Menikmati Serabi Hangat di Bawah Bayang Tiga Gunung Garut

Menikmati Serabi Hangat di Bawah Bayang Tiga Gunung Garut

Hakim Ghani - detikJabar
Senin, 31 Agu 2026 11:30 WIB
Serabi di Garut
Serabi di Garut (Foto: Hakim Ghani/detikJabar)
Garut -

Kabut tipis masih menyelimuti kawasan Tarogong Kaler saat aroma gurih adonan tepung beras mulai menyeruak dari tungku-tungku tanah liat. Di Garut, memulai hari bukan sekadar soal mengisi perut, melainkan tentang meresapi ketenangan alam melalui sepiring serabi hangat.

Salah satu titik terbaik untuk menikmati momen ini adalah Surabi Eden. Kedai sederhana ini bertengger di Jalan Letjen Ibrahim Adjie, sebuah jalur yang sejak rampung dibangun pada 2022 lalu telah bertransformasi menjadi nadi kuliner baru di Kabupaten Garut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jalur sepanjang 6 kilometer ini menawarkan kemewahan yang sulit dicari di kota besar: hamparan sawah hijau yang membentang luas di sepanjang jalan.

Udara dingin khas pegunungan di sini cukup untuk membuat siapa pun merapatkan jaket, terutama saat fajar menyingsing atau ketika malam mulai larut. Namun, rasa dingin itu terbayar lunas oleh lanskap megah Gunung Cikuray, Gunung Guntur, dan Gunung Papandayan yang berdiri gagah menghiasi cakrawala saat langit sedang cerah.

ADVERTISEMENT

Di koridor Ibrahim Adjie, aktivitas kuliner seolah tak pernah tidur selama 24 jam. Namun, saat waktu sarapan tiba, serabi tetap menjadi primadona yang paling diburu di antara kepulan uap nasi kuning, bubur ayam, hingga lontong sayur.

Serabi di GarutSerabi di Garut Foto: Hakim Ghani/detikJabar

Surabi Eden mengambil posisi di lokasi yang terbilang premium, tepatnya di perempatan Rancabango. Titik ini diklaim memiliki sudut pandang panorama paling menawan dibandingkan spot lainnya di sepanjang jalan tersebut. Meski berbahan dasar sederhana-tepung beras dan santan-serabi di sini hadir dengan berbagai karakter rasa.

Pengunjung bisa memilih varian gurih dengan topping abon atau telur yang dipadukan dengan pedasnya sambal hijau dan merah. Bagi penyuka rasa manis, tersedia pilihan klasik seperti keju dan cokelat yang lumer di atas serabi panas. Meski hanya berjualan di lapak bersahaja, suasana yang ditawarkan sanggup membuat siapa pun betah duduk berlama-lama.

Andri, salah satu pengelola Surabi Eden, menceritakan jadwal operasional kedainya yang kini memasuki tahun kedua perjalanannya.

"Kita jualan sejak tahun 2025. Buka setiap hari, dari jam 6 pagi sampai jam 10 siang. Dilanjut lagi jam 5 sore, sampai jam 11 malam," ucapnya.

Kehadiran Surabi Eden memperkaya deretan penjaja serabi di sepanjang Jalan Letjen Ibrahim Adjie yang masing-masing menawarkan sensasi makan di tengah keasrian alam.

Namun, ada satu catatan bagi Anda yang ingin berkunjung, pilihlah hari Senin hingga Sabtu untuk mendapatkan suasana yang lebih tenang. Sebab, pada hari Minggu, kesyahduan tempat ini akan berganti dengan keriuhan pasar tumpah yang memadati kawasan tersebut.



(dir/dir)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads