal laga.
Demi memaksimalkan momentum yang belum tentu datang setiap bulan ini, Tuti rela melipatgandakan waktu kerjanya. Jika di hari biasa ia sudah mengemas barang sore hari, kali ini ceritanya berbeda. "Biasanya jualan dari pagi. Tapi kalau sekarang, karena Persib mau main, saya bakal jualan sampai selesai pertandingan," tambahnya.
Berbeda dengan Tuti yang baru memulai, Arini (17), seorang Bobotoh sejati, kini tengah menjalankan tongkat estafet usaha keluarganya yang dirintis sejak ia masih kecil. Berbisnis atribut Persib sudah menjadi napas kehidupan keluarganya sehari-hari.
Di mata Arini, gelombang antusiasme Bobotoh kali ini terasa jauh lebih masif dibanding tahun-tahun sebelumnya. Penikmat lapaknya kini tak lagi didominasi oleh warga lokal Bandung, melainkan kiriman suporter dari berbagai daerah di luar kota yang sengaja merapat ke Bandung demi memberikan dukungan langsung.
Menghadapi ledakan permintaan yang tak terbendung, keluarga Arini meraih start lebih awal lewat manajemen stok yang rapi. Mereka pantang berspekulasi dengan menyiapkan barang secara mendadak.
"Kita biasanya stok barang dari jauh-jauh hari, bahkan sebelum musim Persib ramai. Kita sudah siapin sampai ribuan stok baju. Kalau mepet sebulan atau dua bulan sebelum laga, nyari bahannya susah banget," ujar Arini saat ditemui detikJabar.
Meski harga bahan baku kain terus merangkak naik dari tahun ke tahun, Arini memilih setia pada harga lama demi menjaga senyum para pelanggannya. Kaus-kaus dengan jaminan kualitas terbaik di lapaknya tetap dibanderol mulai dari Rp150.000.
Ketika ditanya soal menjamurnya saingan di kanan-kiri lapak, Arini hanya tersenyum tipis dengan pikiran yang positif. "Rezeki mah sudah ada yang mengatur, yang penting kita kasih kualitas terbaik," ucapnya optimis.
(sud/sud)
