Keraton Selagangga di Kelurahan Ciamis, Kabupaten Ciamis, biasanya terasa tenang. Namun, suasana berbeda terlihat pada Sabtu (8/8/2026). Sejumlah orang mengenakan pakaian khas Sunda dan busana adat dari berbagai daerah. Mereka berkumpul di salah satu tempat yang menyimpan jejak sejarah Tatar Galuh. Hadir juga sejumlah raja dari berbagai daerah perwakilan dari Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN).
Hari itu, Keraton Selagangga menjadi saksi sebuah prosesi adat. Pangistrenan Wawakil Kerajaan Galuh digelar untuk mengukuhkan Raden Rafiq Hakim Radinal sebagai Wawakil Kerajaan Galuh.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rafiq merupakan kakak dari Hanif Radinal, Wawakil Kerajaan Galuh sebelumnya yang telah wafat. Prosesi berlangsung dengan penuh simbol dan makna. Tidak sekadar pengukuhan, setiap tahapan membawa pesan tentang hubungan manusia dengan leluhur, keluarga, masyarakat adat, dan tanah Galuh.
Rangkaian Pangistrenan dimulai dengan deklarasi. Penandatanganan dilakukan oleh sejumlah unsur yang terlibat, termasuk perwakilan kabuyutan, Bupati Ciamis, Dewan Kebudayaan, serta Ketua Dewan Kebudayaan Ciamis.
Setelah deklarasi, Raden Rafiq menjalani prosesi meminta restu kepada keluarga. Ia melakukan sungkem kepada orang-orang terdekat sebagai bentuk penghormatan sekaligus permohonan doa sebelum menerima amanah. Prosesi kemudian berlanjut dengan penyiraman atau memberikan air kepada Rafiq.
Air yang digunakan bukan sekadar air biasa. Air tersebut berasal dari berbagai sumber keramat yang berada di wilayah Galuh Pangangauban. Wilayah Galuh Pangangauban dalam tradisi tersebut mencakup sejumlah kawasan, mulai dari Pangandaran, Banjar, Subang, Kawasen hingga Ciamis. Air dari berbagai tempat itu kemudian disatukan. Setelah itu, keluarga dan para kasepuhan melakukan prosesi menyipratkan air kepada Rafiq.
Maknanya pun cukup dalam. Air tersebut menjadi simbol restu dari para leluhur dan perwakilan masyarakat adat di berbagai wilayah Galuh Pangangauban.
Setelah prosesi air selesai, pengukuhan dilanjutkan dengan simbol Tri Tangtu di Buana yang terdiri dari Ratu, Rama, dan Resi. Dalam prosesi tersebut, Bupati Ciamis Herdiat Sunarya berperan sebagai Ratu. Ia menyerahkan bendo yang menjadi simbol mahkota kepada Raden Rafiq.
Sementara itu, Ketua DPRD Ciamis Nanang Permana menyerahkan keris Galuh sebagai simbol pusaka turun-temurun. Ketua Dewan Kebudayaan Ciamis Yat Rospia Brata kemudian menyerahkan pataka sebagai simbol Harsa Karsa.
Rangkaian simbol tersebut menjadi penanda bahwa Raden Rafiq resmi menerima amanah sebagai Wawakil Kerajaan Galuh.
Pangistrenan tersebut digelar setelah posisi Wawakil Kerajaan Galuh mengalami kekosongan selama sekitar dua tahun sejak Hanif Radinal wafat.
Panitia penyelenggara Jang Harja Adipati Lokasana mengatakan, pengisian kembali posisi tersebut dinilai penting agar Kerajaan Galuh tetap memiliki perwakilan dalam berbagai kegiatan budaya.
Salah satunya berkaitan dengan Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN). Dalam waktu dekat, forum tersebut akan menggelar kegiatan yang mempertemukan raja dan sultan dari kawasan Asia Tenggara.
"Memang ada kekosongan dua tahun. Kita harus ada yang mewakili Galuh di dunia internasional, salah satunya Asia Tenggara yang tergabung dalam Forum Silaturahmi Keraton Nusantara," kata Jang Harja.
Ia menyebut, kegiatan Gebyar Raja-Raja dan Sultan se-Asia Tenggara dijadwalkan berlangsung di Bogor pada 18 Oktober mendatang. Karena itu, pengukuhan Raden Rafiq dinilai menjadi bagian penting untuk memastikan Galuh tetap memiliki perwakilan dalam kegiatan tersebut.
"Kalau sekarang kita tidak melakukan ini, bagaimana? Tidak ada yang akan mewakili. Ini hanya simbol adat dan budaya, atau raja tanpa mahkota," ujarnya.
Raden Rafiq tidak serta-merta menerima amanah tersebut atas keinginan pribadi. Menurut Jang Harja, keputusan itu muncul setelah adanya permintaan dan restu dari masyarakat adat serta keluarga. Setelah mendapat dukungan tersebut, Rafiq akhirnya bersedia meneruskan peran yang sebelumnya dijalankan Hanif.
"Setelah ada restu dan permintaan dari masyarakat adat dan keluarga, beliau akhirnya bismillah menerima amanah ini. Jadi ini memang bukan keinginannya sendiri, tetapi dorongan dari berbagai pihak," tuturnya.
Rafiq kini membawa tugas untuk meneruskan perjuangan Hanif dalam menjaga adat, budaya, serta tradisi leluhur Kagaluhan.
Tugas itu bukan sekadar menjaga simbol kerajaan. Lebih jauh, amanah tersebut berkaitan dengan upaya menghidupkan kembali nilai-nilai Galuh agar tetap dikenal oleh generasi berikutnya.
"Untuk meneruskan perjuangan Pak Hanif di wilayah adat dan budaya serta tradisi tali paranti leluhur Kagaluhan. Melestarikan, menghidupkan Galuh," kata Jang.
Sementara itu, Bupati Ciamis Herdiat Sunarya menilai Pangistrenan Wawakil Kerajaan Galuh bukan sekadar kegiatan adat. Menurutnya, momentum tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga kebudayaan dan peradaban Tatar Galuh.
"Pengistrenan yang kita laksanakan pada hari ini bukan sekadar seremonial adat, melainkan sebuah momentum penting dalam upaya kita bersama untuk terus memajukan kebudayaan dan peradaban di Tatar Galuh," kata Herdiat.
Ia mengajak masyarakat kembali melihat jejak sejarah Galuh yang masih dapat ditemukan di berbagai wilayah Ciamis. Sejumlah situs seperti Karangkamulyan, Astana Gede Kawali, Borosngora Panjalu, hingga Jambansari menjadi bagian dari warisan sejarah yang menurutnya harus terus dirawat.
Situs-situs tersebut tidak hanya menjadi peninggalan masa lalu. Di dalamnya tersimpan pengetahuan mengenai bagaimana leluhur membangun kehidupan dengan kearifan, gotong royong, serta penghormatan terhadap alam dan sesama.
Herdiat menilai generasi muda perlu mendapat ruang untuk mengenal sejarah Kerajaan Galuh. Sejarah tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai pengetahuan tentang masa lampau, tetapi bisa menjadi sumber inspirasi dan kebanggaan untuk menatap masa depan.
"Generasi muda perlu diberikan ruang dan kesempatan untuk mengenal lebih dalam tentang sejarah Kerajaan Galuh, bukan hanya sebagai pengetahuan masa lalu, tetapi sebagai sumber inspirasi dan kebanggaan dalam membangun masa depan," ujarnya.
Pemerintah Kabupaten Ciamis juga mengapresiasi keterlibatan Forum Silaturahmi Keraton Nusantara, Dewan Keraton, Dewan Pakar dan Pengurus Pusat FSKN, Dewan Kebudayaan Ciamis, serta para seniman dan budayawan Tatar Galuh.
Herdiat berharap sinergi tersebut terus terjaga. Menurutnya, pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan banyak pihak agar warisan leluhur tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Herdiat menyampaikan ucapan selamat kepada Raden Rafiq Hakim Radinal yang telah menerima amanah sebagai Wawakil Kerajaan Galuh. Ia berharap Rafiq mampu menjalankan tugas tersebut dengan penuh tanggung jawab dan keteladanan.
"Semoga amanah yang diemban dapat dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab dan keteladanan sehingga mampu menjadi penggerak dalam pelestarian budaya. Sekaligus menjadi jembatan penghubung antara nilai-nilai luhur masa lalu dengan semangat kemajuan di masa kini dan masa yang akan datang," pungkasnya.
(sud/sud)
