Manisnya Es Cuntang dan Mimpi Besar Ainun di Karawang

Serba-serbi Warga

Manisnya Es Cuntang dan Mimpi Besar Ainun di Karawang

Irvan Maulana - detikJabar
Kamis, 04 Jun 2026 09:00 WIB
Ainun Nazwa saat melayani pembeli Es Teh Cuntang di Kelurahan Karawang Wetan, Kabupaten Karawang
Ainun Nazwa saat melayani pembeli Es Teh Cuntang di Kelurahan Karawang Wetan, Kabupaten Karawang (Foto: Irvan Maulana/detikJabar)
Karawang -

Matahari Karawang sedang garang-garangnya meski sudah sore hari, panas tak kunjung mereda. Di sudut Kantor Kelurahan Karawang Wetan, Jalan Soka, Kecamatan Karawang Timur, deru mesin kendaraan yang lalu lalang memekakkan telinga beradu dengan kepulan debu jalanan.

Namun, di balik hiruk-pikuk tersebut, sebuah senyum ramah menyambut siapa saja yang menepi. Senyum itu milik Ainun Nazwa. Gadis berusia 17 tahun ini bukanlah remaja biasa yang menghabiskan waktu luang dengan sekadar berselancar di media sosial.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Alumnus SMK Negeri 2 Karawang asal Desa Tamiang, Kecamatan Rawamerta, Kabupaten Karawang ini memilih berdiri di balik meja kayu, meracik kesegaran Es Cuntang untuk para pelanggan setianya.

Langkah Ainun untuk terjun ke aspal sebagai wirausahawan muda diambil dengan penuh kesadaran. Baginya, menunggu usia yang cukup untuk masuk ke dunia industri bukanlah alasan untuk berdiam diri di rumah.

ADVERTISEMENT

"Aku pengen ngisi waktu luang setelah lulus sekolah. Karena aku juga belum cukup umur buat kerja di pabrik, di rumah juga bosen, jadi lumayan buat penghasilan," ujar Ainun saat ditemui detikJabar, di lapak dagangannya, Rabu (3/6/2026).

Menjadi produktif di usia belia adalah cara Ainun mengejawantahkan bakti kepada keluarga. Ia sadar betul bagaimana sang ayah harus memeras keringat di bengkel furnitur, seperti membuat jendela, pintu, lemari, untuk mencukupi kebutuhan keluarganya, sementara ibunya bergelut dengan asap dapur sebagai penjual seblak di kampungnya, Desa Tamiang, yang berjarak sekitar 20 kilometer dari lapak dagangannya.

Melalui lapak sederhana yang menyajikan perpaduan Es Cuntang yang dingin dengan berbagai kreasi topping-nya, Ainun mencoba memahat kemandiriannya sendiri. Ia tak ingin hanya menjadi penonton di tengah perjuangan ekonomi orang tuanya.

"Papah kerja jadi tukang kayu, mamah jualan seblak di rumah, jadi aku juga pengen memanfaatkan waktu luang ini buat cari penghasilan tambahan, terlebih lagi aku juga punya adik yang sekolah SMP," ungkap Ainun.

Ritme hidup Ainun kini diatur oleh jam operasional lapaknya. Saban hari, sejak pukul 07.00 WIB ia sudah berangkat dari rumahnya mengendarai skuter matik miliknya untuk membuka lapak dagangannya di Kelurahan Karawang Wetan. "Buka tiap hari, saya berangkat dari rumah jam 7 pagi, sampai sini jam 8, tutup sekitar jam 8 atau jam 9 malem," paparnya.

Meski harus berdiri berjam-jam dan menghadapi beragam tabiat pembeli, tak ada raut lelah yang berlebihan. Ainun justru menemukan kebahagiaan di tengah keriuhan pelanggannya.

"Sukanya itu pas ramai, dagang jadi seru. Kita harus bisa kerja buat pelanggan, tapi kadang juga sepi, dan itu bagian dari proses sih," ucap Ainun, sembari mengelap meja dagangannya.

Dalam sehari rata-rata Ainun bisa menjual 60-80 cup Es Cuntang buatannya, untuk harga antara Rp4 ribu sampai dengan Rp7 ribu per porsi, tergantung topping dan varian rasa. "Kalau harganya Es Teh Cuntang Original Rp4 ribu, kalau Es Teh Melati Rp5 ribu, Es Susu Rp6 ribu, ada juga yang toping milo Rp7 ribu, sehari rata-rata laku 60 porsi, kalau rame bisa 80-100 porsi," papar Ainun.

Dari rata-rata hasil berjualan Es tersebut, Ainun rata-rata bisa mengantongi uang Rp100 ribu sehari, setelah dipotong biaya makan dan modal dagangan. Uang itu setengahnya ia tabung untuk keperluan dirinya mencari pekerjaan di tahun depan.

"Untung sehari rata-rata ada lah Rp100 ribu, itu udah bersih sisa makan, sisa modal. Uang itu juga saya tabungin setengahnya, karena saya juga perlu modal buat cari kerja tahun depan," ucapnya.

Kisah Ainun Nazwa adalah potret kecil tentang ketangguhan generasi muda di Karawang. Di tengah tembok tinggi persyaratan industri formal, ia membangun jalannya sendiri dengan kreativitas dan niat mulia.

Es Cuntang di Karawang Wetan itu kini bukan sekadar pelepas dahaga di tengah cuaca ekstrem, melainkan simbol tentang bagaimana sebuah kemandirian dari seorang gadis bermula dari keberanian untuk mencoba.

(iqk/iqk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads