Pedesan Entog Hj Artisem: Legenda Pedas di Jalur Pantura

Pedesan Entog Hj Artisem: Legenda Pedas di Jalur Pantura

Burhannudin - detikJabar
Minggu, 11 Okt 2026 18:00 WIB
Warung Pedesan Entog Hj Artisem, Desa Larangan, Kecamatan Lohbener, Kabupaten Indramayu.
Pedesan entog di Warung Pedesan Entog Hj Artisem, Desa Larangan, Kecamatan Lohbener, Kabupaten Indramayu. (Foto: Burhannudin/detikJabar)
Indramayu -

Bagi pencinta kuliner bercita rasa pedas, Indramayu memiliki sajian khas yang layak masuk dalam daftar untuk dicoba. Namanya pedesan entog, hidangan berbahan dasar hewan entok-sejenis unggas-yang dikenal memiliki perpaduan rasa pedas, gurih, serta tekstur daging yang empuk dan sedikit kenyal.

Kuliner ini cukup populer di kawasan Pantai Utara (Pantura), khususnya Indramayu, Cirebon, dan daerah sekitarnya. Sensasi pedas yang berpadu dengan lembutnya daging entok membuat sajian tersebut memiliki banyak penggemar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Salah satu tempat yang masih setia mempertahankan cita rasa pedesan entog adalah Warung Pedesan Entog Hj Artisem di Desa Larangan, Kecamatan Lohbener, Kabupaten Indramayu. Lokasinya berada tidak jauh dari ruas Jalan Raya Pantura Lohbener, sehingga cukup mudah ditemukan oleh warga maupun pelintas jalur Pantura.

Warung makan ini telah ada selama lebih dari dua dekade. Aldy (31), salah satu pekerja di tempat ini, mengatakan bahwa Artisem berjualan pedesan entog bukan sekadar mencari penghasilan, tetapi juga menjaga keberadaan salah satu kuliner tradisional khas Indramayu.

ADVERTISEMENT
Warung Pedesan Entog Hj Artisem, Desa Larangan, Kecamatan Lohbener, Kabupaten Indramayu.Warung Pedesan Entog Hj Artisem, Desa Larangan, Kecamatan Lohbener, Kabupaten Indramayu. (Foto: Burhannudin/detikJabar)

Ada satu hal yang membuat proses memasak di warungnya berbeda. Hingga kini, penggunaan kayu bakar ketika mengolah pedesan entog masih dipertahankan.

"Cara itu membantu mempertahankan aroma sekaligus cita rasa khas masakannya," ujar Aldy saat ditemui detikJabar di lokasi, Selasa (6/10/2026).

Penggunaan kayu bakar juga diyakini membuat daging entog menjadi lebih empuk. Tak heran jika warung yang berada di jalur strategis tersebut kerap didatangi pelanggan dari berbagai daerah.

Dengan harga sekitar Rp25 ribu per porsi, pedesan entog di tempat ini tidak hanya dinikmati masyarakat sekitar. Pelanggannya bahkan datang dari luar kota, mulai dari Bandung, Jakarta, hingga Sumatera.

Menurut Aldy, sejumlah pelanggan menilai pedesan entog di sini memiliki rasa yang berbeda dibandingkan sajian serupa di tempat lain. Bumbu yang kuat dan cita rasa khas menjadi alasan pelanggan kembali datang.

"Katanya seperti itu, alhamdulillah memang sampai hari ini masih ramai," tuturnya.

Sementara itu, melihat situasi di tempat tersebut, udara panas yang menjadi ciri khas Indramayu tampak tidak bisa dihindari. Namun, hal demikian tidak mengurangi antusiasme pengunjung untuk menyantap hidangan di lokasi.

Danisan (48), warga Kecamatan Lelea, yang mengaku berlangganan pedesan entog sudah cukup lama, diketahui sedang menyantap seporsi pedesan entog lengkap dengan sepiring nasi dan teh tawar hangat.

"Saya berlangganan di sini sudah lama sekitar tahun 2000-an awal. Biasanya saya belinya dibungkus buat makan di rumah, tapi kadang-kadang makan di tempat kayak sekarang," ungkapnya.

Katanya, yang paling ia sukai dari pedesan entog di sini adalah cita rasanya yang kaya akan rempah dan bumbunya yang meresap ke seluruh daging.

Tidak hanya itu, Danisan bahkan berani menasbihkan Warung Pedesan Entog Hj Artisem sebagai warung dengan pedesan entog paling enak di Indramayu.

"Ini paling enak. Di tempat yang tidak seperti ini. Yang belum ke sini harus ke sini coba rasanya," pungkas Danisan.

(orb/orb)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads