Saat lampu-lampu pertokoan di Kota Bandung mulai padam dan sebagian besar warganya terlelap dalam mimpi, ada satu sudut di Jalan Stasiun Timur yang justru baru menggeliat. Di sana, kepul asap dan aroma gurih kentang goreng menyeruak di tengah dinginnya udara malam.
Inilah Perkedel Bondon, sebuah nama yang sudah kadung melekat sebagai destinasi kuliner malam paling ikonik di Kota Kembang.
Warung ini memiliki ritme hidup yang tak lazim. Ketika kedai lain tutup, Perkedel Bondon justru baru mulai menjajakan dagangannya di atas pukul 10 malam hingga menjelang subuh.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Waktu operasional yang "nyeleneh" ini bukan sekadar strategi bisnis, melainkan identitas yang telah mengakar selama puluhan tahun. Tak heran, antrean panjang pembeli yang terdiri dari warga lokal hingga wisatawan luar kota menjadi pemandangan lumrah setiap malamnya.
Di balik ketenarannya sekarang, terselip narasi sederhana tentang bagaimana kudapan ini lahir. Riska Diana (28), sosok generasi ketiga yang kini memegang tongkat estafet usaha ini, menceritakan bahwa perkedel legendaris tersebut diperkirakan sudah eksis sejak era 1980-an.
"Kalau tahun pastinya sih kurang tahu ya, karena kan dulu yang bikin nenek. Cuma kayaknya perkiraan sekitar tahun 80-an. Jadi ini generasi ketiga sekarang," ujar Riska saat ditemui belum lama ini.
Jauh sebelum viral dan diburu pelancong, perkedel ini lahir dari kebutuhan mendasar para pekerja di kawasan Stasiun Bandung. Kala itu, fasilitas di sekitar stasiun belum semodern sekarang, pilihan tempat makan malam hari sangat terbatas, dan jadwal perjalanan kereta antarkota pun belum sepadat saat ini.
Nenek Riska, yang awalnya membuka warung nasi biasa, kerap menerima permintaan khusus dari para pegawai Kereta Api Indonesia (KAI). Para masinis dan staf stasiun yang baru menyelesaikan sif kerja sekitar pukul 10 atau 11 malam sering kali kesulitan mencari pengganjal perut.
"Awal mulanya sebenarnya Perkedel Bondon ini dibikinnya enggak sengaja. Dulu di Stasiun Bandung masih jarang kereta antarkota, perjalanan jauh. Belum ada kantin juga," ungkapnya.
"Karena memang kalau mereka pulang jam 10 sampai jam 11 malam tuh belum ada makanan," lanjut Riska.
Sang nenek kemudian meramu resep perkedel kentang yang praktis, mengenyangkan, dan mudah dibawa. Tak disangka, camilan sederhana ini justru menjadi primadona. Popularitasnya meluas, tak hanya di kalangan internal pegawai kereta, tapi juga merambah ke warga yang masih beraktivitas di sekitar stasiun pada larut malam.
Asal-usul Nama 'Perkedel Bondon'
Menariknya, nama 'Bondon' sendiri bukan datang dari sang pemilik, melainkan lahir dari lisan para pelanggan. Pada masa itu, kawasan sekitar stasiun memang dikenal sebagai titik berkumpulnya para pekerja malam. Karena kedai ini baru beroperasi saat malam larut, sebutan tersebut perlahan melekat dan menjadi merek yang tak terpisahkan.
"Benar-benar karena konsumen sebenarnya. Karena kan awalnya tuh disediakan untuk masinis dan pegawai KAI yang lain. Karena memang buka-nya malam hari, dan di situ tahun itu banyak banget yang 'mangkal', akhirnyalah kecetus aja 'Bondon'," tutur Riska.
Riska Diana, pemilik Perkedel Bondon Bandung generasi ketiga Foto: Nur Khansa Ranawati/detikJabar |
Meski sempat memiliki nama resmi seperti 'Warung Nasi Emun' atau dikenal sebagai 'Perkedel Stasiun', lidah masyarakat rupanya lebih nyaman menyebutnya Perkedel Bondon.
"Nah tapi yang lebih populernya ya Perkedel Bondon. Jadi itu yang diangkat. Sempat juga mau dinamai Perkedel Bondon Warung Nasi Emun. Tapi yang terkenalnya Perkedel Bondon, ya udah kita ganti nama, nggak apa-apa," ucapnya.
Mempertahankan Tradisi
Hampir empat dekade berlalu, Riska memikul tanggung jawab besar untuk menjaga warisan rasa sang nenek. Salah satu tradisi yang haram untuk diubah adalah penggunaan arang kayu dalam proses penggorengan. Meski saat ini mencari pasokan arang bukan perkara mudah, Riska tetap bersikukuh demi mempertahankan aroma smoky yang khas.
"Sampai sekarang kita masih pakai arang, tetap dipertahankan. Karena kalau dimasak pakai arang dari kayu bakar itu jadi ada wangi asapnya, ada 'smoky'-nya," jelasnya.
Selain cara memasak, Riska juga enggan menggeser jam operasionalnya. Baginya, sensasi menyantap perkedel hangat di tengah kesunyian malam Stasiun Bandung adalah bagian dari nyawa usaha ini yang harus terus dipertahankan.
"Kita tetap harus pertahankan itu. Tetap di jam itu. Jam 10 malam baru buka," pungkasnya.
Simak Video "Menggugah Selera dengan Kuliner Istimewa di Bogor"
[Gambas:Video 20detik] (dir/dir)

