Jabar Hari Ini: Heboh Lagu 'Erika' yang Mengguncang ITB

Jabar Hari Ini: Heboh Lagu 'Erika' yang Mengguncang ITB

Tim detikJabar - detikJabar
Rabu, 15 Apr 2026 22:02 WIB
Gedung kampus ITB Ganesa.
Gedung kampus ITB Ganesa (Foto: Dok ITB)
Bandung -

Berbagai peristiwa menarik terjadi di Jawa Barat hari ini Rabu (15/4/2026) beberapa diantaranya memantik perhatian pembaca detikJabar. Heboh lagu bermuatan pelecehan mahasiswa ITB, sejumlah titik banjir di Jawa Barat hingga permintaan maaf konten kreator berpakaian vulgar.

Berikut ringkasan berita yang dihimpun dalam Jabar hari ini,

Lagu Bermuatan Pelecehan Berujung ITB Minta Maaf

Kasus pelecehan seksual yang dilakukan belasan mahasiswa Fakultas Hukum (FH) Universitas Indonesia (UI) tengah menjadi sorotan. Di tengah riuh kasus itu, muncul cuplikan video Orkes Semi Dangdut (OSD) dari Himpunan Mahasiswa Tambang (HMT) Institut Teknologi Bandung (ITB) yang mengarah kepada hal-hal berbau seksual.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Potongan video penampilan OSD dari HMT-ITB itu memuat lirik lirik lagu yang dinyanyikan menjurus pada pelecehan terhadap perempuan. Kejadian ini membuat warganet geram, pasalnya hal ini dilakukan oleh mahasiswa yang diketahui merupakan kaum terpelajar. Warganet beranggapan, tidak ada kata maklum bagi pelaku pelecehan seksual, entah itu dilakukan dalam bentuk lagu atau sejenisnya.

Menyikapi kejadian ini HMT-ITB pun angkat bicara dan meminta maaf kepada publik.

ADVERTISEMENT

"Kami menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas beredarnya lagu yang menimbulkan keresahan publik. Kami sangat memahami dan menyadari sensitivitas isu ini dan menyampaikan keprihatinan serta empati kepada masyarakat, khususnya perempuan," tulis pernyataan resmi yang dimuat di website ITB.

Dalam pernyataan tersebut menyebutkan, Orkes Semi Dangdut HMT-ITB (OSD) merupakan salah satu unit kegiatan yang berada dalam lingkup HMT-ITB yang telah berdiri sejak tahun 1970-an, dan untuk lagu berjudul "Erika" dibuat pada tahun 1980-an.

"Kami menyadari bahwa ini merupakan suatu kelalaian untuk tetap menampilkan lagu tersebut dengan perkembangan norma sosial dan kesusilaan di masyarakat dewasa ini," tulis ITB.

"Kami dengan tegas mengakui bahwa konten dalam penampilan tersebut tidak mencerminkan nilai-nilai yang seharusnya dijunjung oleh lingkungan akademik dan organisasi kemahasiswaan. HMT-ITB dengan tegas menyatakan bahwa kami tidak membenarkan segala bentuk tindakan yang merendahkan martabat individu atau kelompok manapun," sambung pernyataan resmi.

Menyikapi kejadian ini, pihak ITB telah berkoordinasi dengan para pihak terkait untuk segera menurunkan (take down) konten video dan audio dari kanal resmi HMT-ITB serta penghapusan dari akun-akun individu yang terafiliasi, termasuk video tahun 2020 yang beredar di masyarakat.

"Kami melakukan evaluasi internal secara komprehensif terhadap konten, pelaksanaan, serta pengawasan kegiatan atas lagu terkait dan lagu yang mengandung unsur serupa, serta meninjau kembali standar dan pedoman kegiatan organisasi agar selaras dengan nilai-nilai etika yang berkembang di lingkungan Kampus ITB dan dalam masyarakat. Bandung, 15 April 2026 Himpunan Mahasiswa Tambang ITB," pungkas pernyataan resmi.

Banjir di Jawa Barat Jalan Tergenang - Sekolah Terpaksa Daring

Titik banjir menggunangi sejumlah lokasi di Kabupaten Bandung, mulai dari banjir yang menggenangi kawasan Jalan Cijapati, Cikancung Kabupaten Bandung kemudian banjir juga merendam Jalan Raya Sapan, Desa Tegalluar, Kecamatan Bojongsoang. Selain itu banjir juga membuat sejumlah sekolah melakukan pembelajaran secara online.

Akses Jalan Cijapati, Kecamatan Cikancung, Kabupaten Bandung terendam banjir selama tiga hari. Akibatnya, jalur penghubung perbatasan Bandung-Garut via Cijapati-Kadungora ini masih lumpuh bagi kendaraan roda dua.

Pantauan detikJabar pada Rabu (15/4/2026), genangan banjir di titik tersebut mencapai lutut orang dewasa.

Meski masih bisa dilintasi kendaraan roda empat, banyak sepeda motor yang mogok saat memaksa melintas. Pengendara dari arah Majalaya maupun Cicalengka disarankan menggunakan jalur alternatif.

Bagi pengendara dari arah Majalaya, Anda bisa menggunakan jalur alternatif via Cigentur-Cikancung dan akan keluar setelah Polsek Cikancung. Sementara dari arah Cicalengka, Anda dapat melalui jalur alternatif via Tanjunglaya-Cikancung dan akan keluar sebelum Polsek Cikancung.

Salah satu pengendara asal Garut, Imam (19), mengaku motornya mati total akibat nekat menerjang banjir. Ia menyebut baru pertama kali melintasi jalur tersebut sehingga tidak mengetahui kedalaman air.

"Gede banget banjirnya, selutut. Baru tahu banirnya, baru pertama kali, belum tahu jalan alternatif," katanya.

Serupa terjadi di akses Jalan Raya Sapan, Desa Tegalluar, Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, Rabu (15/4/2026). Aktivitas warga terhambat dan hanya bisa nebeng truk dan mobil bak terbuka untuk beraktivitas.

Pantauan detikJabar, kendaraan yang bisa melintasi jalan tersebut hanya menggunakan truk besar. Motor yang nekat memaksa melintas mogok dan hanya bisa dituntun oleh pengendaranya.

Beberapa warga yang beraktivitas pun menumpang kendaraan truk dan mobil bak terbuka. Kendaraan roda dua milik warga terpaksa disimpan di pinggir jalan depan sebuah pabrik yang belum terendam.

Banjir tersebut telah menggenang sepanjang Jalan Raya Sapan sejauh empat kilometer sejak Sabtu (11/4/2026) lalu. Genangan tersebut merupakan luapan dari Sungai Cikeruh hingga merendam jalan raya dan permukiman.

Genangan banjir itu merendam permukiman warga dengan rata-rata ketinggian 60 sentimeter sampai 100 sentimeter. Warga pun kesulitan beraktivitas dan hanya bisa pasrah.

"Banjir ini sudah masuk hari ke lima. Ketinggian sekitar 60 sentimeter lebih lah," ujar penjaga pabrik, Siregar (66), saat ditemui detikJabar di lokasi.

Sementara itu di Kota Bandung banjir yang melanda sejumlah wilayah membuat tiga sekolah terpaksa melaksanakan sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ) karena bangunan untuk belajar kebanjiran.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung Asep Gufron mengatakan, kebijakan tersebut diambil supaya memberikan rasa aman terhadap guru maupun siswa. PJJ menjadi alternatif kebijakan agar siswa masih tetap bisa mendapat asupan mata pelajaran seperti biasa.

"Per hari ini kami putuskan ada 3 sekolah di Kota Bandung yang PJJ. SDN 216 Sondariah di Gedebage, SMPN 54 di Panyileukan dan SMPN 46 di Cibiru," katanya saat dikonfirmasi detikJabar, Rabu (15/4/2026).

Banjir juga merendam SD Negeri Sapan 3, Kampung Sapan, Desa Tegalluar, Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, Rabu (15/4/2026). Kegiatan belajar mengajar ratusan siswa terpaksa dialihkan secara daring (online).

Pantauan detikJabar di lokasi, banjir menggenang seluruh area SD dengan ketinggian 60 sentimeter hingga 1 meter. Sejumlah bangku-bangku sekolah nampak dibereskan disimpan di atas meja.

Banjir tersebut merupakan luapan dari Sungai Citarik dan Sungai Citarum hingga merendam ke permukiman warga. Air banjir merendam masuk ke ruang-ruang kelas hingga ruang guru.

Ribuan warga juga terdampak banjir di Desa Tegalluar, Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, Rabu (15/4/2026). Ketinggian banjir rata-rata sekitar 60 sentimeter hingga 120 sentimeter di area permukiman.

Banjir menggenang Jalan Raya Sapan dan hingga ke permukiman warga. Para area permukiman, warga hanya bisa beraktivitas dengan perahu dan menembus genangan dengan seadanya.

Pada area jalan raya, kendaraan yang bisa melintasi jalan tersebut hanya menggunakan truk besar dan mobil bak terbuka. Sehingga warga tidak jarang menumpang kedua kendaraan tersebut untuk menerjang banjir.

Kendaraan roda dua milik warga terpaksa disimpan di pinggir jalan di depan sebuah pabrik yang belum terendam. Banjir di wilayah tersebut merupakan luapan dari Sungai Cikeruh, Sungai Citarik, dan Sungai Citarum.

"Kondisi banjir di Desa Tegalluar sangat memprihatinkan gitu, ya. Hampir kurang lebih sekitar wilayah Desa Tegalluar itu 75 persen ya terdampak banjir, terendam gitu," ujar Kepala Desa Tegalluar, Galih Hendrawan, saat ditemui di lokasi.

Pihaknya mengungkapkan, saat ini sebanyak 4.075 warga terdampak genangan banjir. Data tersebut direkap dari mulai air menggenang sejak Sabtu (11/4/2026) sampai dengan hari ini.

"Dari 6.700 warga, sebanyak 4.075 warga terendam banjir rumahnya," katanya.

Permintaan Maaf Konten Kreator Usai Berpakaian Vulgar di Kampung Adat

Polemik video pria berpakaian minim dalam prosesi adat di Kasepuhan Gelar Alam, Cisolok, Kabupaten Sukabumi, akhirnya berakhir dengan permohonan maaf.

Dua konten kreator yang terlibat, Mang Bono dan Mang Ayek, memberikan klarifikasi terbuka setelah aksi mereka menuai kecaman di media sosial.

Sebelumnya, video tersebut memicu gelombang kritik netizen karena dinilai tidak pantas dilakukan di lingkungan kasepuhan yang sakral. Insiden itu terjadi saat perhelatan khitanan putra kedua pimpinan tertinggi Kasepuhan Gelar Alam, Abah Ugi Sugriana Rakasiwi, pada Jumat (10/4/2026) lalu.

Diketahui saat kejadian, Mang Bono adalah penampil yang mengenakan pakaian minim bra perempuan dan celana dalam, sementara Mang Ayek saat itu berada di panggung. Video vulgar itu juga sempat diunggah oleh Mang Ayek sampai akhirnya dihapus.

Melalui video klarifikasi yang beredar luas di publik, Mang Bono, sosok pria yang berada dalam video tersebut, menegaskan bahwa penampilannya sama sekali tidak dimaksudkan untuk melecehkan budaya.

Ia mengaku murni hanya ingin meramaikan suasana agar tamu yang hadir terhibur.

"Tidak ada maksud untuk pelecehan atau bagaimana, karena tanpa disengaja tadinya ingin meramaikan suasana supaya terhibur, ternyata malah viral sekali. Saya minta maaf atas video terkait yang menyebar viral," ujar Mang Bono dalam video klarifikasinya yang dilihat detikJabar, Rabu (15/4/2026).

Mang Bono juga merasa keberatan dengan adanya pengunggahan videonya di media sosial. Ia pun meminta warga net yang sempat mengunggah videonya untuk segera menghapus konten tersebut.

"Saya tidak ada maksud melecehkan budaya. Itu tanpa sengaja, tadinya pikiran hanya ingin menghibur. Mohon dihapus sekali lagi demi Kasepuhan," tambahnya.

Sementara itu, Mang Ayek yang mendampingi Mang Bono di atas panggung memberikan penjelasan lebih rinci. Ayek mengaku hadir untuk memenuhi kewajiban pekerjaan (endorse) dan mengaku bahwa ini adalah pengalaman perdana mereka tampil di panggung kasepuhan.

"Kami tidak ada maksud menodai budaya. Saya sendiri tidak tahu kalau ada rencana konsep seperti itu (pakaian minim). Begitu naik ke panggung, saya kira Mang Bono akan memakai celana panjang saja," tutur Mang Ayek.

Ayek juga mengungkapkan bahwa Mang Bono mungkin tidak akan melakukan aksi tersebut jika tidak ada pihak yang menginstruksikan.

Setelah melihat respons negatif di media sosial, Ayek langsung berkoordinasi dengan rekannya, Pak Budi (BM), untuk menghapus semua postingan di Facebook maupun Instagram.

Eksploitasi Anak di Indramayu, Modus Kerja di Jakarta Malah Disuruh Live Mesum

Kasus memilukan terkait eksploitasi berbau seksual dan pornografi yang melibatkan anak di bawah umur sebagai objek konten dalam sebuah aplikasi live streaming, tengah merebak saat ini. Salah satunya terjadi di Kabupaten Indramayu.

Aparat kepolisian di Kabupaten Indramayu berhasil mengamankan pelaku atas tindakannya. Dalam konferaensi pers di Mako Polres Indramayu, Rabu (15/4/2026), Kapolres Indramayu, AKBP Mochamad Fajar Gemilang, mengungkapkan bahwa para pelaku menggunakan modus rekruitmen kerja di Jakarta untuk menjerat korban yang masih berusia di bawah umur.

Fajar menjelaskan, korban awalnya direkrut oleh tersangka NF (17), warga Kecamatan Terisi, Kabupaten Indramayu.

Sang korban dihadapkan dengan tawaran gaji Rp2 juta hingga Rp3 juta per hari untuk bekerja sebagai host di sebuah aplikasi. Di tengah sulitnya mencari pekerjaan, jelas itu adalah tawaran yang menggiurkan.

"Awalnya korban hanya diminta melakukan gerakan-gerakan sensual secara live. Namun, seiring berjalannya waktu, tepatnya di atas jam 22.00 WIB, korban dipaksa melakukan adegan persetubuhan yang disiarkan secara langsung untuk mendapatkan saweran (koin) dari penonton," jelas Fajar kepada awak media.

Namun pada akhirnya, korban tak mendapatkan gaji sesuai dengan yang ditawarkan. Saat ini korban dalam penanganan otoritas terkait, sedangkan kedua pelaku yang menjerat korban telah ditahan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya tersebut.

Proyek Plaza Gedung Sate - Gasibu Segera Dimulai

Aktivitas pembongkaran halaman Gedung Sate mulai terlihat. Paving blok yang selama ini menutup halaman di area depan bangunan ikonik tersebut satu per satu diangkat.

Pantauan detikJabar, Rabu (15/4/2026) pagi, alat berat juga telah dikerahkan untuk mempercepat proses pembongkaran.

Material lama dibongkar untuk memberi ruang bagi pembangunan plaza baru yang akan mengubah wajah kawasan Gedung Sate.

Sementara di area depan Gedung Sate, telah dilakukan pemagaran dengan besi yang dilapisi papan putih. Pemagaran dilakukan persis di sisi Jalan Diponegoro.

Langkah ini menjadi tahap awal dari proyek penataan Plaza Gedung Sate-Gasibu, yang sebelumnya telah diumumkan Pemerintah Provinsi Jawa Barat sebagai upaya mengintegrasikan kawasan dengan Lapangan Gasibu.

Dalam konsep yang telah dirilis, halaman depan Gedung Sate akan diubah menjadi plaza luas dengan desain terbuka. Kawasan ini nantinya tidak lagi terpisah oleh Jalan Diponegoro.

Plaza tersebut dirancang sebagai titik pusat kegiatan, termasuk seremoni kenegaraan, dengan penempatan tiang bendera di tengah area sebagai fokus utama.

Penataan ini juga berdampak pada fungsi Jalan Diponegoro yang selama ini menjadi pembatas antara Gedung Sate dan Lapangan Gasibu. Dalam rencana desain, ruas jalan tersebut akan diintegrasikan ke dalam kawasan plaza.

Selain itu, kawasan akan dilengkapi gerbang utama bergaya arsitektur khas serta ruang publik di sisi barat, lengkap dengan jalur pedestrian lebar dan ruang hijau.

Proyek penataan ini memiliki total anggaran Rp15,82 miliar, mencakup pekerjaan fisik serta jasa konsultasi perencanaan dan pengawasan.

Berdasarkan rencana, pengerjaan berlangsung mulai April hingga Agustus 2026, dengan cakupan area mencapai lebih dari 14 ribu meter persegi.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi angkat bicara soal rencana penataan kawasan Gedung Sate yang akan diintegrasikan dengan Lapangan Gasibu, termasuk perubahan fungsi Jalan Diponegoro.

Dedi menegaskan, konsep penataan tersebut bertujuan memperbaiki akses sekaligus mengatasi persoalan kemacetan yang kerap terjadi saat ada aktivitas besar di kawasan tersebut, termasuk aksi unjuk rasa.

"Pertanyaannya, kenapa harus dipisahkan?" Tujuannya agar akses halaman Gedung Sate-nya terbangun dengan baik. Saya begini deh, bayangin, bagaimanapun era demokratisasi melahirkan demonstrasi," ujar Dedi, Rabu (15/4/2026).

Menurut Dedi, selama ini penutupan Jalan Diponegoro saat aksi demonstrasi menjadi salah satu penyebab kemacetan parah di Kota Bandung.

"Nah, setiap terjadi unjuk rasa itu Jalan Diponegoro ditutup. Akhirnya terjadi kemacetan di Kota Bandung yang parah," katanya.

Ia memastikan, ke depan kondisi tersebut tidak akan terulang karena skema jalan akan diubah tanpa mengganggu aktivitas di halaman Gedung Sate.

"Sehingga nanti ke depan tidak akan pernah itu terjadi, karena Jalan Diponegoro-nya tetap terbuka, tidak akan terganggu oleh berbagai kegiatan di halaman Gedung Sate," tegasnya.

Halaman 2 dari 2
(wip/yum)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads