Telur tetap menjadi primadona sumber protein masyarakat karena harganya yang ekonomis dan pengolahannya yang praktis. Meski begitu, perdebatan mengenai batas aman konsumsi telur harian masih sering mencuat di tengah masyarakat.
Melansir detikHealth, spesialis gizi klinik dr Igus Ulfa Yaze, SpGK, menjelaskan bahwa porsi ideal konsumsi telur bersifat personal. Menurutnya, jumlah telur yang boleh dikonsumsi harus disesuaikan dengan total kebutuhan protein harian masing-masing individu.
"Kalau ditanya maksimal untuk setiap orang, itu pasti beda-beda. Jadi kalau misalnya beberapa pasien, memang ada yang saya harus hitung juga nih proteinnya," kata dr Yaze.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut, dr Yaze menyebut telur dapat menjadi alternatif utama bagi mereka yang memiliki pantangan atau tidak menyukai sumber protein lain seperti ayam, tahu, maupun tempe.
"Kalau misalnya dia nggak suka makan ayam, terus nggak suka juga tahu tempe, akhirnya kita beralihnya ke daging, telur, atau beralih ke ikan," terangnya.
Terkait batasan jumlah, dr Yaze mengungkapkan bahwa konsumsi hingga lima butir telur dalam sehari sebenarnya masih dimungkinkan. Namun, angka ini bukan merupakan anjuran umum bagi semua orang, melainkan bergantung pada target nutrisi yang ingin dicapai.
"Jadi, kalau misalnya dibilang maksimal berapa, ya 5 bisa. Tergantung nanti hitungan protein yang dibutuhkan berapa untuk memenuhi target proteinnya orang tersebut," jelasnya.
Hal ini berarti konsumsi telur tidak bisa dilihat secara tunggal, melainkan harus mempertimbangkan komposisi menu harian secara menyeluruh. Jika kebutuhan protein sudah terpenuhi dari ikan atau daging, maka porsi telur sebaiknya disesuaikan agar tidak berlebihan.
Namun, ada catatan medis yang perlu diperhatikan. Dr Yaze memperingatkan bahwa konsumsi telur dalam jumlah banyak hanya diperuntukkan bagi mereka yang tidak memiliki masalah kesehatan tertentu, khususnya pada organ ginjal.
"Tapi kalau untuk kamu, memakannya 5 butir pun masih oke, selama tidak ada gangguan di ginjal atau riwayat gangguan ginjal," pungkas dia.
Pada akhirnya, menentukan batas aman makan telur memerlukan pertimbangan matang terhadap kebutuhan protein individu, variasi menu harian, serta rekam medis kesehatan masing-masing.
Artikel ini sudah tayang di detikHealth
(sao/dir)
