Laga panas antara Persib Bandung dan Persija Jakarta di pekan ke-32 Super League 2025/26 tak hanya menyita perhatian karena drama di atas lapangan, tetapi juga karena sebuah spanduk yang terbentang di tribun.
Tulisan 'Kalah Jadi Cacing Menang Jadi Naga!' mendadak menjadi sorotan usai duel sarat gengsi yang berlangsung di Stadion Segiri, Samarinda, Minggu (10/5/2026).
Baca juga: Sisi Gelap Euforia Kemenangan Persib |
Spanduk itu dibentangkan suporter Persija Jakarta yang bertindak sebagai tuan rumah. Namun, setelah pertandingan berakhir dengan kemenangan Persib 2-1, kalimat tersebut justru ramai diperbincangkan publik dan viral di media sosial.
Sayangnya, hasil akhir pertandingan justru membuat spanduk itu berbalik menjadi bahan olok-olok di media sosial. Kemenangan Persib membuat frasa tersebut dianggap seperti bumerang bagi kubu pendukung Persija.
Lantas, apa sebenarnya makna di balik kalimat tersebut?
Ahli bahasa dari Universitas Kebangsaan Republik Indonesia, Dr. Mahmud Fasya, M.A., menilai bahwa secara linguistik penggunaan frasa itu merupakan bentuk ekspresi verbal yang lazim. Namun, maknanya menjadi jauh lebih kuat ketika ditempatkan dalam konteks rivalitas Persib kontra Persija.
"Dalam perspektif linguistik, penggunaan teks 'Kalah jadi Cacing, menang jadi Naga' merupakan ekspresi verbal yang wajar dan biasa. Namun, dalam konteks rivalitas antara Persib dan Persija, penggunaannya menjadi luar biasa," ucapnya saat dikonfirmasi detikJabar, Senin (11/5/2026).
Menurut Mahmud, teks tersebut memuat simbol yang sangat kuat tentang bagaimana hasil pertandingan dipersepsikan oleh kelompok suporter.
"Teks tersebut bermakna bahwa hasil pertandingan akan menentukan harga diri dan posisi simbolik kelompok masing-masing," ujarnya.
Ia menjelaskan, kata 'cacing' dan 'naga' bukan sekadar metafora acak. Keduanya merepresentasikan dua posisi yang sangat kontras dalam imajinasi sosial suporter. Dua kata itu juga seakan jadi gambaran atas hasil pertandingan.
"Jika kalah, kelompok tersebut akan dianggap rendah, lemah, dan tidak berdaya seperti 'cacing'. Sebaliknya, jika menang, mereka akan dipadang kuat, gagah, dan dihormati seperti 'naga'," kata Mahmud.
Dalam rivalitas panjang dua klub terbesar di Indonesia, simbol-simbol seperti ini kerap digunakan untuk membangun semangat sekaligus menegaskan identitas kelompok.
Mahmud menyebut, spanduk tersebut adalah bentuk komunikasi simbolik yang memperlihatkan betapa besar pertaruhan emosional dalam laga klasik ini.
"Dalam konteks laga Persib vs Persija, teks tersebut merupakan bentuk ekspresi rivalitas dan semangat suporter. Teks tersebut ingin menegaskan bahwa kemenangan akan mengangkat martabat dan kebanggaan kelompok, sedangkan kekalahan dianggap akan menjatuhkan gengsi kelompok," jelasnya.
Oleh karena itu, menurutnya, publik tak perlu menafsirkan kalimat tersebut kata per kata. Makna sebenarnya justru terletak pada simbol identitas sosial yang dibangun di baliknya.
"Jadi, teks tersebut bukan berbicara tentang hewan secara literal, melainkan berbicara tentang bagaimana kemenangan dan kekalahan akan memengaruhi identitas sosial, kebanggaan, dan citra kelompok suporter," pungkasnya.
(bba/orb)