Sore di Jalan Sukamenak, Kecamatan Margahayu, Kabupaten Bandung, terasa sedikit berbeda pada Selasa, 25 Agustus 2026 ini. Karena bertepatan dengan tanggal merah, arus kendaraan dari arah Cibaduyut menuju Kopo Sayati tak sepadat biasanya.
Namun, ada satu hal yang tetap konsisten menggoda siapa pun yang melintas. Aroma gurih yang menyeruak dari sebuah wajan besar di salah satu kios camilan.
Sekilas, bentuk kudapan ini mungkin mengingatkan Anda pada serabi atau bakwan udang karena dicetak menggunakan centong sayur. Namun, ini bukan gorengan biasa. Inilah Bapiah Ayam Panas Pak Berryh, kuliner khas yang menetap di Jalan Sukamenak No 28, Desa Sukamenak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di balik kepulan asap wajan, ada Taufik (46), sang pemilik usaha yang sudah setia melayani pelanggan sejak 2019. Sambil tangannya lincah mengolah adonan, ia bercerita tentang akar kuliner yang ia geluti, yang ternyata merupakan hasil akulturasi budaya.
"Aslinya mah, semua makanan teh biasanya mah Hakka ya. Hakka tuh 'Hakka foods' sebenarnya. Cuman kan udah diakulturasi, kayak bakso, bacang, bakpau, tapi ini bahan bakunya pakai ayam dan halal," kata Taufik.
Nama 'Pak Berryh' sendiri diambil dari nama almarhum ayahnya, sosok yang pertama kali memperkenalkan kudapan ini kepada warga Bandung sejak tahun 1980. Dulu, sang ayah yang akrab disapa Mang Berryh sempat menimba pengalaman berjualan kuliner Hakka di kawasan Pasar Baru sebelum akhirnya membuka kedai sendiri di Jalan Sekeloa, Kopo.
"Asalanya dari almarhum bapak, masih warga Bandung juga. Cuman pengalaman beliau pernah berjualan makanan hakka di daerah Pasar Baru Bandung," ungkap Taufik.
Kini, estafet rasa itu terbagi dua. Taufik mengelola kedai di Sukamenak secara mandiri, sementara adiknya meneruskan jejak sang ayah di lokasi asli di Jalan Sekeloa. "Saya sudah pisah jualan sendiri, kalau yang di Sekeloa itu sama adik," tuturnya.
Proses pembuatannya pun tergolong unik dan membutuhkan ketelatenan. Taufik memulainya dengan memanaskan centong stainless berukuran besar dalam minyak mendidih. Setelah suhu dirasa pas, adonan tepung masuk, disusul irisan kucai, potongan ayam yang telah dibumbui, serta jamur, lalu ditutup kembali dengan lapisan tepung. Centong itu kemudian dibenamkan ke dalam minyak hingga bapiah terlepas dengan sendirinya.
"Bahan baku ya ini paling kucai, daging, terigu, jamur, dicampur," ucap Taufik sambil meniriskan bapiah yang sudah matang sempurna.
Satu hal yang sering memancing rasa penasaran pembeli adalah warna minyak gorengnya yang cenderung gelap. Taufik dengan cepat meluruskan anggapan bahwa minyak tersebut kotor. Menurutnya, warna itu muncul karena racikan bumbu rahasia yang sengaja dicampurkan ke dalam minyak demi menjaga tekstur dan rasa otentik bapiah.
"Minyaknya pakai yang bagus, cuman kita pakai bumbu lagi," ujarnya meyakinkan.
Setiap hari, Taufik bersama istrinya mampu memproduksi sekitar 200 keping bapiah. Dengan harga Rp9.000 per buah, pelanggan bisa memilih varian rasa original yang gurih atau versi pedas yang menggugah selera.
"Sehari sekarang paling 200 pcs, dijual Rp9.000," pungkasnya menutup perbincangan.
(wip/dir)
