Tragedi Kanjuruhan dan Solidaritas dari Suporter Bayern Munich

Soccer Update

Tragedi Kanjuruhan dan Solidaritas dari Suporter Bayern Munich

Tim detikSport - detikJabar
Rabu, 05 Okt 2022 21:10 WIB
MUNICH, GERMANY - OCTOBER 04: 	Bayern Munich fans hold a banner during the UEFA Champions League group C match between FC Bayern M√ľnchen and Viktoria Plzen at Allianz Arena on October 04, 2022 in Munich, Germany. (Photo by Adam Pretty/Getty Images)
Suporter Bayern Munich mementangkan tulisan. (Foto: Getty Images/Adam Pretty)
Jakarta -

Tragedi Kanjuruhan memantik perhatian publik. Tak hanya di Indonesia, insiden mengerikan juga mengundang perhatian dari berbagai negara.

Sejumlah pertandingan di Eropa ada yang sengaja mengheningkan cipta hingga memakai pita hitam saat berlaga. Ini jadi bentuk solidaritas dan duka bersama di dunia sepak bola.

Salah satu solidaritas itu datang dari suporter Bayern Munich. Mereka juga melontarkan pesan menohok untuk para polisi yang dinilai bersalah dalam peristiwa tersebut.


Dikutip dari detikSport, spanduk dukungan untuk Aremania dibentangkan suporter Bayern sebelum laga Bayern melawan Viktoria Plzen di ajang Liga Champions, Rabu (5/10/2022) dini hari WIB.

Yang disoroti adalah polisi. Mereka mengkritisi tindakan polisi yang menembak gas air mata ke arah tribune.

"Lebih dari 100 orang dibunuh oleh polisi. Ingatlah para korban tewas di Kanjuruhan!" begitu bunyi spanduk yang ditampilkan suporter Bayern, bersamaan dengan acara mengheningkan cipta untuk mengenang 131 korban tewas, lebih dari 30 di antaranya anak-anak.

Tragedi Kanjuruhan terjadi usai Arema tumbang 2-3 dari Persebaya dalam lanjutan Liga 1 musim ini, Sabtu (1/10) lalu. Berawal dari kericuhan di dalam lapangan karena banyaknya suporter yang turun, polisi kemudian menembakkan gas air mata.

Tembakan ke arah tribune menimbulkan kepanikan di antara suporter yang kemudian berdesakan menuju pintu keluar. Banyak dari mereka sulit bernapas karena terkena langsung gas air mata. Kepanikan membuat penonton saling injak untuk keluar stadion.

Peristiwa ini mendapat sorotan internasional karena merupakan tragedi sepak bola dengan korban tertinggi kedua di dunia. Media luar negeri berbondong-bondong memberitakan kejadian ini. Pemerintah juga langsung turun tangan membentuk tim investigasi.

Sejauh ini, Komisi Disiplin PSSI telah menjatuhkan hukuman berat untuk Arema FC. Mereka didenda 250 juta dan harus berkandang 250 km dari Malang di sisa musim ini tanpa boleh dihadiri suporter.

Larangan beraktivitas seumur hidup di sepak bola juga dijatuhkan kepada Abdul Haris (ketua panpel Arema FC) dan Suko Sutrisno (kepala petugas keamanan Arema FC). Sementara di pihak kepolisian, Kapolres Malang AKBP Ferli Hidayat dan 9 komandan Brimob Polda Jatim dicopot dari jabatannya.

Artikel ini telah tayang di detikSport dengan judul Suporter Bayern Sebut Polisi Pembunuh dalam Tragedi Kanjuruhan

(orb/orb)