Baso Iga Mas Rodli yang Legendaris di Jalan Sulanjana Bandung

Baso Iga Mas Rodli yang Legendaris di Jalan Sulanjana Bandung

Nedzar Rabbany El Haq - detikJabar
Sabtu, 24 Okt 2026 13:00 WIB
Bakso Mas Rodil.
Nedzar Rabbany El Haq (Foto: Nedzar Rabbany El Haq/detikJabar)
Bandung -

Beberapa hari lalu, udara Kota Bandung terasa sejuk menemani pergerakan warga yang pulang bekerja. Di salah satu sudut pinggir Jalan Sulanjana, sebuah gerobak bakso kaki lima tampak sibuk. Empat orang berdiri mengantre giliran memesan, sementara sepuluh pembeli lain dari kalangan anak muda hingga orang tua tengah menikmati semangkuk bakso dan mi ayam di kursi yang tersedia.

Pemandangan ini menjadi bagian dari rutinitas harian di lapak Baso Iga Mas Rodli. Usaha kuliner kaki lima tersebut bukan pemain baru di Bandung. Berawal sejak 1992, bisnis keluarga ini kini dikelola oleh generasi ketiga dan terus menarik pelanggan dari berbagai kalangan di tengah maraknya pilihan kuliner baru.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Daya pikat bakso ini bermula dari persiapan panjang sebelum matahari terbit. Putri, anak pertama dari Mas Rodli yang kini meneruskan usaha tersebut, memulai hari pada pukul 03.30 WIB untuk berbelanja bahan baku ke pasar. Seluruh proses pembuatan bakso melibatkan anggota keluarga.

"Udah belanja itu kan jam 05.00 baru nyampe di rumah. Nanti ada yang nyetak baksonya, ada yang ngangkut barang-barang ke sini sama beresin mejanya," kata Putri.

ADVERTISEMENT

Putri memastikan seluruh bakso yang ia jual diproduksi baru setiap hari. Lapak ini beroperasi mulai pukul 10.00 WIB hingga persediaan habis, yang sering kali ludes sebelum waktu magrib. Dalam sehari, Putri bisa menjual lebih dari 100 porsi bakso.

Tulang Iga dalam Balutan Daging

Dengan rentang harga Rp11.000 hingga Rp23.000, pelanggan bisa memesan berbagai varian, mulai dari mi ayam, bakso kecil, bakso urat, bakso telur, bakso jumbo, hingga bakso iga. Varian terakhir merupakan menu andalan yang paling banyak dicari pembeli.

"Biasanya kan kalau bakso iga itu, bakso sendiri sama tulang iga sendiri. Ini tulang iganya dibungkus sama daging bakso," ujar Putri.

Lapak ini juga menyajikan potongan tetelan secara cuma-cuma kepada pembeli selama persediaannya masih ada. Untuk melengkapi hidangan, Putri mengandalkan resep keluarga pada bumbu kuah serta sambal hasil racikan sendiri yang membedakannya dari produk kemasan.

Baso Iga Mas Rodli.Baso Iga Mas Rodli. Foto: Nedzar Rabbany El Haq/detikJabar

Berpindah Tempat Sebelum Menetap

Perjalanan gerobak bakso ini memiliki riwayat panjang. Usaha tersebut dirintis pertama kali oleh kakek Putri pada 1992, yang kala itu berjualan di sekitar area swalayan Superindo. Setelah sang kakek beristirahat, Mas Rodli-ayah Putri-meneruskan tongkat estafet bisnis keluarga tersebut.

Mereka sempat berjualan keliling sebelum akhirnya menetap di Jalan Sulanjana sekitar tahun 2022.

"Covid pernah pindah ke depan yang sekarang jadi klinik mata. Cuman pas Covid udah mulai ini lagi, pindah lagi ke sini," tutur Putri.

Saat ini Putri dibantu suami dan adiknya melayani pelanggan. Berjualan di luar ruangan menuntut mereka tanggap menghadapi perubahan cuaca. Jika hujan turun, Putri dan keluarganya segera membentangkan terpal sebagai tenda pelindung yang ditarik menggunakan tiang penyangga di sekitar gerobak.

Merawat Ingatan Pelanggan

Konsistensi rasa dan harga yang bersahabat membuat Baso Iga Mas Rodli memiliki pelanggan setia. Antrean kerap mengular saat jam makan siang dan sore hari setelah waktu asar. Beberapa pembeli dari luar kota bahkan sengaja datang membawa tikar sendiri untuk makan di seberang jalan, atau memilih menyantap pesanan di dalam mobil saat kursi terisi penuh.

Kehadiran bakso ini turut membangkitkan kenangan bagi sebagian orang. Reni, salah seorang pembeli, sore itu datang bersama anaknya. Ia pertama kali mengetahui tempat tersebut dari media sosial.

"Sekarang karena lagi mau ke Balubur aja, ingat nostalgia," ucap Reni.

Reni menggemari bakso telur di tempat tersebut dan baru saja mencoba varian bakso iga. "Harganya murahlah, terjangkau dan nikmat" ujar Reni.

Di tengah tingginya minat pembeli dan panjangnya jam kerja yang menguras tenaga sejak subuh, keluarga Putri tetap menjalankan lapak kaki lima ini dengan pendekatan yang santai. Saat ditanya mengenai jadwal hari libur, Putri menjawab singkat sambil tertawa, "Kalau capek, libur aja."

(orb/orb)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads