Serunya Akulturasa, Ajang Eksperimen Kuliner Unik Mahasiswa ITB

Serunya Akulturasa, Ajang Eksperimen Kuliner Unik Mahasiswa ITB

Nur Khansa Ranawati - detikJabar
Sabtu, 20 Jun 2026 18:15 WIB
Kegiatan Akulturasa di Kampus ITB.
Kegiatan Akulturasa di Kampus ITB. (Foto: Nur Khansa Ranawati/detikJabar)
Bandung -

Bagi yang tengah berburu kuliner unik yang banyak digemari di Bandung, festival Akulturasa ITB menjadi agenda yang patut disambangi akhir pekan ini. Berbeda dari festival kuliner pada umumnya, Akulturasa juga menghadirkan pengalaman mencicipi makanan hasil riset dan inovasi mahasiswa ITB.

Acara tersebut digelar di area kampus ITB pada Sabtu-Minggu, 20-21 Juni 2026. Pengunjung bisa langsung memasuki area kampus secara cuma-cuma dan menemukan puluhan tenant makanan yang telah dikurasi, sambil duduk bersantai menikmati suguhan panggung musik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di hari pertama penyelenggaraannya, Sabtu (20/6/2026) menjelang siang, para pengunjung yang didominasi keluarga tampak asyik mencicipi sajian yang dihadirkan para tenant. Area rumput disulap jadi tempat piknik estetik dengan tikar dan meja-kursi kayu yang telah disediakan.

Berdasarkan pantauan detikJabar, tenant kuliner yang hadir tampak terkurasi dengan cukup baik. Pasalnya, makanan yang disajikan memiliki ciri khas dan keunikan masing-masing, bukan hanya jajanan yang lazim dijumpai di kaki lima. Beberapa bahkan merupakan bisnis skala rumahan yang menjual produk unggulan mereka.

ADVERTISEMENT

Beberapa di antaranya seperti es krim goreng dan es krim sandwich, daging brisket rumahan, kimchi keju, sandwich focaccia, nasi kebuli, berbagai roti pastry dari jenama lokal Bandung, aneka kopi dan matcha, beragam makanan sehat, dan banyak lagi.

Tak hanya makanan, Akulturasa juga menghadirkan aneka workshop kreatif yang bisa diikuti pengunjung. Terdapat pula sejumlah tenant yang menghadirkan produk-produk fesyen dan kecantikan ramah lingkungan hingga berbagai kerajinan tangan menarik.

Kegiatan Akulturasa di Kampus ITB.Kegiatan Akulturasa di Kampus ITB. (Foto: Nur Khansa Ranawati/detikJabar)

Ajang Pamer Inovasi Pangan Mahasiswa

Dari puluhan tenant yang hadir, terdapat satu booth yang banyak mengundang rasa penasaran pengunjung. Di dalamnya terdapat mahasiswa ITB yang tengah meracik masakan dengan bahan dasar yang unik, yakni aneka pangan hasil fermentasi.

Mulai dari camilan stik dan sambal udang, jahe susu creamy, hingga olahan fermentasi ubi ungu yang dikemas menjadi gorengan dan sandwich. Uniknya, ubi tersebut telah difermentasi sehingga mengeluarkan cita rasa yang sangat mirip dengan tape singkong.

Jahe creamy pun tak kalah menarik. Minuman tersebut merupakan campuran susu yang dipadukan dengan irisan jahe merah yang juga telah difermentasi. Rasanya serupa susu jahe dengan cita rasa yang lebih creamy dan segar.

Rufaida, mahasiswi Mikrobiologi Sekolah Ilmu Teknologi Hayati (SITH) ITB angkatan 2022, menjelaskan sebagian besar produk yang dipamerkan berasal dari praktikum mahasiswa SITH semester enam. Tiap tahunnya, mereka diminta untuk menghasilkan produk pangan yang inovatif.

"Tiap tahun output praktikum ini membuat makanan. Produknya selalu berbeda-beda," ujarnya.

Tahun ini, mereka ditantang untuk dapat membuat inovasi dari teknik fermentasi. Untuk produk tape misalnya, Rufaida mengatakan, mereka mencoba mengganti bahan bakunya menggunakan ubi ungu.

"Kita substitusi singkong menjadi ubi ungu karena ubi ungu punya indeks glikemik yang lebih rendah dan kandungan antioksidannya lebih baik. Starter yang digunakan sama, lalu difermentasi selama tiga hari menggunakan ragi tape," kata Rufaida.

Kegiatan Akulturasa di Kampus ITB.Kegiatan Akulturasa di Kampus ITB. (Foto: Nur Khansa Ranawati/detikJabar)

Pendekatan tersebut juga diterapkan pada produk acar jahe yang dinamai "Segari". Bila biasanya acar jahe berwarna putih atau merah muda karena menggunakan pewarna, kali ini mahasiswa memanfaatkan ekstrak bit untuk menghasilkan warna alami.

"Biasaya warna pink-nya itu pakai pewarna. Di sini kita pakai ekstrak bit dan diolah lagi agar tidak pahit. Proses fermentasinya ditambah dengan bakteri lactobacillus agar lebih terkontrol," paparnya.

Produk-produk fermentasi hasil eksperimen mahasiswa tersebut juga dipajang di area Aula Timur ITB. Pengunjung bisa membeli produk yang tersedia dengan harga yang bersahabat.

Wakil Rektor Bidang Komunikasi, Kemitraan, Kealumnian, dan Administrasi ITB Rikrik Kusmara mengatakan, Akulturasa merupakan upaya kampus menghadirkan hasil riset yang dapat dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat. Menurutnya, salah satu misi utama ITB adalah menjadi kampus yang berdampak.

"ITB memiliki beberapa bidang ilmu seperti SITH, Fakultas Teknologi Industri, Sekolah Farmasi, dan FSRD yang punya fokus penelitian dan inovasi di bidang makanan. Maka kami sepakat memunculkan itu sebagai isu keberdampakan ITB kepada masyarakat dan industri UKM," katanya.

Ia mengatakan, Akulturasa merupakan festival yang menggabungkan kolaborasi berbagai unsur. Mulai dari perguruan tinggi, peneliti, mahasiswa, alumni, pelaku usaha, hingga masyarakat umum.

"Di belakangnya ada kegiatan riset dan inovasi. Ini adalah gabungan itu semua, bagaimana riset dan inovasi bisa menjadi inspirasi dan bibit-bibit baru pengembangan UKM di Indonesia serta mendukung ketahanan pangan Indonesia," ujarnya.

Ia mengatakan, sebagian alumni ITB memiliki usaha kuliner dan UMKM yang unik. Karena itu, mereka turut dilibatkan dalam festival ini sehingga masyarakat bisa melihat berbagai potensi yang lahir dari ekosistem kampus.

"Kampus jangan menjadi tempat yang steril, tetapi juga menjadi tempat kebudayaan. Kami ingin masyarakat datang, melihat, mencoba, dan mendapatkan inspirasi," katanya.

Bagi masyarakat yang ingin mencicipi berbagai kuliner unik dengan suasana santai, Akulturasa dapat dikunjungi hingga Minggu (21/6/2026) di area kampus ITB sejak pagi hingga sore hari. Acara tidak dipungut biaya.

(orb/orb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads