Sepiring Kudapan dan Cerita yang Tertinggal dari Gerwani

Sepiring Kudapan dan Cerita yang Tertinggal dari Gerwani

s - detikJabar
Kamis, 01 Okt 2026 11:33 WIB
Dua peserta Merawat Ingatan dari Sepiring Resep Gerwani tengah menuliskan kesan setelah mencicipi tiga kudapan, Rabu (30/9/2026).
Dua peserta "Merawat Ingatan dari Sepiring Resep Gerwani" tengah menuliskan kesan setelah mencicipi tiga kudapan, Rabu (30/9/2026). (Foto: Siti Nurhaliza Safitri)
Bandung -

Pernahkah terbersit dalam pikiran bahwa kudapan bisa berbicara soal perjuangan perempuan? Sambal tjuka, agar-agar buah, dan tahu pemberontak berperan sebagai lorong waktu ketika perempuan di seluruh Indonesia memiliki sebuah wadah untuk menyuarakan aspirasi.

Kudapan tersebut disajikan dalam rangka bincang petang bertema "Merawat Ingatan dari Sepiring Resep Gerwani" yang diadakan oleh Perpustakaan Bunga di Tembok, Rabu (30/9/2026). Sehubungan dengan itu, ketiga santapan digarap berdasarkan resep nenek moyang yang tercatat dalam sejumlah edisi majalah Api Kartini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Juru masak Derra Kitchen, Rani, menjelaskan resep kudapan yang ia buat berasal dari kolom masakan dalam majalah lawas tersebut. Rani mengaku kagum dengan konsep Api Kartini sebagai tempat aspirasi perempuan digemakan melalui hal familiar layaknya masakan dan tips rumah tangga.

"Selain membahas pergerakan, mereka juga seorang wanita yang tetap harus ngurus rumah, ngurus anak, ngurus masakan juga. Walau begitu, perempuan tetap diarahkan supaya melek terhadap politik dan apa yang sedang terjadi pada negara," ucap Rani saat diwawancarai.

ADVERTISEMENT

Api Kartini juga menyadarkan Rani betapa krusialnya pengaruh politik terhadap naik-turunnya harga bahan pangan. Ia menyadari bahwa selama ini perjuangan masyarakat menyuarakan aspirasi rupanya bersinggungan dengan aspek terkecil dalam kehidupan sehari-hari.

Setelah mencicipi kudapan, peserta bincang petang seolah ikut tersadar bersama Rani bahwa ada masanya perempuan dari Sabang hingga Merauke memiliki tempat menyuarakan hak yang dikenal sebagai Gerakan Wanita Indonesia atau akrab disapa dengan akronim Gerwani. Lantas, ke mana perginya kelompok itu sekarang?

Peneliti Sejarah Hanfa Azzahra menjelaskan hilangnya Gerwani merupakan konsekuensi dari Orde Baru yang juga bermula dari peristiwa genosida pada 1965-1966. Menurutnya, genosida tersebut tidak hanya memusnahkan masyarakat, tetapi juga melenyapkan pengetahuan, tradisi, dan budaya.

"Bukan cuman orang-orangnya, tapi arsip hingga buku semuanya dihilangkan. Jadi kita enggak tahu pemikiran mereka, apalagi orang-orang yang hadir di masa orde baru. Setelah reformasi baru muncul pemikiran apa sih yang hilang? Ini tuh propaganda bukan? Apakah sejarah yang diceritakan itu benar seutuhnya?" jelas Hanfa.

Kemudahan di era digital membawa angin segar sebagai upaya mengingat kembali perjuangan perempuan terdahulu melalui arsip sejarah yang tersisa. Walau begitu, Hanfa menyayangkan tidak meratanya kesempatan bagi masyarakat Indonesia, khususnya yang berada di luar Pulau Jawa, dalam mengakses arsip sejarah meskipun dalam bentuk digital sekali pun.

Keadaan tersebut kian mengerucutkan masyarakat menjadi kotak-kotak tertentu. Jika berkaca pada semangat Gerwani tempo dulu, ruang digital diharapkan bisa menjadi medium bagi aliansi perempuan di berbagai daerah untuk menggaungkan aspirasi.

"Dengan informasi-informasi alternatif yang hadir di ruang digital, perempuan jadi punya akses digital untuk menggunakan platform tersebut sebagai alat perjuangan yang baru," ungkap Hanfa.

(iqk/iqk)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads